Tidak Perlu Ikut Les, Inilah yang Justru Harus Ditanamkan Pada Anak
“Kamu ikut les, nggak?” tanya seorang anak pada temannya.
“Ikut… Hari Minggu aku les-nya,” jawab anak yang lain.
Percakapan sederhana itu terdengar ketika aku sedang mengajar di kelas pada jam literasi. Jam ini memang sengaja difokuskan untuk mengasah minat dan kemampuan literasi anak. Harapannya, anak-anak tidak hanya mampu membaca teks, tetapi juga memahami isi bacaan, menyerap informasi dengan benar, menyaring isu yang berkembang, serta terbiasa berpikir kritis terhadap apa pun yang mereka terima.
Setiap masuk kelas, aku selalu berusaha melatih kepekaan anak terhadap bacaan. Apakah mereka benar-benar memahami apa yang dibaca, atau sekadar lancar melafalkan kata demi kata tanpa tahu maknanya. Jangan sampai anak hanya “pandai membaca”, tetapi tidak paham isi bacaan.
Bagi anak-anak yang belum lancar membaca, aku pun berusaha merangkul mereka dengan pendekatan yang menyenangkan. Aku ingin mereka mencintai buku, bukan merasa tertekan olehnya. Karena dengan membaca, wawasan seseorang akan bertambah, cara berpikirnya semakin tajam, dan kelak ia mampu menyikapi informasi dengan lebih bijak. Membaca juga melatih anak untuk tidak mudah termakan hoaks, karena terbiasa melakukan tabayyun—mengecek dan mengonfirmasi informasi sebelum mempercayainya.
Kembali ke obrolan soal les, aku menghampiri dua anak yang sedang asyik “ngerumpi” di jam pelajaran.
“Emang nggak capek ya, hari Ahad masih belajar?” tanyaku.
Keduanya hanya saling berpandangan, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.
“Hari libur itu seharusnya dipakai buat istirahat. Aa kan sudah belajar di sekolah fullday. Masa hari libur masih diisi belajar juga?” ujarku, sambil dalam hati tersenyum dan berpikir, ‘Aku ini guru macam apa, kok malah nyuruh muridnya banyak main?’
Tapi sungguh, itu bukan candaan. Memaksa anak untuk terus belajar secara akademik di usia dini adalah kekeliruan yang cukup serius. Niat orang tua mungkin baik—ingin anaknya pintar, unggul, dan tidak tertinggal. Namun sering kali yang terlupa adalah tugas perkembangan anak sesuai usianya.
Tugas Perkembangan Anak Usia 0–9 Tahun
Usia 0–9 tahun merupakan masa emas perkembangan anak. Pada fase ini, anak belum membutuhkan tekanan akademik yang berat, melainkan pengalaman hidup yang kaya, aman, dan menyenangkan—terutama melalui bermain.
-
Usia 0–2 tahun
Anak belajar melalui sentuhan, gerakan, suara, dan interaksi dengan orang terdekat. Tugas perkembangannya adalah membangun rasa aman (secure attachment), mengenal emosi, serta melatih motorik kasar dan halus. Di usia ini, bermain bukan sekadar hiburan, tetapi sarana utama belajar. -
Usia 3–6 tahun
Anak mulai aktif bereksplorasi, bertanya, berimajinasi, dan meniru. Bermain peran, menggambar, berlari, memanjat, dan bercakap-cakap justru membantu perkembangan bahasa, sosial, emosi, dan kreativitasnya. Terlalu banyak les dan target akademik justru berisiko membuat anak mudah lelah, cemas, bahkan kehilangan rasa ingin tahu. -
Usia 7–9 tahun
Anak mulai siap dengan tanggung jawab sederhana dan belajar lebih terstruktur. Namun, kebutuhan bermain tetap sangat penting. Bermain membantu anak mengelola emosi, belajar bekerja sama, menyelesaikan konflik, dan membangun kepercayaan diri. Akademik memang mulai diperkenalkan lebih serius, tetapi tetap harus seimbang dan tidak menekan.
Anak Bahagia, Tumbuh Optimal
Anak yang cukup bermain adalah anak yang kebutuhan perkembangannya terpenuhi. Bermain membuat anak merasa bahagia, diterima, dan bebas menjadi dirinya sendiri. Dari kebahagiaan itulah tumbuh rasa percaya diri, kesehatan mental yang baik, dan kesiapan belajar yang alami.
Belajar tidak selalu harus duduk manis, memegang buku, atau mengerjakan lembar kerja. Bermain kejar-kejaran, bersepeda, menggambar, menyusun balok, atau sekadar mengobrol dengan teman sebaya pun adalah bentuk belajar yang sangat bermakna.
Maka, alih-alih membebani anak dengan segudang les dan target, mari bertanya pada diri sendiri: apakah anak kita sudah cukup bahagia? Karena anak yang bahagia, tanpa tekanan berlebihan, akan tumbuh dan berkembang dengan jauh lebih baik.
