Sumber gambar Bing Image Kreator Ai
Rasa takut akan kehilangan saat mata hari tenggelam pada suatu senja. Aku menatap nyalang sebuah rumah bordil di sudut kota yang sangat terpencil. Sebuah rumah besar dengan jendela-jendela penuh cahaya. Rumah yang memantik rasa penasaranku kian menebal.
Rumah bordil itu memang di kucilkan atau sengaja mengucilkan diri, agar tidak satu orang pun yang tahu keberadaannya. Hanya di peruntukan bagi mereka yang pandai menyimpan rahasia. para bandar, cukong dan bos-bos yang entah berasal dari mana.
Biasanya bos-bos kaya itu akan menyempatkan waktunya melepas penat setelah seharian mengurus kerajaan bisnis. Membuka sebotol minuman yang di sajikan para bidadari dunia pelepas dahaga birahi yang ingin segera di tuntaskan.
Tak lagi mereka mengngingat akan sebuah larangan dari Tuhannya. Bagi mereka uang adalah segalanya bahkan hukum halal dan haram pun, seakan bisa di beli.
Kudengar suara seruling mendayu dan meliuk-liuk, serupa musik padang pasir, di antara sinar lampu berwarna jingga yang bergelantung di langit-langit. Asap tipis berasal dari sebuah shisha yang di biasa di gunakan para juragan kaya.
Dengan langkah mengendap aku menuju ke rumah bordil itu, rasa keingintahuanku yang mendalam mengalahkan rasa takut dalam diri. Kabar yang kudengar jika penghuni rumah bordil itu wajahnya tidak dapat di lihat. Penasaranku kian mengigit. Melipir ke tepi jendela besar tanpa tralis, hanya tertutup oleh kain tile yang tipis.
Bukankah karena cahaya yang remang membuat penglihatan menjadi tampak tak jelas? Kulihat semua penari itu meliuk dengan menggunakan penutup kepala seperti rahib yang membisu tanpa suara, dengan cadar tipis membalut wajah mereka. Pendar cahaya membias bayangan wanita cantik dengan alis terukir, celak mata mempertegas pesona siluet wajah yang tergambar samar.
Penari itu tidak sepenuhnya diam. Bak Matahari yang berusaha mendesak turun. Namun, cakrawala berusaha menahannya. dari balik jendela yang terbuka, aku terus menatap seraut wajah di balik cadar.
Seperti tidak asing, saat wajah berkelebat dalam cahaya remang itu melintas di pandanganku. Kucoba mengingat dan membayangkan sosok wajah di balik cadar itu, tapi selalu timbul tenggelam dalam ingatan. Senyum dingin terukir di balik kain tipis yang menutupi sebagian wajahnya.
Aku kembali berjalan menyurusi rumah bordil, setelah kulihat bayangan sosok wanita berkerudung dengan cadar yang menutupi wajahnya. Jalannya sebegitu cepat hingga aku kehilangan jejaknya.
Banyak kujumpai manusia-manusia yang keluar dan masuk pada satu pintu rumah bordil di hadapanku. Namun, mereka semua diam seolah takut untuk bicara.
Aku menyelinap masuk lewat celah pintu yang mungkin lupa ditutup. Satu wanita mendekatiku tanpa suara, hanya meraba pinggangku di balik jubah, seolah ingin menancapkan belati di dadaku. Disisi lain kulihat tatapan seorang wanita yang menyala, serupa tatapan harimau di tengah rimba. Matanya tajam menusuk dengan tatapan. Jantungku berdetak lebih cepat. Ritmenya menjadi tak beraturan.
Wanita itu berlalu, seiring rombongan datang dengan kendaraan mewah yang terparkir di pelataran rumah bordil. Kurasa mereka akan bermalam. Mungikn rumah bordil ini hanya melayani orang-orang asing, karena kulihat tidak nampak orang-orang pribumi di sini.
Wanita itu tidak hanya meraba pinggangku. Namun, ia menyeretku ke sebuah ruangan remang cahaya. Penglihatanku menjadi tak jelas. Kudengar bisikan suara samar di telinga. Satu sosok kembali menghampiriku. Apakah ia akan memberikan kebahagiaan semu selayaknya penghuni rumah bordil? Pikiranku melayang tak tentu arah.
Di bawah temaram lampu. Seorang membuka cadar dan penutup kepala. Aku terpaku tak percaya. Ingin rasanya mengingkari semua, dengan sosok yang berdiri di hadapanku. Tatapan tajam mencabik kebenaran yang ingin kuingari. Dadaku sesak. Nafasku memburu. Gerahamku gemertak.
Tidak ada suara, meski sekedar kalimat pembelaan. Ia pergi berlalu. Sekilas kulihat bulir bening di sudut matanya. Seolah memintaku untuk pergi. Sudut mata yang di hiasi celak hitam itu memerah dan basah.
“I-bu?”

