Duka Affan Kurniawan (sumber: Diky Sansiri/Radar Sidoarjo)
Sepatu itu masih di sana. Di tengah kerumunan yang bubar, di antara batu-batu yang dilempar dan air mata yang menguap bersama gas kimia, sepatu itu berdiri sendiri. Sepatu kanan, warna hitam, solnya sudah aus, tali kirinya lepas, dan di bagian dalamnya ada tulisan kecil: “Affan K.” Ditulis dengan spidol yang hampir pudar, seperti harapan yang terlalu lama digenggam.
Tak ada yang berani menyentuhnya. Sepatu itu bukan benda. Ia telah menjadi penanda. Ia adalah sisa dari tubuh yang telah dibawa pergi. Ia adalah saksi bisu dari malam yang tak bisa dimaafkan. Ia adalah simbol dari seorang anak muda yang hanya ingin bekerja, tapi pulang dalam kantong jenazah.
Seorang mahasiswa mendekat. Ia menatap sepatu itu seperti menatap cermin. Di dalamnya, ia melihat dirinya sendiri: muda, penuh semangat, tapi rapuh di hadapan sistem yang tak mengenal wajah. Ia ingin mengambil sepatu itu, menyimpannya, menjadikannya monumen kecil. Tapi ia tahu, benda itu terlalu suci untuk dipindahkan. Biarlah ia tinggal di sana, di aspal yang masih basah oleh darah dan teh manis.
Di seberang jalan, seorang ibu berdiri. Ia tak bicara. Ia hanya menatap. Ia mengenali sepatu itu. Ia tahu, itu milik anaknya. Ia ingat saat membelinya di pasar Senen, saat Affan berkata, “Yang ini nyaman, Mak. Bisa buat narik lama.” Ia ingat saat mencucinya, saat menjahit bagian yang robek, saat menyemprotkan parfum murah agar anaknya percaya diri.

Dan kini, sepatu itu tertinggal. Tanpa kaki. Tanpa pemilik. Tanpa arah.
Petugas kebersihan datang. Mereka membawa sapu, selang, dan perintah. Mereka ingin membersihkan jalan. Mereka ingin menghapus jejak. Tapi sepatu itu menolak dipindahkan. Ia berat. Bukan karena bahan, tapi karena makna. Ia menempel pada aspal seperti luka yang menolak sembuh.
Seseorang menaruh bunga di sampingnya. Bunga melati, putih, kecil, wangi. Tapi wangi itu tak bisa mengalahkan bau gas air mata. Tak bisa menghapus aroma kematian. Tak bisa menghidupkan kembali Affan.
Media datang. Mereka mengambil gambar. Mereka menulis berita. “Sepatu Affan Tertinggal di Lokasi Tragedi.” Tapi mereka tak tahu bahwa sepatu itu bukan sekadar barang. Ia adalah puisi. Ia adalah jeritan. Ia adalah pertanyaan yang belum dijawab: kenapa nyawa semurah itu?
Di rumah petak, ibunya duduk di kursi rotan. Ia memandangi sandal Affan yang masih rapi. Tapi ia tahu, anaknya tak akan memakainya lagi. Ia ingin sepatu itu dibawa pulang. Ia ingin menyimpannya. Ia ingin memeluknya. Tapi ia juga tahu, sepatu itu telah menjadi milik publik. Milik mereka yang masih punya hati. Milik mereka yang ingin mengingat.
Dan malam itu, Jakarta sunyi. Bukan karena massa bubar. Tapi karena satu sepatu telah mengubah jalan menjadi makam. Orang-orang lewat, menunduk. Mereka tak berani bicara. Mereka hanya menatap. Dan sepatu itu tetap di sana. Diam. Tapi nyaring.
Di dalam diamnya, ia berkata: “Aku milik Affan. Aku milik kalian. Aku milik semua yang pernah berjalan di jalanan ini dengan harapan kecil dan mimpi besar.”
Dan langit, yang sejak awal tak pernah menangis, mulai berawan. Seolah ingin belajar. Seolah ingin mengerti. Seolah ingin memberi hujan, bukan untuk membasahi, tapi untuk membersihkan luka yang tak bisa dijelaskan.
Sepatu itu masih di sana.
Dan selama ia di sana, kita tak boleh lupa. **
