Andai Saya Sekolah Jam 5 Pagi, Pasti Gak Bisa Bantu Emak Lagi

Sekolah jam 5 pagi
Foto: Okka Supardan

Andai saya sekolah jam 5 pagi, pasti gak bisa bantuin emak lagi. Itu hal yang langsung terlintas di benak saya ketika mendapati berita tentang kebijakan masuk sekolah sepagi itu.

Kebijakan masuk sekolah jam 5 pagi di NTT dan sekarang konon sudah berubah menjadi pukul 05:30 WITA, tentunya memiliki alasan yang terbaik, apalagi dari pihak pemangku dan pembuat kebijakan.

Semua orang harus percaya. Bahwa apapun keputusannya pasti memiliki dasar pemikiran yang dianggap paling tepat, terbaik, dan dianggap efektif. Apalagi ini, katanya kebijakan itu dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas SDM di daerah setempat. Jika memang iya dapat meningkatkan kualitas SDM, bukankah seharusnya kita dukung?

Namun jika saya yang orang awam ini boleh berpendapat dan sekadar menyampaikan unek-unek di kepala, maka kebijakan itu bagi saya pribadi cukup memberatkan.

Saya tidak sedang bicara tentang pendapat orang lain atau netizen yang mungkin sudah lebih dulu memberikan tanggapan. Ini hanya sebatas pemikiran saya.

Andaikan saya masih sekolah di jenjang menengah atas, maka akan banyak sekali hal yang saya lewatkan. Di antaranya adalah membantu emak.

Emak dan bapak bahkan mungkin emak dan bapak pembaca semua pun, sebagian besar lebih senang jika anaknya menjadi anak yang patuh dan taat kepada kedua orangtua dan bisa isa beribadah dengan benar. Dibandingkan menjadi orang yang pintar tetapi tidak paham sopan santun, lupa pada dari mana ia berasal bagaikan kacang lupa kulitnya.

Emak dan bapak juga lebih berharap saya menjadi manusia yang bisa survive dalam tantangan zaman, dan pandai menempatkan diri dalam keadaan apapun.

Nah, di waktu subuh lah, Emak dan Bapa mengajarkan banyak hal tentang hidup kepada saya.

Mulai dari mengajarkan saya untuk bangun lebih pagi karena harus solat subuh, membantu emak mengiris sayuran, memasak makanan buat kami sarapan, menyapu rumah dan bahkan mengepel lantai. Sesekali harus menyempatkan mengelap kaca, menyikat lantai kamar mandi, menguras bak penampungan air, mencuci piring dan pakaian. Semua saya lakukan sepanjang pagi sebelum akhirnya berangkat ke sekolah. Kata Emak, begitulah caranya memenangkan hari; menyelesaikan pekerjaan penting sepagi mungkin.

Melakukan hal itu sejak jam 5 pagi adalah rutinitas yang membuat saya merasa lega pergi ke sekolah. Karena artinya, setelah itu tidak akan ada lagi perasaan bersalah karena belum membantu emak menyelesaikan pekerjaan rumah.

Sekolah menyita waktu untuk berpikir, mengerjakan tugas, membuat PR bersama teman-teman. Belum tentu pulang sekolah nanti saya memiliki waktu maksimal untuk membantu Emak lebih banyak.

Jika saya harus masuk sekolah jam 5 pagi, maka jam berapa saya berangkat? Kapan saya bisa membantu emak menyapu halaman? Mencuci piring dan pakaian, membuatkan bapa kopi ketika emak sibuk memasak sayur di dapur. Entah, pahala apa yang bisa saya kumpulkan lagi selain membantu meringankan kerepotan mereka di pagi hari.

Belum lagi, emak dan bapak juga sama-sama pergi bekerja. Biar sore hari kami pulang ke rumah tidak ditunggu beban pekerjaan, maka sebisa mungkin, diselesaikan pagi hari.

Jika saya sekolah jam 5 pagi, saya pasti tidak akan tega membiarkan bapak harus melewatkan waktu terbaiknya dalam menikmati kopi. Menikmati kudapan yang dibuat emak sebagai pengganjal perut selepas solat subuh berjamaah di masjid.

Sungguh, pengetahuan umum, ilmu matematika, dan kepintaran tentang mata pelajaran lain bisa saya dan teman-teman dapatkan dengan belajar sendiri, belajar dengan ibu dan bapa guru di sekolah yang selalu tulus mengajar kami.

Bapak dan ibu guru yang mengajar dengan penuh kebahagiaan karena mereka pun sudah menyelesaikan tugas pribadi mereka sebelum masuk kelas kami. Mereka yang fokus menyampaikan ilmu kepada kami tanpa beban pikiran lain karena sudah bersiap mengabdikan diri; mengajarkan ilmu pengetahuan kepada kami.

Saya yakin, bapak dan ibu guru pun punya kesibukan lain sebelum meninggalkan rumahnya masing-masing.

Ibu guru, harus meyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anaknya. Sementara bapak guru mungkin punya tugas mengantar anaknya ke sekolah yang juga tentu harus mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Sekali lagi, andai saya harus sekolah jam 5 pagi. Saya akan kehilangan waktu untuk membantu Emak. Padahal kesuksesan saya, kelancaran aktivitas saya, rido Tuhan saya ada pada keridhoan Emak dan Bapak saya.

Andai saya masih sekolah, maka saya tidak ingin sekolah terlalu pagi. Mungkin saya pintar secara kognitif. Namun saya akan mengalami minus di aspek afektif dan psikomotor kami.

Afektif kami belum tentu berkembang maksimal. Karena sikap, watak, perilaku, emosi, minat, dan nilai baik dalam individu kami tidak terlatih dengan baik.

Padahal, sebelum kami belajar di sekolah pun, pusatnya pendidikan karakter adalah rumah kami sendiri.

Selain itu, aspek psikomotor kami tentu sedikit terganggu. Karena bangun terlalu pagi, mungkin saya pun mengesampingkan sarapan, akhirnya saya lemas, pusing dan ah, mungkin lebih dari itu.

Ibarat belajar di bulan puasa, rasanya tidak semangat bulan lainnya, karena harus menahan lapar dan kantuk. Kami Fokus pada ibadah puasa, tetapi tentunya kurang fokus pada pelajaran.

Saya khusunya, pasti lemas dan tidur di sekolah. He he he.

Andai saya harus sekolah jam 5 pagi, saya pasti jadi sumber kekesalan guru. Selain karena saya ngantuk dan tidak fokus mengikuti pelajaran, guru pun banyak beban pikiran karena meninggalkan banyak pekerjaan yang belum tuntas di rumahnya.

Sama-sama emosi jadinya, bukan?

Walaupun kini sudah berubah kebijakan menjadi pukul 05:30 sedikit lebih siang, tetapi buat saya tetap saja mending menggunakan jam normal saja. Pekerjaan rumah selesai, badan sehat, pikiran tenang. Yang pasti, bisa bantuin Emak dulu sebelum pergi ke sekolah.

Hidup Emak… He he he.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *