Ilustrasi Ramdan (sumber gambar: @muslimshowindonesia(HijrahApp))
Catatan Ramadan #2
Ramadan hadir, membawa serta aroma kurma dan kolak yang menggoda. Namun, di balik kehangatan tradisi itu, ada satu kenyataan yang tak terelakkan: lapar. Lapar Ramadan bukan sekadar rasa kosong di perut, melainkan sebuah simfoni rasa yang membakar, menggerogoti, dan melemahkan. Namun, di tengah rasa lapar itu, tersimpan hikmah yang mendalam.
Lapar Ramadan adalah guru yang mengajarkan arti syukur. Ketika perut keroncongan, kita baru menyadari betapa berharganya seteguk air dan sesuap nasi. Kita diingatkan akan nikmatnya kebersamaan saat berbuka, ketika keluarga dan sahabat berkumpul, berbagi tawa dan hidangan. Lapar ini juga menjadi pengingat akan mereka yang setiap hari bergelut dengan kelaparan, mereka yang tak punya cukup makanan untuk berbuka.
Namun, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar. Ini adalah bulan introspeksi, bulan untuk menengok ke dalam diri dan merenungkan makna hidup. Di tengah kesibukan dunia yang fana, Ramadan mengajak kita untuk memperlambat langkah, merenungkan tujuan hidup, dan memperbaiki diri. Lapar Ramadan menjadi simbol perjuangan melawan hawa nafsu, melawan keinginan duniawi yang seringkali menjauhkan kita dari nilai-nilai luhur.
Di tengah gemerlap Ramadan, ada suara-suara yang menggema, mengingatkan kita akan tanggung jawab sosial. “MBG boleh jalan terus, tapi tengoklah sejenak di luar jendela kelas…” Kalimat ini menyentil nurani, mengajak kita untuk membuka mata terhadap realitas di sekitar. Ada anak-anak yang duduk “di bangku jalanan”, perut mereka bukan hanya lapar di bulan Ramadan, tetapi lapar setiap hari. Mereka membutuhkan “MBG” yang sesungguhnya, bukan sekadar makanan bergizi, tetapi juga pendidikan, perhatian, dan kasih sayang.
Ironisnya, di tengah upaya menggalang dana triliunan rupiah untuk membantu bangsa lain, kita seringkali mengabaikan saudara sebangsa yang hidup dalam kekurangan. Presiden Prabowo pernah mengungkapkan bahwa 25% anak Indonesia mengalami kelaparan. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan potret buram dari ketidakadilan sosial yang masih menghantui negeri ini.
Saatnya kita membuka mata, menengok ke luar jendela kelas, dan melihat dengan hati nurani. Mari kita alihkan sebagian perhatian dan sumber daya kita untuk membantu anak-anak Indonesia yang kelaparan. Mari kita berikan mereka harapan, kesempatan, dan masa depan yang lebih baik.
Ramadan adalah momentum yang tepat untuk berbagi, bukan hanya makanan, tetapi juga kepedulian. Mari kita jadikan lapar Ramadan sebagai pengingat akan tanggung jawab kita terhadap sesama. Mari kita wujudkan “MBG” yang sesungguhnya, bukan hanya di bangku sekolah, tetapi juga di setiap sudut negeri ini.
Dengan membuka mata dan hati, kita dapat mengubah lapar Ramadan menjadi kekuatan untuk berbagi dan peduli. Dengan demikian, Ramadan bukan hanya menjadi bulan penuh berkah bagi diri sendiri, tetapi juga bagi bangsa dan negara.
