Perjalanan pulang kampung selalu ada saja kejutan kecil yang meninggalkan kesan. Pulang ke desa sekali dalam rentang waktu beberapa bulan rasanya tidak akan pernah cukup untuk kembali memungut kenangan masa kecil di sana. Tidak terkecuali cerita tentang “kembang pacar” atau yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan nama bunga pacar air.
Pulang ke desa mendapatkan kesempatan main ke gunung dengan berjalan kaki. Di sepanjang perjalanan mata saya tak bisa teralihkan dari tumbuhan pacar air yang berwarna-warni di pekarangan penduduk desa yang menyapa kami dengan ramah.
Selain di pekarangan rumah, bung apacar air pun tumbuh liar di pinggir kebun dan tepi jalan setapak. Saya menemukan yang berbunga merah, pink dan putih. Konon di tempat lain ada yang bunganya orange, kuning juga biru.
Tentu saja, tanaman ini mengingatkan saya pada masa kecil. Dulu, pacar air sering dijadikan bahan “masak-masakan” saat bermain dengan sepupu di halaman rumah. Kadang bunganya ditumbuk bersama bubuk genting, lalu dioleskan ke kuku. Hasilnya? Kuku berubah warna kuning keoranye, seperti memakai kuteks alami. Jika diingat-ingat mungkin dulu itu maksudnya kami membuat hena versi lokal.
Namun pacar air bukan sekadar tanaman mainan anak-anak. Ingatan lain pun ikut muncul: saat saya terjatuh dan kaki lebam berwarna buru karena berlarian saat main petak umpet, seorang ibu dari teman saya menyarankan agar kaki saya dikompres dengan daun pacar air yang ditumbuk. Rasanya memang dinging. Sensasi panas dari rasa sakit akibat bengkak menjadi lebih nyaman.
Akhirnya, kami biasa menumbuk daun atau bunganya lalu mengompreskan ke bagian yang bengkak jika kami terjatuh atau terhantuk lagi. He he he.
Belakangan saya tahu, pacar air memiliki nama ilmiah Impatiens balsamina. Dalam pengobatan tradisional, tanaman ini sudah lama dimanfaatkan sebagai obat luar maupun dalam. Khasiatnya berasal dari kandungan senyawa aktif seperti flavonoid dan saponin yang bersifat antiinflamasi (anti radang) dan antibakteri.
Secara tradisional, bunga pacar air yang digiling halus digunakan untuk mengatasi pembengkakan akibat benturan atau penggumpalan darah di bawah kulit. Daunnya sering dimanfaatkan untuk mengobati masalah kulit seperti gatal-gatal, eksim, dan luka ringan karena sifatnya yang membantu melawan bakteri dan meredakan peradangan.
Tak hanya itu, bagian biji dan akarnya juga dikenal sebagai pereda nyeri. Dalam ramuan tertentu, pacar air digunakan untuk membantu meredakan rematik, pegal linu, kaku leher, dan nyeri pinggang. Untuk perempuan, tanaman ini dipercaya dapat membantu melancarkan haid yang terlambat serta mengurangi nyeri haid atau dismenore.
Menariknya lagi, pacar air juga berperan sebagai antibakteri alami. Senyawa flavonoid yang dikandungnya mampu menghambat pertumbuhan bakteri tertentu, sehingga wajar jika tanaman ini sering digunakan untuk perawatan luka ringan dan radang kulit. Bahkan dalam beberapa pengobatan tradisional, daunnya digunakan untuk membantu masalah pencernaan ringan dan keputihan.
Meski demikian, pemanfaatan pacar air tetap perlu kehati-hatian. Tidak semua kondisi bisa ditangani hanya dengan tanaman herbal, dan penggunaannya—terutama untuk ibu hamil—perlu dibatasi karena beberapa bagian tanaman memiliki efek cukup kuat.
Ternyata banyak juga ya manfaatnya. Semoga lain kali bisa mencoba khasiat lain dari bunga yang satu ini, selain untuk kompres bengkak seperti saat masa kecil dulu.
Karena menemukan kembali tumbuhan pacar air saat pulang kampung itu, saya jadi belajar tentang satu hal penting: tanaman yang tumbuh di halaman atau di pinggir jalan bukan sekadar penghias alam. Banyak di antaranya menyimpan khasiat sebagai pertolongan pertama sebelum kita pergi ke dokter. Pacar air hanyalah satu contoh kecil dari kekayaan hayati yang sering kita anggap remeh.
Mungkin sudah saatnya kita kembali menengok sekitar—ke kebun, ke pekarangan, ke tepi jalan—dan mengenali tumbuhan yang dulu akrab dengan masa kecil kita. Bisa jadi, di sanalah tersimpan obat sederhana yang pernah membantu kita sembuh, jauh sebelum kita mengenal apotek dan resep dokter.
