Hampir semua orang di dunia ingin hidup bahagia. Rasanya mustahil jika ada orang yang tidak ingin bahagia. Siapapun orangnya, tua atau muda, miskin atau kaya, penguasa atau rakyat jelata, tanpa dibedakan oleh suku, ras, dan agama, semuanya sama, mendambakan kebahagiaan. Hanya saja mereka berbeda-beda dalam cara mempersepsi dan cara meraihnya.
Sehingga dapat dikatakan bahwa kebahagiaan itu subjektif. Apa yang membahagiakan bagi seseorang belum tentu sama berlaku bagi orang yang lainnya. Unsur subjektivitas kebahagiaan akan sangat terlihat jelas manakala dikaitkan dengan usia, latar belakang, budaya, pengalaman, kebutuhan, dan keinginan setiap orang yang berbeda-beda.
Bahagianya orang yang tidak punya rumah adalah ketika dia memilikinya. Bahagianya orang yang sakit adalah ketika dia sembuh dari penyakitnya. Bahagianya orang yang punya mimpi jalan-jalan ke luar negeri adalah ketika dia berhasil mewujudkan-nya.
Rumah, kesehatan, jalan-jalan ke luar negeri adalah definisi bahagia bagi orang-orang yang belum mendapatkannya. Sedangkan bagi mereka yang telah memiliki semuanya, kadang semua itu biasa saja. Umumnya mereka merasakan bahagia di awal ketika mendapatkannya, tapi kemudian perasaan kembali datar lalu menginginkan yang lainnya.
Dari semua keinginan setiap orang yang berbeda-beda, sebenarnya ada satu tujuan yang sama, yang tersembunyi di baliknya, yaitu “rasa bahagia”. Kita dapat memahaminya, walau mereka tidak mengatakannya. Paling tidak kita bisa bertanya pada diri kita sendiri, “Benarkah begitu?” Saya yakin jawabannya, “Benar”.
Lalu sebenarnya apa itu bahagia?
Dari segi bahasa, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tenteram. Sedangkan kebahagiaan berarti kesenangan dan ketenteraman hidup (KBBI, 2016). Di dalam bahasa Arab terdapat banyak kata yang menunjukan arti kebahagiaan, di antaranya falahun dan sa’adah. Dua kata ini dengan berbagai derivasinya banyak digunakan di dalam Al-Qur’an, yang masing-masing memiliki konotasi tersendiri. Di dalam bahasa Inggris kata bahagia dan kebahagiaan teridentifikasi sebagai kata happy dan happiness. Dalam kamus Merriam-Webster disebutkan beberapa arti kata happiness, yaitu: 1. Keadaan sejahtera dan puas, 2. Pengalaman yang menyenangkan atau memuaskan.
Sementara untuk mengetahui pengertian bahagia dari segi istilah tidaklah mudah, karena bahagia adalah urusan rasa, maka menjelaskan definisi bahagia itu sama sulitnya dengan menjelaskan tentang apa itu yang disebut dengan manis dan asin. Hampir dapat dikatakan tidak ada kesepakatan di antara para tokoh, mulai dari ulama, filosof, hingga psikolog yang berusaha menjelaskan tentang apa itu kebahagiaan. Karena sekali lagi, kebahagiaan adalah sebuah konsep yang subjektif, dimana setiap orang memiliki tolok ukur yang berbeda-beda.
Namun dari semua penjelasan yang ada, seringkali muncul kosakata yang sama, yaitu “kesenangan”, “ketenangan”, “ketentraman”, “kepuasan”, atau “kegembiraan”. Kemunculan kata-kata tersebut setidaknya menjadi kata kunci untuk kita memahami apa itu kebahagiaan. Dan dari semua penjelasan yang ada dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan adalah suatu kenikmatan yang dirasakan oleh jiwa, meliputi kesenangan, ketenangan, dan kepuasan.
Dalam pandangan Psikologi, kebahagiaan ditandai dengan tiga komponen, yaitu emosi positif, kepuasan, dan ketiadaan emosi negatif seperti depresi atau kecemasan (Argyle, Martin, Lu dalam Abdel-Khalek, 2015). Menurut Venhooven (2011), kebahagiaan umumnya dipahami sebagai seberapa besar seseorang menyukai kehidupan yang dijalaninya, atau sejauh mana seseorang menilai keseluruhan hidupnya dengan penilaian yang positif. Sementara menurut Martin Seligman (2005) kebahagiaan adalah sebuah konsep psikologis yang mengacu pada bentuk emosi positif yang dirasakan individu. Yakni emosi positif terhadap masa lalu, emosi positif terhadap masa kini, dan emosi positif terhadap masa yang akan datang.
Dalam konteks kehidupan di dunia, kebahagiaan itu tidak sama dengan kumpulan kenikmatan, karena bisa saja seseorang hidupnya dipenuhi dengan kenikmatan tapi dia tidak bahagia. Demikian pula kebahagiaan itu tidak berarti tidak adanya kesulitan dan penderitaan, karena bisa jadi penderitaan datang terus menerus namun tidak merusak kebahagiaan (Haidar, 2012).
Apa yang kita cari di dunia ini sebenarnya adalah rasa bahagia, yakni perasaan senang, tenang, dan puas dalam menjalani kehidupan, dengan kata lain hidup dengan perasaan yang positif.
Saat kita telah memiliki perasaan bahagia maka seakan kita telah memiliki segalanya, walau mungkin kita tidak punya apa-apa. Sebaliknya, saat perasaan bahagia itu tidak ada di dalam dada, maka seakan kita tidak punya apa-apa walau telah kita miliki segalanya.
Untuk bisa meraihnya, hal pertama yang harus kita lakukan adalah fokus pada rasa bahagia itu sendiri dan tidak hanya memusatkan pikiran pada keinginan-keinginan yang kita anggap akan memberikan kebahagiaan.
Shawn Achor dalam bukunya The Happiness Advantage, berdasarkan penelitian yang dilakukannya di Harvard University selama bertahun-tahun, dia menyimpulkan bahwa kebahagiaanlah sebenarnya yang menuntun seseorang pada kesuksesan. Bukan sebaliknya. Menurutnya, ada satu keyakinan yang salah di kalangan banyak orang, yaitu, “If you work hard, you will become successful, and once you become successful, then you’ll be happy” (Shawn, 2010). Artinya, “Jika anda bekerja keras maka anda akan sukses, dan jika anda sukses maka anda akan bahagia.” Secara tidak langsung keyakinan itu menyatakan, “Sukses dulu, bahagia kemudian”.
Ternyata keyakinan itu keliru, karena jika sukses adalah penyebab dari kebahagiaan, maka orang-orang yang telah mencapai apa yang menjadi tujuannya (kesuksesan) seharusnya mereka bahagia. Faktanya, tujuan itu terus menjauh ke depan dan kebahagiaan pun semakin terdorong melewati garis horizon (Shawn, 2010).
Maksudnya kira-kira begini, saya ingin punya rumah, setelah saya berhasil mendapatkannya lalu saya ingin punya kendaraan, lalu dan lalu datang keinginan yang lain setelah satu keinginan tercapai. Jika saya menempatkan ketercapaian atas keinginan-keinginan itu sebagai syarat dari kebahagiaan, maka yang terjadi adalah kebahagiaan itu akan terus tertunda, karena ia selalu mengikuti keinginan. Sedangkan saya tidak tahu kapan dan dimana batas keinginan itu selain daripada kematian.
Kesimpulan dari penelitian Shawn, yang menyatakan bahwa kebahagiaanlah sebenarnya yang menuntun seseorang pada kesuksesan sangat dapat diterima, karena ketika seseorang telah berhasil merasakan ketenangan hidup, ketenteraman jiwa, atau yang kita sebut dengan kebahagiaan batin, maka dia akan memiliki kesehatan mental.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Abdel-Khalek, seorang profesor bidang Psikologi di Alexandria University, terkait dengan hubungan kebahagiaan, kesehatan, dan religiusitas di kalangan orang-orang dewasa di Lebanon, hasil penelitiannya menemukan bahwa orang-orang yang bahagia memiliki kesehatan mental dan fisik yang baik (Abdel-Khaleek, 2015).
Kesehatan mental merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana seseorang dapat memanfaatkan kognisi dan emosi berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari (Webster dalam Zulkarnain, 2019).
Dengan kesehatan mental yang ada, hidup seseorang akan lebih terarah dan lebih produktif. Sebaliknya, dengan kesehatan mental yang terganggu, kualitas hidup seseorang juga akan terganggu.
Berdasarkan penelitian terhadap para pasien yang memiliki gangguan kesehatan mental, Profesor Zakiah Darajat (m. 2013) menyimpulkan bahwa kesehatan mental yang terganggu dapat mempengaruhi keseluruhan hidup seseorang.
Dengan demikian kebahagiaan itu lebih fundamental daripada kesuksesan. Maka sebelum kita mengejar kesuksesan, pertama-tama kejarlah dulu kebahagiaan.
Secara estafet, fokuskan hati dan pikiran untuk meraih kebahagiaan, dengan kebahagiaan kita akan memiliki kesehatan mental yang baik, dan dengan berbekal kesehatan mental yang baik kita dapat melakukan usaha-usaha untuk meraih kesuksesan.
Seseorang mungkin saja dapat meraih kesuksesan walau tidak bahagia, tapi kesuksesan yang disertai dengan kebahagiaan adalah sebuah kesuksesan yang bermakna. Sementara ketiadaan rasa bahagia akan membuat hidup seseorang terasa hampa walau kesuksesan telah diraihnya.
Bahagia Itu Ada di Dalam Diri Kita Sendiri
Jika kebahagiaan itu mempersyaratkan tercapainya segala keinginan dalam hidup, maka tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar bisa merasakannya.
لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا
“Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, tentu ia menginginkan yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia menginginkan lagi yang ketiga.” (HR. Bukhari)
Bahagia itu adalah sebuah rasa, dan rasa bertempat di dalam hati. Tanpa mengesampingkan segala kebutuhan dan keinginan kita di dunia, harus kita sadari bahwa kebahagian itu sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri. Apa yang kita inginkan terjadi dalam hidup, hal-hal yang ada di luar diri kita, sebenarnya hanya membantu untuk “mengaktifkan”nya. Dan kebahagiaan itu tidak selalu bergantung kepadanya.
Jika kita benar-benar menyadari bahwa kebahagiaan itu sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri dan tahu bagaimana cara “menumbuhkan”nya, maka kita akan selalu bisa merasakannya, meski dalam kondisi yang berbeda-berbeda dan dalam situasi yang berubah-ubah.
Kebahagiaan yang disebabkan oleh hal-hal yang berada di luar diri kita biasanya bersifat sementara. Seseorang yang menginginkan sebuah benda misalnya, dia akan merasa senang saat dia berhasil memilikinya, tapi perlahan rasa senang itu hilang dan mulai melirik benda-benda yang lainnya.
Hal-hal yang ada di luar diri kita, yang dapat memberikan kita rasa bahagia, Al-Qur’an sendiri menyebutnya dengan istilah mata’. Dalam Lisan Al-‘Arab, Ibnu Mandzur menjelaskan bahwa mata’ adalah sesuatu yang disenangi manusia, dipergunakan, kemudian hilang tanpa tersisa. Artinya, mata’ mengandung makna sebagai kesenangan yang bersifat sementara.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran: 14)
Bahkan ada sebagian orang yang hidupnya sudah diliputi oleh faktor-faktor yang menurut kebanyakan orang cukup untuk membuat mereka bahagia, tapi ternyata tidak demikian dengan apa yang mereka rasakan.
Mungkin kita pernah membaca berita tentang kasus bunuh diri. Entah berapa liter tinta yang digunakan oleh media cetak di seluruh dunia, entah berapa kilobyte ruang hosting yang dihabiskan seluruh portal berita online di internet, untuk memberitakan kasus-kasus bunuh diri. Banyak diantara mereka adalah para pengusaha dan publik figur yang identik dengan kekayaan.
Kekayaan seharusnya membuat mereka lebih bahagia, karena betapa mudahnya bagi mereka memenuhi segala kebutuhan dan keinginan. Tapi faktor dari dalam; pikiran dan perasaan lebih berkuasa atas sikap dan tindakan mereka.
Sebut saja Steve Bing, seorang produser film-film Holywood yang kaya raya. Pada tahun 2020 lalu, dia melompat dari lantai 27 untuk mengakhiri hidupnya. Padahal dia memiliki kekayaan sebesar 8,2 triliun rupiah. Kabarnya, dia tidak tahan dengan aturan pembatasan sosial selama pandemi.
Ada banyak sederet kasus bunuh diri lainnya yang dilakukan oleh orang-orang yang telah memiliki sesuatu yang seharusnya membuat mereka bahagia. Adolf Merckle menabrakan dirinya pada kereta api, padahal dia dinobatkan sebagai orang terkaya di Jerman. Getulio Vargas, seorang presiden Brazil menembak dada kirinya sendiri, padahal dia memiliki kekuasaan. Michael Jackson juga dikabarkan meminum obat tidur hingga overdosis, padahal dia memiliki ketenaran.
Kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran adalah faktor-faktor yang seharusnya membuat seseorang bahagia. Namun faktor internal, yakni kondisi psikologis lebih berperan atas kebahagiaan.
Terkadang juga hal-hal yang berada di luar diri kita tidak menimbulkan perasaan apapun. Pernah suatu hari saya berdialog dengan seorang teman yang baru kembali dari liburan. Dia mengatakan bahwa selama liburan dia kurang merasakan ketenangan, terasa hampa, dan juga kurang menikmati perjalanan. Karena pikiran dan hatinya terus dibayangi oleh pengalaman pahit yang dialaminya.
Artinya, bagi mereka yang sedang dikuasai oleh kesedihan, kemanapun dia pergi, tempat-tempat itu tidak akan mempengaruhi suasana hati dan jiwanya. Padahal seharusnya liburan adalah suatu hal yang sangat menyenangkan.
Di sisi yang lain, suatu hari saya pernah bertemu dengan seorang pengidap kanker. Saya tidak melihat sedikitpun dari gerak-geriknya tanda kegelisahan, juga tidak ada pada raut wajahnya rona kesedihan dan keputusasaan. Ada senyum, ada tawa, dan dia melakukan aktifitas seperti biasa. Ketika saya tanya mengenai keadaanya tersebut, dia menjawab, “Saya terima saja, ini sudah ketentuan Allah untuk saya”.
Ini menunjukan kepada kita bahwa kebahagiaan itu tidak hanya berasal dari hal-hal yang ada di luar diri kita. Cahaya kebahagiaan itu bisa menyala di rumah-rumah yang megah maupun di gubuk-gubuk yang reyot, di tempat-tempat pesta maupun di sudut-sudut rumah sakit.
Semua orang bisa bahagia dalam kondisi apapun, baik ketika dia lapang maupun sempit, baik ketika dia sehat maupun sakit, yang jelas ketika dia masih hidup. Tergantung bagaimana cara dia menjalani hidup.
Tidak harus menunggu kaya untuk menjadi orang yang bahagia, demikian pula tidak harus menjadi miskin dan anti terhadap pencapaian dunia. Orang yang diberi kekayaan lalu dia bersyukur, maka dia akan bahagia dengan kebahagiaan yang sebenarnya. Demikian pula orang yang memiliki sedikit harta, dia tetap bisa merasakan bahagia jika dia tahu bagaimana cara menyikapi keadaanya.
Tugas Kita Menumbuhkannya
Allah memberikan kita hati dan di dalamnya sudah tertanam potensi rasa bahagia, tugas kita adalah “menumbuhkannya”. Seperti benih bunga mawar yang ditanam di sebuah pot, agar ia tumbuh dan berbunga lebat mewarnai pekarangan, maka kita harus merawatnya. Menyiramnya setiap hari, mengatur intensitas cahaya, dan membersihkan gulma yang akan menghambat pertumbuhannya.
Demikian pula dengan benih-benih kebahagiaan di dalam diri kita, agar ia tumbuh subur mewarnai hari-hari kita, maka kita harus berupaya menumbuhkannya.
Lalu bagaimana caranya?
Disamping kebahagiaan subjektif, sebenarnya ada kebahagiaan universal, yang dapat dirasakan oleh semua orang, tanpa memandang dia kaya atau miskin, apakah sedang dalam kemudahan atau kesulitan, apakah dia sedang berhasil atau gagal, yaitu kebahagiaan yang diperoleh melalui jalan agama.
Berbagai penelitian tentang hubungan agama dan kebahagiaan telah banyak dilakukan. Hasil-hasil penelitian itu menunjukan bahwa agama berperan penting dalam kebahagiaan seseorang. Martin Seligman (2005), hasil penelitiannya menemukan bahwa orang yang menjalankan ajaran agama lebih bahagia dan lebih puas terhadap kehidupan daripada mereka yang tidak menjalankannya. Sementara menurut Lewis (dalam Ghufron, 2020) agama mendorong seseorang untuk memiliki sikap positif. Orang-orang yang menghayati ajaran agama cenderung memahami faktor psikologis yang berdampak pada kebahagiaan, dan hal ini membantu mereka untuk mengatasi stress secara efektif.
Peran agama dalam kebahagiaan individu terjadi karena agama memberikan keterpaduan sistem kepercayaan yang menjadikan seseorang bisa menemukan makna hidup dan harapan akan masa depan (Ghufron, 2020).
Agama membuat seseorang lebih mampu memahami peristiwa-peristiwa dalam siklus kehidupan yang terdiri dari kenikmatan dan kedukaan.
Ajaran agama memungkinkan seseorang untuk selalu dapat merasakan kebahagiaan. Misalnya, di dalam agama terdapat ajaran agar selalu ikhlas dalam melakukan segala kebaikan, hal ini akan membuat seseorang tidak begitu peduli terhadap penghargaan. Di dalam agama ada perintah untuk bersyukur saat mendapatkan kenikmatan. Dengan mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan, seseorang akan lebih mampu menghargai dan menikmati hidupnya. Di dalam agama juga diperintahkan untuk bersabar saat menghadapi kesulitan, disertai dengan adanya jaminan balasan kenikmatan. Hal ini mendorong seseorang pada sikap optimis dan besarnya harapan, serta menjauhkannya dari keputusasaan. Dan masih banyak lagi ajaran di dalam agama yang setelah dilakukan pengujian terbukti berhasil memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang melaksanakannya.
Maka cara terbaik untuk menumbuhkan kebahagiaan di dalam diri kita adalah hidup dalam bimbingan agama, yakni menghayati dan mengamalkan ajaran agama dalam seluruh aspek kehidupan. Dalam hal ini tentu saja agama yang dimaksud adalah Islam dengan kesempurnaan ajarannya.
Kita tidak dipaksa untuk percaya bahwa Islam memuat ajaran-ajaran praktis yang berkontribusi pada kebahagiaan. Cukup kita laksanakan ajarannya dan hasilnya biarkan hati kita yang merasa. Sebagaimana kita tidak dipaksa untuk percaya bahwa garam itu rasanya asin, untuk tahu bagaimana rasanya tugas kita adalah mengecapnya.
Hidup dalam bimbingan agama Islam tidak hanya akan berdampak pada kebahagiaan di dunia, namun yang paling utama adalah kebahagiaan di akhirat. Yaitu puncak dari segala kebahagiaan dan kenikmatan, yang tidak bisa kita bayangkan seperti apa rasanya dan bagaimana gambarannya. Dan itulah kebahagiaan yang sejati.
Pertanyaannya, apakah semua orang bisa memiliki kesadaran yang sama untuk menjalankan agama? Pada dasarnya sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan memerlukan adanya hidayah dan pertolongan Allah. Tidak ada seorang pun yang dapat menetapi jalan kebaikan dan menghindari jalan keburukan tanpa hidayah. Oleh karena itu di dalam Al-Qur’an Allah membimbing kita agar selalu memohon petunjuk kepada-Nya.
ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus” (QS. Al-Fatihah: 6)
Paling sedikit kita diperintahkan untuk membaca do’a ini sebanyak 17 kali dalam sehari, di dalam shalat wajib. Akan lebih baik jika kita menyempurnakan shalat kita dengan shalat-shalat sunnah. Karena semakin banyak kita shalat, maka semakin banyak kita memohon petunjuk kepada-Nya.
Selain di dalam shalat, sebaiknya hidayah dan pertolongan Allah juga selalu kita mohonkan di setiap waktu dan di setiap tarikan nafas kita. Karena kebutuhan kita pada hidayah sangat primer dan mendesak. Ibarat kebutuhan tubuh kita terhadap air. Sekarang kita minum, sejam dua jam kemudian kita merasakan lagi haus. Saat kita merasakan haus, maka air adalah satu-satunya obat untuk menghilangkannya. Akan terus seperti itu sampai tubuh kita tidak lagi bernyawa.
Demikian kebutuhan jiwa kita terhadap hidayah dan pertolongan Allah, tidak cukup kita memintanya hanya sekali dua kali, serta jangan pernah merasa cukup ketika kita sedang tergerak untuk beramal. Sampai akhir hayat kita harus selalu memohon hidayah dan pertolongan-Nya, karena bisa jadi hari ini kita semangat untuk beramal, tapi besok atau lusa kita malas mengerjakannya. Saat kita malas untuk beramal, maka hidayah dan pertolongan Allah adalah satu-satunya obat untuk menghilangkan rasa malas itu.
Ingatlah bahwa nilai seseorang di mata Allah tergantung bagaimana amalan di akhir hayatnya.
وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا
“Dan sesungguhnya amal itu tergantung akhirnya” (HR. Bukhari)
Orang yang melakukan keburukan dalam hidupnya namun dia mati dalam keadaan taat kepada Allah maka akan dinilai sebagai orang yang taat. Sebaliknya orang yang melakukan ketaatan dalam hidupnya namun mati dalam kedzaliman maka akan dinilai sebagai orang yang dzalim. Disini kita bisa merasakan betapa hidayah itu penting untuk selalu kita mohonkan kepada Allah agar kita tidak wafat dalam keadaan su’ul khatimah.
Dan dari itu semua, agar kita selalu memiliki kesadaran untuk menjalankan agama, teruslah kita memohon kepada Allah agar diberikan hidayah sambil kita memantaskan diri supaya hidayah itu dapat merasuk ke dalam hati.
Dengan demikian agar tercapai tujuan kita meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, disini kita memadukan antara kekuatan ilahi dan kekuatan insani. Kekuatan ilahi bekerja dalam memberikan bimbingan dan arahan untuk kita berbuat serta memberikan dampak-dampak positif dari perbuatan tersebut. Sedangkan kekuatan insani bekerja dalam penyesuaian diri dengan bimbingan dan arahan yang diberikan oleh Tuhan. Sesuai dengan firman-Nya:
وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَٰنِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)
Demikianlah, semua orang bisa bahagia selama mereka hidup dalam tuntunan agama. Semoga bab demi bab dalam buku ini dapat memberikan manfaat kepada anda untuk menemukan ketenangan hidup (Dikutip dari buku “Meniti Jalan Kebahagiaan, Karya Dede Komarudin Soleh, M.Ag)
