Hari kemerdekaan Indonesia sebentar lagi tiba. Keadaan kampung semakin semarak dengan ornamen bernuansa merah putih. Semua orang seakan berlomba menunjukkan kecintaannya kepada negara. Berbagai lomba diselenggarakan dari lingkup terkecil hingga besar. Semua bersemangat. Semua antusias. Meskipun mungkin beberapa tidak sebersemangat itu karena sesuatu yang terasa melukai hati.
Mencintai Indonesia dengan keadaan yang seperti ini, sama seperti mencintai kekasih yang memiliki penyakit kronis. Cinta, tetapi hati harus patah berkali-kali. Sakit sekali rasanya.
**
Malam itu, nyaris di pertengahn Agustus. Angin berembus kencang. Sayup-sayup terdengar suara orang mengaji dari masjid kampung sebelah. Suaranya bersaing dengan gemerisik daun alpukat di sebelah rumah. Danang masih bersikeras memasang hiasan merah putih di depan rumah. Susah payah, tetapi tetap dilakukannya.
Ini permintaan istrinya. “Malu, kita kan tidak pasang bendera di depan rumah,” kata Anisa sore tadi.
“Kenapa malah memilih membuat hiasan ornamen begini ketimbang memasang bendera? Bukankah kita punya bendera, tahun lalu juga kita pasang, kan?” tanya Danang sambil terus sibuk memasang ornamen. Kakinya sedikit bergetar karena terlalu lama berdiri di tangga lipat.
Anis menghela napas panjang. Lalu melekatkan benang dan kresek warna merah putih yang sedang dikreasikannya menggunakan benang dan gunting.
“Iya ada. Tapi jujur, aku sangat malas mencarinya. Makanya aku tidak memaksamu memasangnya. Mungkin ini sebuah pelanggaran pada intruksi pak RW kemarin. Namun entahlah. Agustus tahun ini aku merasa benar-benar tidak bersemangat merayakan hari kemerdekaan. Bahkan memasang bendera di depan rumah pun enggan,” ucapnya penuh beban. Tangannya mengusap-usap lengan, kedinginan.
Danang turut menghela napas panjang. Sudah tahu sikap istrinya bagaimana. Ia paham betul, kalau misal sudah tidak mau ya tidak akan bisa dipaksakan. Biarlah Agustus tahun ini tidak ada bendera yang berkibar di depan rumah mereka. Danang menyerah. Sempat mengusulkan untuk membeli bendera baru, tetapi Anisa bersikeras mengatakan, tidak perlu membeli. Karena kalau mau tinggal dicari di lemari.
Tahun lalu, Anis masih begitu bersemangat. Merengek meminta memasang tiang bendera di halaman sejak bulan juli akhir. “Sebentar lagi Agustus tiba, kau pasang lah tiang bendera di depan sana. Biar ia berkibar gagah dan indah tertiup angin,” katanya dengan penuh semangat 45.
Kini Anisa lain dan jauh berbeda. Danang sendiri tidak mengerti mengapa mengibarkan bendera tidak mau, tetapi memasang ornamen ia malah lebih telaten membuatnya. Dua hari sudah, Anisa membuat bunga, rangkaian rantai warna merah putih, gantungan indah seperti lampion dengan kreatifnya. Kini ia harus memasang nya susah payah mengikuti keinginannya itu.
“Kang, aku sebenarnya sangat mencintai Indonesia. Hanya saja aku lagi merasa kecewa. Agustus ini aku merasa bahwa kita sebenarnya belum merdeka. Jadi apa yang harus kita rayakan? Bendera saja rasanya tidak layak dikibarkan,” kata Anisa tiba-tiba.
“Lalu mengapa rumah kita dihias sedemikian rupa dengan hiasan merah putih ini?” tanya danang dengan penuh kehati-hatian.
“Meskipun aku merasa kecewa dengan keadaan bangsa ini, aku masih memiliki rasa cinta yang besar, Kang. Dadaku masih menyimpan merah dan putih itu dengan sepenuh hati. Jadi sebagai ungkapan cinta, aku merangkai ornamen dengan hati sesak. Seperti merangkai doa-doa terbaik untuk Indonesia. Doa-doaku masih tercurah pada negeri. Semoga keadaan negeri ini semakin pulih.”
“Memangnya negeri kita kenapa, Nis?” goda Danang sambil terkekeh.
“Ah, kamu tahu sendiri kan…,” Anisa mendelik. Bibirnya monyong lima senti.
Danang menggelengkan kepala. Lalu tersenyum. Dalam hatinya bicara, “Nis, Nis. Kamu kebanyakan nyimak berita. Jadinya begitu.”
Namun kalimat itu tidak jadi diucapkannya. Khawatir nanti berdebat panjang. Punya istri pemikir dan kritis cukup membuat Danang harus banyak menahan diri. Namun meskipun begitu, ia akan tetap bangga. Bahwa kecintaan Anisa pada sesuatu selalu tulus, seperti kecintaan Anisa pada Danang selama ini.
Angin malam semakin dingin. Ornamen sebentar lagi selesai terpasang. Sementara dialog tentang kecintaan negeri terhenti dan berlanjut pada hati dan pikiran masing-masing.
**
Apapun keadaannya, negara kita tetap Indonesia. Yang akan tetap dicintai dan dibangakan. Mari berdoa yang terbaik untuk negeri ini. Agar perayaan hari kemerdekaan benar-benar lepas dengan hati yang lebih lapang, bahagia dan sejahtera.
