VIII. Antara Dua Dunia
Los Angeles, awal 1950-an. Devi Dja duduk di ruang tamunya yang sempit, dikelilingi batik-batik tua dan gamelan mini yang ia bawa dari Jawa. Ia telah menari di banyak aula, tampil di televisi lokal, dan mengajar ratusan murid tentang keanggunan tari Indonesia. Tapi malam itu, surat dari Konsulat Indonesia di tangannya membuat dunia seakan berhenti.
Surat itu berisi undangan resmi: pemerintah Indonesia ingin agar Devi pulang dan ikut membangun kebudayaan nasional. Ia ditawari posisi di pusat seni Jakarta, dan kesempatan mengajar di Akademi Seni Nasional yang baru dibentuk. Ini bukan hanya panggilan pekerjaan—ini panggilan jiwa.
Namun, di sisi lain, Devi telah menjalin hidup di Amerika. Ia dikenal sebagai seniman Asia, teman dari komunitas Hollywood, bahkan beberapa selebriti pernah belajar menari darinya. Ia merasa bebas di sana: bebas dari norma, bebas dari ekspektasi keluarga. Tapi ia juga tahu, menjadi diaspora adalah hidup dalam bayangan—diakui, tapi tak sepenuhnya dimiliki.
Devi berdiskusi dengan sahabatnya, seorang seniman Jepang di San Francisco. Sang sahabat berkata: “Pulang bukan hanya kembali ke tanah, tapi ke sejarahmu sendiri.” Kata-kata itu menggema di hatinya.
Beberapa minggu kemudian, Devi mengadakan pertunjukan perpisahan di aula komunitas seni Los Angeles. Ia menari sendirian, mengenakan kebaya cokelat tua yang robek di bagian pinggir—busana yang ia pakai sejak zaman Dardanella. Dalam gerakannya, terdapat kegundahan, keikhlasan, dan harapan.
Setelah pertunjukan, ia berkata, “Saya datang ke negeri ini sebagai Devi Dja dari Timur. Kini saya pulang sebagai Devi Dja yang telah menari dalam bahasa dunia.”
________________________________________
Devi kembali ke Indonesia tahun 1953. Ia bergabung dalam gerakan kebudayaan nasional, mengajar, membentuk sanggar tari, dan tampil dalam acara kenegaraan. Tapi Amerika tak pernah benar-benar ia tinggalkan—ia terus korespondensi, sesekali kembali untuk tampil, dan menjembatani dunia Timur dan Barat.
