Hilangnya dinding privasi para selebriti membuat mereka hidup mereka seperti kaca etalase. Pernah melihat cuplikan video yang memperlihatkan Rafathar yang menutup wajahnya dengan topi didepan awak media saat menemani Raffi Ahmad wawancara? Hal itu menunjukan bahwa seorang selebriti bisa lelah dengan sorot publik dan jengah menghadapi tekanan besar dari media.
Seperti baru-baru ini, kabar miring yang menimpa keluarga Ricky Harun cukup membuat jagat infotainment hangat. Pasalnya Ricky Harun yangg selalu menampilkan keharmonisan, ketentraman rumah tangga, dan menunjukkan penampilan yang meyakinkan. Tiba-tiba diterpa isu orang ke tiga di tengah kehidupannya sebagai pria yang dianggap sempurna.
Pria yang mencintai keluarga, sosok yang religius, imam yang baik dan selalu menunjukkan keromantisan. Tentunya kebersamaan dengan Herfiza, sang permaisuri pujaannya, membuat siapapun terkagum melihatnya. Baru-baru ini kabar tentang beredarnya dokumentasi pribadi seseorang yang diduga mirip Ricky Harun di sebuah klub malam tersebar.

Bukan tanpa alasan, hari ini adalah era keterbukaan media. Dimana satu tangkapan layar atau satu buah foto pun bisa membuahkan asumsi orang, dan membuat anggapan berdasarkan terkaan. Sekarang, banyaknya jumlah penonton adalah sebuah nyawa bagi pihak media.
Apapun yang menarik perhatian publik, akan dijadikan berita oleh mereka, karena itu adalah pasar yang paling besar dan potensial di Indonesia. Penulis pun sempat menyimpan satu simpulan yang dikutip dari dialog antara Budi Doremi dengan Wendy dan Andika di sebuah podcast.
Menurut Budi di dunia hiburan, jika seseorang terikat kerja sama dengan suatu produk, maka ia akan dimintai keaktifannya bersosial media dan menyapa penggemarnya. Apalagi karena penggemar biasanya ingin tahu latar belakang pengguna produk incaran mereka. Jadi mau tidak mau mereka harus menyoroti kegiatan sehari-harinya di media sosial.
Menurut Budi Doremi benar nyatanya, bahwa interaksi dengan penonton adalah sesuatu yang sangat berharga. Seperti diketahui, banyaknya pengikut dan interaksi dengan mereka akan menentukan harga jual seseorang. Semakin ramai penonton, semakin membludak pengikut, maka akan semakin berpengaruh lah mereka di mata publik.
Sayangnya di Indonesia, etalase yang dibentuk oleh figur publik harus dibayar pula dengan kehidupan pribadi yang melelahkan. Mari kita lihat contoh kasus yang menimpa Ridwan Kamil, setelah kemunculan seseorang bernama Lisa Mariana seketika namanya yang manis tertutup seketika. Miris, dalam kenyataannya Ridwan seakan hilang ditelan bumi, sedangkan Lisa terkenal dan bekerja sama dengan beberapa pihak untuk kebutuhan komersil.
Terlihat sangat timpang dan mendatangkan keuntungan bagi Lisa Mariana. Inilah bukti jika etalase figur publik di Indonesia hanya menjual konflik bukan prestasi. Tanpa mereka sadari, sebenarnya mereka sendiri yang membuat publik melihat dengan jelas dan membuang pintu privasi.
Menurut penulis, kehidupan pribadi sebagai sosok figur publik memang penuh resiko. Selera dan penilaian publik dari tahun ke tahun sangat kentara, dan terlihat bedanya. Jika dahulu infotainment benar-benar berisi informasi tentang dunia hiburan berisi berita mengenai proses pembuatan karya, prestasi, tangga lagu populer, dan film-film terbaru.
Beda dengan keadaan saat ini, dimana media infotainment tak perlu repot mengejar selebriti di lokasi shooting untuk memperoleh validasi dan konfirmasi. Vlog masing-masing yang disimpan di akun pribadi para selebriti juga sudah berisi informasi yang cukup untuk pihak media. Mereka tinggal memotong cuplikan dan membuat narasi atas tayangan dan postingan di akun pribadi.
Hingga tak heran, jika masyarakat lebih menyukai pembahasan kehidupan pribadi mereka. Bahkan kolaborasi konten sering menyoroti isi rumah seseorang (room tour) sekarang semua itu sudah dianggap lumrah. Tipis atau bahkan hilangnya dinding pembatas antara media pemberitaan dan sosial media selebriti membuat mereka semakin mudah tersorot publik.
Ditengah sibuknya para selebriti membangun branding diri di publik, dengan cara menghias kaca etalase mereka. Sampai membuat mereka lupa bahwa semua yang diliput dan dijual harus dipenuhi kehati-hatian. Sebab semua orang bisa mangambil dokumentasi pribadi kita, membubuhi opini dan argumen sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing.
Mirisnya, justru hal ini yang dinanti-nanti oleh masyarakat Indonesia. Akun sosial media yang selebriti punya hari ini bak nyawa yang ada dalam genggaman. Salah-salah seseorang mengunggah sesuatu, akan mengundang perspektif publik yang negatif pula.
Sebuah pembelajaran bagi kita, bahwa menjadi manusia harus penuh kehati-hatian dan lebih memilah juga menjaga diri. Bisa diawali dari lingkungan keluarga dengan edukasi mengenai apa saja yang boleh dipublikasi dan boleh diakses orang lain. Kita berhak memiliki kehidupan pribadi yang tenang, tentunya tanpa menyakiti orang lain.
