Sabtu, 13 Desember 2025, menjadi hari yang istimewa bagi keluarga besar Sekolah Ibnu Sina Soreang. Sejak pagi hari, lingkungan sekolah sudah dipenuhi oleh senyum, tawa anak-anak, suara langkah kaki para tamu, serta semangat kebersamaan yang begitu terasa. Pada hari itu, Sekolah Ibnu Sina Soreang menggelar acara Open House dan Haol Akbar, sebuah kegiatan besar yang melibatkan seluruh jenjang pendidikan, mulai dari RA, MI, MTs, hingga MA.
Acara ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi antara sekolah dengan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang aktualisasi bagi para siswa, guru, orang tua, dan warga sekitar. Dengan mengusung tema “Membumi dengan Budaya, Melangit dengan Kreativitas, dan Menjunjung Tinggi Nilai Spiritualitas”, kegiatan ini berhasil memadukan nilai pendidikan, sosial, budaya, dan keagamaan dalam satu rangkaian acara yang utuh dan bermakna.
Sejak matahari pagi mulai menampakkan sinarnya, satu per satu tamu berdatangan ke lingkungan Sekolah Ibnu Sina Soreang. Orang tua siswa, tokoh masyarakat, alumni, hingga warga sekitar tampak antusias mengikuti rangkaian acara. Panitia yang terdiri dari para guru dan siswa dengan sigap menyambut para tamu dengan penuh keramahan.
Di sudut-sudut sekolah, tampak berbagai stand bazar UMKM yang mulai bersiap. Aneka makanan ringan, minuman tradisional, kerajinan tangan, hingga produk-produk kreatif buatan masyarakat dan wali murid tertata rapi. Suasana sekolah pagi itu terasa berbeda: lebih hidup, lebih ramai, namun tetap tertib dan penuh kekeluargaan.
Open house ini menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat Sekolah Ibnu Sina Soreang. Mulai dari sistem pembelajaran, program unggulan, hingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler diperkenalkan secara terbuka. Para guru dengan senang hati menjelaskan visi pendidikan yang dijalankan sekolah, sementara siswa-siswi turut berperan aktif sebagai pemandu dan pengisi acara.

Khitanan Massal Gratis: Wujud Kepedulian Sosial
Salah satu kegiatan yang paling mendapat perhatian adalah khitanan massal gratis. Sejak pagi, anak-anak peserta khitanan bersama orang tua mereka sudah berkumpul dengan wajah yang bercampur antara gugup dan harap. Dengan dukungan tenaga medis yang profesional serta fasilitas yang memadai, proses khitanan berjalan dengan aman dan tertib.
Kegiatan khitanan massal ini bukan hanya soal layanan kesehatan, tetapi juga wujud nyata kepedulian sosial Sekolah Ibnu Sina Soreang terhadap masyarakat sekitar. Bagi sebagian keluarga, khitanan anak merupakan momen penting yang membutuhkan kesiapan finansial. Melalui kegiatan ini, sekolah hadir untuk meringankan beban sekaligus berbagi kebahagiaan.
Tak sedikit orang tua yang mengungkapkan rasa terima kasih dan haru atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Bagi mereka, Sekolah Ibnu Sina Soreang bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga mitra sosial yang peduli dan hadir di tengah masyarakat.
Bazar UMKM dan Sembako Murah: Menggerakkan Ekonomi Warga
Selain khitanan massal, bazar UMKM dan sembako murah menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung. Stand-stand UMKM yang dikelola oleh wali murid dan warga sekitar menawarkan beragam produk lokal dengan harga terjangkau. Mulai dari kue tradisional, jajanan kekinian, minuman herbal, hingga kerajinan tangan, semuanya laris diserbu pengunjung.
Program sembako murah juga mendapat sambutan hangat. Dengan harga yang lebih terjangkau dari pasaran, masyarakat dapat membeli kebutuhan pokok seperti beras, minyak, gula, dan bahan lainnya. Kegiatan ini menjadi bentuk kepedulian sekolah terhadap kondisi ekonomi masyarakat, sekaligus upaya kecil untuk saling menguatkan di tengah tantangan kehidupan.
Suasana bazar terasa hidup dan penuh keakraban. Anak-anak berlarian kecil, orang tua berbincang santai, sementara para penjual melayani pembeli dengan senyum. Inilah potret kebersamaan yang sederhana namun bermakna, di mana sekolah menjadi ruang pertemuan antara pendidikan dan kehidupan sosial.
Santunan Anak Yatim Piatu: Menanamkan Nilai Empati
Dalam rangkaian acara Open House dan Haol Akbar ini, santunan bagi anak yatim piatu menjadi salah satu agenda yang sarat makna. Puluhan anak yatim piatu menerima santunan dengan wajah penuh harap dan bahagia. Penyerahan santunan dilakukan dengan khidmat, disaksikan oleh para tamu undangan dan warga sekolah.

Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran nyata bagi para siswa tentang arti berbagi dan empati. Nilai-nilai kepedulian sosial tidak hanya diajarkan melalui teori di kelas, tetapi diwujudkan langsung dalam tindakan. Anak-anak belajar bahwa pendidikan bukan semata-mata soal prestasi akademik, tetapi juga tentang kepekaan hati dan kepedulian terhadap sesama.
Panggung Seni: Kreativitas Anak-Anak yang Membanggakan
Memasuki siang hari, panggung utama mulai dipenuhi oleh penampilan seni budaya karya anak-anak dari berbagai jenjang. Mulai dari RA, MI, MTs, hingga MA, semuanya mendapat kesempatan untuk tampil dan mengekspresikan kreativitas mereka.
Anak-anak RA tampil dengan tarian sederhana yang menggemaskan, disambut tepuk tangan meriah dari para penonton. Siswa MI menampilkan drama dan musik islami yang sarat pesan moral. Sementara itu, siswa MTs dan MA mempersembahkan pertunjukan seni yang lebih kompleks, seperti tari daerah, puisi musikal, hadrah, dan kreasi seni modern yang tetap berpijak pada nilai budaya.
Panggung seni ini menjadi bukti bahwa kreativitas anak-anak Ibnu Sina Soreang terus tumbuh dan berkembang. Sekolah memberikan ruang yang luas bagi siswa untuk berekspresi, berani tampil, dan percaya diri. Inilah makna “melangit dengan kreativitas” yang benar-benar terasa nyata.
Penampilan seni budaya yang ditampilkan bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pelestarian budaya. Di tengah arus modernisasi, Sekolah Ibnu Sina Soreang berkomitmen untuk tetap membumi dengan budaya lokal dan nasional. Anak-anak diajak mengenal, mencintai, dan bangga terhadap budaya sendiri.
Melalui tarian tradisional, musik daerah, dan berbagai bentuk seni lainnya, nilai-nilai budaya diwariskan secara alami kepada generasi muda. Mereka belajar bahwa budaya bukan sesuatu yang kuno, melainkan identitas yang harus dijaga dan dikembangkan dengan cara yang kreatif dan relevan dengan zaman.
Pengajian dan Haol Akbar
Menjelang malam, suasana sekolah berubah menjadi lebih tenang dan khidmat. Acara dilanjutkan dengan pengajian dan Haol Akbar yang dihadiri oleh para ulama, tokoh masyarakat, guru, siswa, dan warga sekitar. Lantunan ayat suci Al-Qur’an membuka rangkaian acara malam dengan penuh kekhusyukan.
Dalam pengajian tersebut, para ulama menyampaikan tausiyah yang menyejukkan hati. Pesan-pesan tentang pentingnya ilmu, adab, keikhlasan, serta keseimbangan antara dunia dan akhirat disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Haol Akbar menjadi momen refleksi bersama, mengenang jasa para pendahulu, sekaligus memperkuat nilai spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana malam itu terasa begitu syahdu. Cahaya lampu, lantunan doa, dan kebersamaan dalam majelis ilmu menciptakan rasa damai yang mendalam. Inilah wujud nyata dari “menjunjung tinggi nilai spiritualitas” yang menjadi bagian penting dari tema acara.
Melalui Open House dan Haol Akbar ini, Sekolah Ibnu Sina Soreang menunjukkan perannya sebagai lebih dari sekadar tempat belajar. Sekolah hadir sebagai pusat pendidikan, pusat budaya, pusat kreativitas, sekaligus pusat nilai-nilai spiritual dan sosial.
Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang menyentuh banyak aspek kehidupan. Akademik, karakter, budaya, sosial, dan spiritual berjalan beriringan, saling menguatkan, dan saling melengkapi.
Open House dan Haol Akbar Sekolah Ibnu Sina Soreang tahun 2025 bukan hanya sebuah acara, tetapi sebuah peristiwa penuh makna. Di dalamnya tersimpan semangat kebersamaan, kepedulian, kreativitas, dan spiritualitas yang menjadi fondasi pendidikan sejati.
Harapannya, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan dikembangkan di masa mendatang. Agar sekolah tidak hanya mencetak generasi cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia, peduli terhadap sesama, mencintai budaya, dan memiliki spiritualitas yang kuat. Karena dari sekolah yang membumi dengan budaya, melangit dengan kreativitas, dan menjunjung tinggi nilai spiritualitas, akan lahir generasi masa depan yang siap membangun peradaban dengan hati dan nurani.
