First Flight / Bab 1
Kota kecil, tiga minggu sebelum keberangkatan.
Arka Pratama selalu percaya bahwa langit menyimpan sesuatu yang tidak bisa diberikan bumi.
Bukan karena langit lebih indah. Bukan pula karena awan yang bergerak perlahan menyerupai lukisan yang tidak pernah selesai. Baginya, langit adalah tempat bagi segala sesuatu yang belum pernah ia miliki.
Kebebasan, mungkin.
Atau kemungkinan.
Setiap sore, setelah membantu ayahnya membereskan perkakas bengkel, Arka akan duduk di tepi jendela kamarnya. Dari sana, ia bisa melihat jalan utama kota kecilnya, deretan rumah beratap merah, serta bukit-bukit hijau yang membatasi cakrawala.
Dan sesekali, jika cuaca cerah, sebuah pesawat melintas jauh di atas sana.
Kecil sekali.
Hanya seperti titik putih yang perlahan menghilang di balik awan.
Namun, Arka selalu menghentikan apa pun yang sedang dilakukannya setiap kali melihat benda itu.
“Masih saja melihat pesawat?”
Suara ibunya membuat Arka menoleh.
Perempuan itu berdiri di ambang pintu sambil membawa setumpuk pakaian yang baru selesai disetrika. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
“Suatu hari nanti, aku akan naik itu, Bu.”
Ibunya tertawa kecil.
“Naik pesawat memang cita-cita yang aneh.”
“Kenapa aneh?”
“Karena biasanya orang bercita-cita menjadi dokter, guru, atau pengusaha. Kamu malah ingin duduk di dalam pesawat.”
Arka ikut tertawa.
“Kalau aku jadi dokter, memangnya aku tidak boleh naik pesawat?”
“Boleh. Asalkan jangan lupa pulang.”
Kalimat terakhir itu terdengar sederhana. Saat itu, Arka belum mengerti bahwa kelak ia akan terus mengingatnya.
Tiga minggu kemudian, sebuah amplop putih tiba di rumah mereka.
Arka baru pulang dari bengkel ketika melihat ayahnya duduk di ruang tengah. Amplop itu terletak di atas meja, tepat di samping gelas kopi yang sudah dingin.
“Ada surat untukmu,” kata ayahnya.
Arka mengambil amplop tersebut.
Namanya tercetak jelas di bagian depan.
Ia membukanya dengan tangan yang tiba-tiba terasa dingin.
Satu halaman.
Dua halaman.
Lalu ia membaca kalimat itu sekali lagi, memastikan bahwa matanya tidak sedang mempermainkannya.
Ia diterima.
Beasiswa penuh di sebuah universitas di Jakarta.
Untuk beberapa detik, Arka tidak mampu mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri memandangi surat itu, sementara suara televisi dari rumah tetangga terdengar samar-samar.
Ibunya muncul dari dapur.
“Bagaimana?”
Arka mengangkat surat tersebut.
“Bu, Yah… aku diterima.”
Ibunya menutup mulut dengan kedua tangan. Ayahnya berdiri perlahan, membaca surat itu dari balik bahu Arka.
Tidak ada sorakan besar. Tidak ada perayaan mewah.
Hanya pelukan panjang di ruang tengah yang sederhana.
Malam itu, mereka makan lebih lama daripada biasanya. Ayahnya bercerita tentang masa mudanya, ibunya berkali-kali mengingatkan Arka agar menjaga kesehatan, dan Arka sendiri tidak berhenti membayangkan kehidupan yang menantinya.
Jakarta.
Kampus baru.
Orang-orang baru.
Dan bandara.
Ia akan menaiki pesawat untuk pertama kalinya.
Namun, di tengah kegembiraannya, ada satu hal yang belum berani ia katakan.
Ia takut.
Takut gagal. Takut tidak mampu bertahan. Takut mengecewakan orang tuanya setelah mereka mengorbankan begitu banyak hal untuk dirinya.
Lebih dari itu, ia takut menemukan kenyataan bahwa dunia yang selama ini ia impikan ternyata tidak seindah yang dibayangkannya.
Malam sebelum keberangkatan, Arka tidak bisa tidur.
Koper biru tergeletak di lantai. Pakaian sudah dilipat rapi, dokumen disimpan dalam map, dan tiket penerbangan tercetak di atas meja.
Pukul lima pagi, ia harus berangkat menuju bandara.
Ia membuka jendela kamar.
Udara malam menyentuh wajahnya. Dari kejauhan, terdengar suara sepeda motor melintas di jalan yang hampir kosong.
Arka menengadah.
Langit gelap. Tidak ada pesawat yang terlihat.
“Besok,” bisiknya.
Ia tidak tahu apakah ia sedang berbicara kepada langit atau kepada dirinya sendiri.
“Besok aku akan melihatmu dari dekat.”
Untuk pertama kalinya, mimpi yang selama ini terasa begitu jauh kini menunggu hanya beberapa jam di depan mata.
Dan justru karena itulah, Arka merasa takut.
Sebab selama sebuah mimpi masih berada di kejauhan, seseorang bebas membayangkan apa saja.
Namun, ketika kesempatan untuk mewujudkannya akhirnya datang, ia harus siap menghadapi kenyataan.
Arka menutup jendela.
Ia mematikan lampu.
Besok pagi, hidupnya akan berubah.
Setidaknya, itulah yang ia harapkan.
Komentar (0)
- Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
