Tulisan ini saya beri judul Jenderal Galau dan Udang Lobster Air Tawar, sebagai sebuah kenangan dan catatan dari pertemuan sastrawan dunia di Kuala Lumpur kala itu.
Sebuah seminar internasional, SISMI ke-17, telah usai. Namun, gelora semangat para peserta agaknya belum juga reda. Justru, selepas acara megah di Kuala Lumpur itu, sebuah fenomena unik terjadi: para peserta, khususnya para sastrawan, seakan terjangkit virus “galau massal”.
Lapor Jenderal SISMI! Jika biasanya para sastrawan dikenal dengan kata-kata puitis yang mendalam, kali ini mereka justru seperti remaja yang sedang dimabuk asmara. Tulisan-tulisan mereka dipenuhi dengan ungkapan-ungkapan yang penuh makna tersembunyi, namun juga sarat dengan nuansa melankolis.
Ada yang merindukan kesunyian, ada yang ingin bercanda dengan hening, dan ada pula yang memilih berbicara dengan alam. Bahkan, ada yang sampai meratapi nasib cinta yang belum juga menemukan pelabuhan hati. Sungguh, sebuah perpaduan yang unik antara dunia sastra dan dunia remaja.
Tentu saja, di tengah suasana galau ini, ada juga secercah humor yang menghibur. Misalnya, kisah tentang udang lobster air tawar milik Tuan Dato’ Nashuha Jamidin. Bayangkan saja, seekor udang lobster yang hidup di air tawar! Sungguh sebuah keajaiban yang membuat kita semua penasaran.
Belum lagi kisah tentang Ony Latifahy Latifah yang sedang mencari daun kelor di Australia. Apakah daun kelor yang legendaris itu benar-benar bisa ditemukan di benua kanguru? Pertanyaan ini tentu saja menjadi bahan tertawaan bagi kita semua.
Dan jangan lupakan kisah cinta para sastrawan yang penuh lika-liku. Ada yang sedang merayakan pernikahan perak, ada yang sedang mencari jodoh, dan ada pula yang sedang merindukan sosok kekasih yang jauh di sana. Sungguh, kehidupan para sastrawan ini ternyata tidak jauh berbeda dengan kehidupan kita sehari-hari.
Lantas, apa sebenarnya yang menyebabkan fenomena galau massal ini? Apakah karena pengaruh suasana seminar yang begitu khidmat? Ataukah karena terlalu banyak membaca puisi dan novel romantis? Atau mungkin, ini adalah sebuah bentuk ekspresi diri yang unik dari para sastrawan?
Terlepas dari apa pun penyebabnya, yang jelas adalah fenomena ini telah memberikan warna tersendiri bagi dunia sastra Indonesia. Tulisan-tulisan para peserta SISMI ke-17 telah membuktikan bahwa sastra tidak hanya tentang kata-kata indah, tetapi juga tentang perasaan, emosi, dan pengalaman hidup yang sangat manusiawi.
Jadi, kepada para Jenderal SISMI, mari kita sambut dengan gembira fenomena galau massal ini. Mari kita terus berkarya, berkreasi, dan berbagi cerita. Dan yang terpenting, mari kita jangan lupa untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita.
