First Flight / Bab 2
Bandara internasional, pukul 06.15.
Bandara ternyata jauh lebih besar daripada yang pernah Arka bayangkan.
Langit-langitnya tinggi. Orang-orang bergerak ke segala arah. Pengumuman keberangkatan terdengar bergantian dengan suara roda koper yang beradu dengan lantai.
Arka berdiri di tengah keramaian sambil menggenggam tiketnya.
Penerbangan menuju Jakarta.
Nomor kursi: 18A.
Ia memeriksa tiket itu untuk ketiga kalinya.
“Jangan sampai salah pesawat,” gumamnya.
Ayahnya menepuk bahunya.
“Tenang. Ikuti petunjuknya. Kalau bingung, tanya petugas.”
“Iya, Yah.”
Ibunya merapikan kerah kemejanya, meskipun sebenarnya tidak ada yang salah dengan kerah itu.
“Sudah makan?”
“Sudah.”
“Obat masuk angin?”
“Sudah.”
“Dompet?”
“Sudah, Bu.”
“Kalau sampai sana—”
“Bu,” Arka memotong sambil tersenyum, “aku cuma pergi kuliah, bukan pergi ke planet lain.”
Ibunya terdiam sebentar, kemudian tertawa kecil. Namun, Arka melihat matanya sedikit memerah.
Ia memeluk ibunya lebih dulu, lalu ayahnya.
“Jaga diri,” kata ayahnya.
Arka mengangguk.
“Doakan aku.”
“Selalu.”
Ia berjalan menuju pemeriksaan keberangkatan tanpa menoleh lagi.
Bukan karena tidak ingin melihat keluarganya.
Justru karena ia tahu, kalau ia menoleh, mungkin ia akan kembali.
Di dalam pesawat, Arka menemukan kursi 18A di dekat jendela.
Ia duduk, memasang sabuk pengaman, lalu meletakkan kedua tangan di atas paha. Telapak tangannya basah.
Di luar jendela, kendaraan-kendaraan kecil bergerak di sekitar pesawat. Petugas darat memberi isyarat kepada pilot. Mesin pesawat mengeluarkan suara yang semakin kuat.
Arka menelan ludah.
Ia pernah menonton ratusan video penerbangan. Ia tahu bagaimana pesawat bekerja, bagaimana sayap menghasilkan gaya angkat, bahkan bagaimana pilot mempersiapkan lepas landas.
Namun, mengetahui teori ternyata tidak membuat jantungnya berhenti berdebar.
“Penerbangan pertama?”
Seseorang bertanya dari kursi sebelah.
Arka menoleh.
Seorang perempuan muda dengan rambut sebahu sedang memasang earphone. Ia mengenakan jaket krem dan membawa buku kecil bersampul cokelat.
“Kelihatan, ya?”
“Sedikit.”
“Dari mana?”
“Dari caramu melihat jendela seperti sedang menunggu seseorang muncul dari sana.”
Arka tertawa canggung.
“Mungkin aku memang sedang menunggu sesuatu.”
Perempuan itu mengangkat alis.
“Pesawatnya sudah ada di sini.”
“Maksudku, sesuatu yang lain.”
Perempuan itu tersenyum.
“Nara.”
“Arka.”
Mereka berjabat tangan singkat.
Nara kemudian kembali memasang earphone, seolah percakapan mereka sudah selesai. Namun, beberapa menit kemudian, ketika pesawat mulai bergerak menuju landasan, Arka kembali menoleh ke arahnya.
“Kamu sering naik pesawat?”
“Cukup sering.”
“Tidak takut?”
Nara memandangnya sebentar.
“Takut apa?”
“Jatuh.”
Nara tertawa. “Kalau kamu terus memikirkan kemungkinan terburuk, kamu tidak akan pernah pergi ke mana-mana.”
Arka terdiam.
Ia tidak tahu mengapa kalimat itu terasa seperti ditujukan tepat kepadanya.
Pesawat berhenti di ujung landasan.
Sesaat, semuanya terasa hening.
Lalu mesin meraung.
Tubuh Arka terdorong ke sandaran kursi ketika pesawat melaju semakin cepat. Garis-garis di luar jendela berubah menjadi bayangan. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia merasa orang lain mungkin bisa mendengarnya.
Dan kemudian—
Tanah perlahan menjauh.
Bangunan mengecil. Jalan raya berubah menjadi garis-garis tipis. Rumah-rumah yang selama ini tampak besar kini menyerupai mainan.
Arka mencengkeram sandaran tangan.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Nara.
Arka mengangguk cepat, meskipun wajahnya mungkin mengatakan sebaliknya.
Beberapa menit kemudian, pesawat menembus lapisan awan.
Cahaya matahari memenuhi jendela.
Di bawah mereka, awan membentang seperti lautan putih yang tidak memiliki ujung.
Arka melepaskan genggamannya.
Ia mendekatkan wajah ke jendela.
Selama bertahun-tahun, ia memandangi pesawat dari bawah. Ia membayangkan bagaimana rasanya berada di sana, jauh dari jalanan kecil kotanya, jauh dari atap-atap rumah, jauh dari segala sesuatu yang dikenalnya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa dunia dari atas akan terasa setenang ini.
Matanya mulai panas.
“Indah, ya?” kata Nara pelan.
Arka mengangguk.
“Lebih indah daripada yang kubayangkan.”
“Kadang-kadang kenyataan memang lebih baik daripada bayangan kita.”
Arka menoleh.
Nara sedang menatap awan, tetapi senyumnya tidak lagi terlihat seperti tadi. Ada kesedihan yang samar di wajahnya.
“Kamu pergi ke Jakarta untuk apa?” tanya Arka.
“Untuk memulai sesuatu.”
“Apa?”
Nara menutup buku kecil di pangkuannya.
“Sesuatu yang seharusnya sudah kumulai sejak lama.”
Arka ingin bertanya lebih jauh, tetapi ia mengurungkan niatnya.
Mereka kembali menatap jendela.
Dua orang asing, duduk berdampingan, bergerak menuju kota yang sama dengan alasan yang berbeda.
Menjelang pendaratan, Arka membuka ponselnya dalam mode pesawat yang diizinkan untuk digunakan sesuai aturan maskapai.
Ia menemukan sebuah pesan dari ibunya.
Jangan lupa makan. Kalau sudah sampai, kabari.
Arka tersenyum.
Ia mengetik balasan singkat, lalu menambahkan satu foto awan yang diambil dari jendela.
Bu, aku sudah di atas awan.
Beberapa detik kemudian, ia menerima balasan.
Alhamdulillah. Semoga Allah menjaga perjalananmu.
Arka membaca pesan itu dua kali.
Di luar jendela, awan mulai terbelah. Kota Jakarta perlahan muncul di bawah mereka, luas dan padat, seolah tidak memiliki batas.
Pesawat mulai turun.
Arka menarik napas panjang.
Penerbangan pertamanya hampir selesai.
Namun, ia mulai menyadari bahwa keberanian bukan berarti tidak merasa takut.
Keberanian adalah tetap duduk di kursi itu, tetap memandang ke depan, meskipun seluruh tubuhnya ingin kembali ke tempat yang dikenalnya.
Ketika roda pesawat akhirnya menyentuh landasan, Arka tersenyum lega.
Ia telah melakukannya.
Ia benar-benar telah terbang.
Dan saat itu, ia belum tahu bahwa perempuan di kursi sebelahnya akan menjadi bagian penting dari perjalanan yang jauh lebih panjang daripada penerbangan pagi itu.
Komentar (0)
- Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
