Nicholas Ryan Aditya (Kompas)
Ketika luka di batin mulai mengering menjadi keropeng ketabahan, semesta membentangkan jalan baru yang tak pernah terlintas dalam peta pencarianku. Aku meninggalkan sejenak pesisir Losari yang amis oleh garam dan prasangka, menuju jantung tanah Jawa di mana candi-candi batu berdiri sebagai saksi bisu keheningan abad-abad. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan raga, melainkan sebuah ziarah batin untuk menemukan kembali makna persaudaraan di bawah langit yang sama.
Aku tiba di kawasan Mendut saat udara mulai beraroma wangi bunga sedap malam dan dupa yang berbeda dari yang biasa kubakar di rumah. Di sini, aroma itu tidak membawa aura mistis yang mencekam, melainkan ketenangan yang meluas. Aku datang bukan sebagai dalang yang ingin memamerkan kelenturan jemari, melainkan sebagai seorang musafir rasa yang ingin belajar bagaimana doa-doa dari lisan yang berbeda bisa bermuara pada samudera kedamaian yang satu.
Dialog: Di Bawah Bayang-Bayang Pohon Bodhi
Di pelataran Candi Mendut, aku bertemu dengan seorang biksu tua yang tatapannya sedalam sumur yang sering kusebut-sebut di rumah. Ia tersenyum, sebuah senyum yang seolah tahu bahwa aku baru saja melewati badai fitnah yang hebat.
Biksu: “Selamat datang, Cah Ayu. Engkau membawa aroma laut dan kayu tua di pakaianmu. Apakah engkau sedang mencari tempat untuk mengistirahatkan tarianmu?”
Nani: “Saya membawa luka yang masih basah, Bhante. Di tempat asal saya, tarian saya dianggap sebagai kesesatan, dan doa-doa saya dianggap bid’ah karena dibalut tradisi leluhur. Saya datang ke sini untuk mencari tahu, apakah Tuhan hanya milik mereka yang bersuara lantang menghujat?”
Biksu: “Tuhan itu seperti cahaya matahari, ia menembus jendela mana pun yang terbuka. Di sini, kami menyebutnya cinta kasih. Di tempatmu, mungkin engkau menyebutnya rasa jernih. Keduanya adalah air yang sama, hanya wadahnya saja yang berbeda.”
Konflik Batin: Persimpangan Syariat dan Universalitas
Melihat prosesi umat Buddha yang mulai bersiap untuk perayaan Waisak, batin remajaku kembali bergejolak. Sebagai seorang Muslimah yang dibesarkan dalam tradisi Kejawen, ada bisikan kecil yang bertanya-tanya: Bolehkah aku berada di sini? Apakah keimananku akan luntur jika aku larut dalam harmoni mereka?. Namun, saat aku melihat para bhante melafalkan paritta dengan penuh takzim, aku teringat mantra-mantra dalam naskah kuno Nenek. Iramanya berbeda, namun getaran keikhlasannya terasa sama.
Aku menyadari bahwa ketakutan akan kehilangan iman sering kali hanyalah ketakutan akan kehilangan identitas yang sempit. Di Mendut, aku mulai belajar untuk melepaskan jubah “Nani sang korban fitnah” dan mengenakan jubah “Nani sang hamba semesta”.
Sastra Alam: Kidung Batu dan Doa
Malam mulai turun menyelimuti Candi Mendut. Cahaya pelita mulai dinyalakan satu per satu, membentuk barisan binar yang membelah kegelapan. Aku duduk bersila di atas rumput, memejamkan mata. Di telingaku, suara selawat dari kejauhan bersahutan dengan denting lonceng kecil dari arah candi. Tidak ada pertempuran di sana; yang ada hanyalah simfoni yang mengharukan.
“Laku… ini adalah laku yang sesungguhnya,” bisikku dalam hati. Jika di Losari aku harus menari di atas bara prasangka, di Mendut aku belajar menari di dalam keheningan yang toleran. Aku melihat masyarakat Muslim di sekitar candi ikut menjaga keamanan dengan damai, tanpa merasa terancam keimanannya. Harmoni ini adalah obat bagi lukaku.
Metafora: Meluaskan Sumur
Perjalanan ke Mendut ini mengajarkanku bahwa “sumur yang dalam” di dalam diriku tidak boleh tertutup. Ia harus memiliki saluran yang terhubung dengan sumur-sumur lain di seluruh penjuru bumi. Aku tidak lagi merasa terisolasi. Jika di kampungku aku dianggap aneh, di sini aku menemukan bahwa pencarian spiritual melalui ritual dan seni adalah bahasa universal yang melampaui sekat agama.
Aku menyentuh batu candi yang dingin dan kasar. Rasanya mirip dengan kayu topengku. Keduanya adalah benda mati yang dihidupkan oleh doa manusia. Aku menyadari bahwa tugas seorang dalang bukan hanya menjaga tradisi keluarganya, tapi menjaga api kemanusiaan agar tetap menyala di tengah kegelapan kebencian.
Malam itu, di bawah perlindungan pohon Bodhi dan langit Mendut yang tenang, aku bersumpah untuk membawa pulang kedamaian ini ke Losari. Aku akan tetap menari, aku akan tetap membakar kemenyan, dan aku akan tetap menyebut nama para Wali, namun dengan hati yang jauh lebih luas—sebuah hati yang telah belajar bahwa harmoni bukan berarti menjadi sama, melainkan kesediaan untuk bergetar dalam frekuensi kasih yang satu.
**
