Saat kehilangan akses listrik dan internet, lampu mati di rumah apa yang akan anda lakukan? Tentunya setiap orang akan mencari solusi untuk tetap bertahan di dalam kegelapan, mereka akan mencari cara bagaimana caranya tetap beraktivitas meskipun hanya dengan penerangan yang terbatas. Namun apa yang akan anda lakukan ketika mati lampu di rumah, dan akses internet terputus selama 24 jam penuh?
Dua hari yang lalu, hujan lebat dan angin kencang melanda daerah tempat tinggal saya. Internet dan listrik putus akibat pemeliharaan jalur yang dilakukan oleh PLN. Menurut berita yang beredar, kejadian ini diakibatkan oleh angin dan hujan lebat yang mengakibatkan banyak pohon tumbang dan menimpa kabel listrik di jalur utama.

Pemeliharaan yang dilakukan oleh PLN membuat dua dusun di desa kami mengalami pemadaman listrik selama 24 jam lebih. Saya sekeluarga mengalami keadaan terparah dalam sejarah kami berkeluarga. Baru kalau kali ini kami mengalami putus listrik dan internet selama hampir 2 hari lamanya.
Pemadaman listrik membuat akses internet putus, mesin air tidak berfungsi, dan proses memasak menjadi manual. Namun di tengah banyaknya kekurangan selama 24 jam pemadaman listrik ini, tentunya ada banyak hal yang dirasa lebih baik. Hilangnya akses internet justru membuat hubungan keluarga kami lebih hangat waktu itu, karena kami mengisi hari dengan momen-momen yang lebih berarti.
Kecepatan dan kemudahan mungkin hilang saat akses internet dan listrik hilang. Namun justru sesuatu yang lambat itu membuat keluarga kami lebih intim dan hangat. Saat mengalami mati lampu dan putus akses internet, nilah 4 hal yang dilakukan saat mati lampu oleh keluarga kami untuk mengisi waktu.
1. Bercerita dan Membuat Dongeng Baru
Mengisi waktu dengan bercerita sudah sangat jarang dilakukan oleh keluarga kami. Momen-mondongeng pun, biasanya hanya anak saya dapatkan jika ia sedang dalam momen belajar atau di waktu-waktu sebelum tidur di malam hari. Namun saat mati lampu dan hujan lebat kemarin, kami lebih fokus di rumah saja dan mengisi waktu dengan membuat cerita.
Suami saya menceritakan fabel yang lebih beragam dan mengikuti imajinasi anak. Kami saling bertukar cerita satu sama lain, dan memberi kesempatan kepada anak kami untuk menceritakan apa yang dia bayangkan dan apa yang dia rasakan. Jadi selama 24 jam mati lampu itu, kami sekeluarga banyak mendapatkan momen-momen hangat bersama anak.
2. Bercengkrama dengan Tetangga
Saat mati lampu dengan durasi yang sangat lama, membuat orang merasa jenuh karena mereka harus diam di rumah dan tanpa listrik dan internet. Terputusnya akses itu membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Mereka yang berjualan online, konten kreator, dan mereka yang bekerja dari rumah.
Saat itu orang lebih banyak menghabiskan waktu tanpa ponsel, tanpa televisi dan tanpa laptop. Kami merasakan hal yang sama dan kami menyadari bahwa momen ini terlalu bosan jika dijalani hanya dengan diam di rumah saja. Salah satu usaha yang dilakukan untuk mengusir suntuk dan bosan itu adalah berkumpul di salah satu beranda rumah tetangga kami.
Di sana tanpa rencana, tetangga membakar singkong lalu mengajak kami memakannya bersama. Kami bercerita lebih banyak, bercengkrama, dan bercanda sambil makan singkong ditemani teh hangat. Tidak ada satu orang pun yang menggunakan ponsel saat itu, jadi interaksi sesama manusia benar-benar terjadi.
3. Lebih Banyak Berkegiatan
Saat manusia terbiasa bergantung dengan listrik dan internet, mereka biasanya akan dimanjakan dengan banyaknya hiburan dalam genggaman dan berkegiatan yang serba mudah. Seperti keluarga kami yang sering menonton televisi dan video-video singkat di internet. Saat mati lampu kemarin kebetulan dilaksanakan kegiatan organisasi di kampung yang ternyata didatangi lebih ramai dari biasanya.
Lebih banyak orang yang antusias karena mereka juga ingin mengisi waktu mereka karena suntuk di rumah. Positifnya adalah, kita bisa menjadi lebih berinteraksi dengan tetangga dan anggota komunitas lain. Kebetulan beberapa hari ke belakang, telah dilaksanakan kegiatan PKK yang digelar di balai dusun.
Saya mengikuti kegiatan PKK dan berinteraksi dengan ibu-ibu dari RT dan RW lain. Sembari itu suami saya mengajak anak berjalan-jalan sekitar rumah dan jajan sore hari. Kami beraktivitas seerti biasa meski tanpa listrik dan internet.
4. Memasak dan Berkreasi di Dapur
Saat mengalami mati lampu, tentunya keluarga kami kehilangan banyak kemudahan, salah satunya adalah kemudahan dalam memasak nasi. Keluarga kami memang terbiasa memasak nasi di rice cooker, tentunya saat kehilangan akses listrik kemudahan itu juga ikut hilang. Kami dituntut untuk memasak dengan cara yang manual, memasak nasi tidak dengan klik tapi mengolahnya di atas kompor.
Meski terkesan lama, tapi memasak nasi dengan mengukusnya membuat nasi lebih pulen dan tentunya lebih wangi. Sambil mengisi waktu di tengah rangkaian memasak nasi yang manual ini, tentunya kami melewatkan waktu yang kosong. Waktu yang kosong itu kami gunakan untuk membuat hidangan lain, seperti camilan dan lauk yang dipersiapkan untuk keluarga. Kami juga membuat gorengan, rebus-rebusan banyak lagi kreasi dapur lainnya.
Meskipun harus dengan perasaan sabar dan minim penerangan, tapi kebersamaan itu membuat kami lebih hangat, akrab dan lebih harmonis. Itulah yang keluarga kami lakukan saat mengalami putus listrik dan internet selama 24 jam lebih. Jika terjadi hal yang sama, apa yang akan anda lakukan?
