Di sanalah ia berdiri, di bibir luka menganga yang baru saja diukir alam. Tanah merah kecokelatan yang masih basah, mengeluarkan bau anyir lumpur dan rempah akar yang tercabut, seolah menjadi napas terakhir dari sebuah desa yang lenyap ditelan geram. Namanya Ilyas. Pakaiannya compang-camping, beku oleh lumpur yang mengering di sekujur tubuh, tetapi jiwanya adalah kain putih yang terkoyak oleh sunyi yang teramat bising.
Di hadapan longsoran yang telah menjadi kuburan tanpa batu nisan itu, Ilyas tidak mencari sekadar gundukan tanah; ia mencari Khadijah, separuh jiwanya, wanita yang selama bertahun-tahun merajut kehangatan di rumah kecil mereka.
Tangan Ilyas terangkat perlahan, gerakan itu terasa berat, seolah ia sedang mengangkat beban seluruh dunia. Napasnya terhenti. Ia tidak sedang memanggil para pekerja, atau memohon belas kasihan langit. Ia sedang melantunkan azan. Bukan azan yang biasa berkumandang dari menara masjid, menyeru umat menuju sujud, melainkan sebuah seruan yang pecah, sebuah isyarat terakhir yang dikirimkan pada belahan jiwa.
Lirih, namun memiliki daya getar yang menembus kebekuan, ia mulai: “Allahu Akbar, Allahu Akbar.”
Suara itu, yang biasanya penuh wibawa saat memimpin salat, kini bergetar, diwarnai rasa pedih yang tak terperikan. Setiap lafaz yang keluar dari kerongkongannya adalah sebuah tangga, sebuah jembatan suara yang ia harap dapat menjangkau Khadijah di balik tirai tanah.
“Ashhadu an la ilaha illallah.” Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah. Bukankah hanya kepada-Nya kini harapan terakhir digantungkan? Khadijah, dengarkah engkau? Ini aku, suamimu, di sini, tempat engkau selalu menunggu kepulanganku.
Di bawahnya, buldoser dan ekskavator masih menderu, mengubah tumpukan tanah menjadi galian sia-sia. Jerit mesin yang keras itu seolah mengejek kesunyian doa Ilyas. Mereka mencari fisik, mencari jasad yang mungkin tertinggal. Tetapi Ilyas, ia mencari janji. Ia mencari kebiasaan yang tak mungkin terhenti. Siapa yang kini akan menyambutnya di pintu dengan senyum yang selalu terajut dari embun pagi?
Air mata Khadijah—karena rindu, karena lelah, atau karena bahagia—adalah air mata yang paling ia kenal. Kini, air matanya sendiri tak lagi mengenal batas. Ia membiarkan air asin itu bercampur dengan lumpur di wajahnya.
“Hayya ‘alas-salah… Hayya ‘alal-falah…” Marilah menuju salat… Marilah menuju kemenangan…

Kemenangan apa yang kini ia cari, selain kemenangan atas rasa hampa yang perlahan menjeratnya? Jika panggilan salat adalah undangan untuk berdamai dengan Tuhannya, maka azan ini adalah undangan untuk Khadijah, untuk kembali. Kembali ke pelukannya, kembali ke rumah yang kini hanya tersisa puing dan kenangan. Ia tahu, di antara desahan angin dan bau tanah basah, istrinya pasti mendengar. Jiwa tak pernah tuli.
Ia mengulang azan itu. Kali kedua. Kali ketiga. Ia tidak akan berhenti, sebab jika ia berhenti, ia takut Khadijah mengira ia sudah menyerah. Dan Ilyas tak pernah menyerah pada Khadijah. Cinta mereka dibangun dari keteguhan yang melampaui gempa dan badai.
Setiap pemanggilan Khadijah yang disamarkan dalam lafaz suci itu adalah penolakan atas takdir yang bengis. Tak ada yang lebih menyayat hati daripada suara seorang suami yang memanggil istrinya dengan penuh harapan, namun hanya dijawab oleh kebisuan dan kegigihan tanah yang menelan.
Tim SAR akhirnya mendekat. Mereka menawarkan air, selimut, dan istirahat. Namun, Ilyas menolak semua itu dengan gelengan kepala yang nyaris tak terasa. Ia hanya butuh waktu. Waktu untuk mengirimkan satu lagi panggilan, satu lagi pesan cinta yang abadi.
Ia mengakhiri azannya, dan untuk sesaat, deru mesin-mesin berat pun terasa mereda. Dunia seolah menahan napas. Ilyas menunduk, mencium tanah basah yang dingin itu, tanah yang kini menjadi satu-satunya pembatas antara ia dan kekasihnya.
Ya Allah, kuatkanlah hatinya. Tenangkanlah kegelisahannya. Dan jika Engkau mengizinkan, pertemukanlah mereka kembali, meski hanya dalam mimpi semalam, agar Khadijah tahu, azan terakhir yang ia dengar adalah nyanyian cinta yang paling setia. Karena dalam setiap detak jantung Ilyas, Khadijah akan selalu menjadi muazin dan makmumnya. Cinta yang terkubur, tapi abadi.
