Ada sebuah ironi dalam pola pengasuhan generasi milenial. Banyak orang tua milenial tumbuh dengan didikan yang jauh lebih keras dibandingkan pola asuh yang mereka terapkan kepada anak-anaknya sekarang.
Dahulu, keinginan anak tidak selalu mudah dikabulkan. Bahkan untuk sekadar meminta sesuatu, sebagian anak memilih berpikir berkali-kali karena sudah bisa menebak jawaban orang tua: belum tentu boleh.
Generasi milenial tumbuh dengan prinsip bahwa hidup tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Mau sesuatu? Menabung. Tidak punya uang? Ya bersabar. Tidak dikabulkan orang tua? Belajar menerima. Bahkan ada yang akhirnya memilih memendam keinginan karena merasa percuma menyampaikannya kepada orang tua.
Didikan semacam itu, yang oleh sebagian orang bercanda disebut sebagai didikan “VOC”, membentuk banyak anak menjadi pribadi yang terbiasa menahan diri, mandiri, dan tidak mudah menyerah ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Namun, ketika generasi milenial menjadi orang tua, situasinya justru berubah. Mereka yang dahulu terbiasa menerima kata “tidak” kini sering kali lebih mudah mengatakan “iya” kepada anak.
Lantas, mengapa?
Dahulu Anak Dilatih Mandiri, Sekarang Anak Lebih Banyak Dimudahkan
Orang tua zaman dahulu, termasuk mereka yang secara ekonomi berkecukupan, tidak selalu memberikan seluruh kemudahan kepada anak sejak kecil. Anak tetap didorong untuk belajar mengurus dirinya sendiri, memahami tanggung jawab, dan mengerti bahwa sesuatu yang diinginkan membutuhkan usaha.
Bagi banyak orang tua pada masa itu, keterampilan hidup, kemandirian, disiplin, dan mental tahan banting jauh lebih penting daripada sekadar harta benda.
Harta bisa diwariskan kemudian.
Rumah, tanah, atau aset lainnya mungkin diberikan ketika anak sudah menikah atau ketika orang tua meninggal dunia. Namun sebelum sampai pada tahap itu, anak diharapkan sudah memiliki kemampuan untuk menjalani kehidupannya sendiri.
Prinsipnya sederhana: jangan hanya mewariskan harta, tetapi wariskan pula kemampuan untuk mengelolanya.
Berbeda dengan sebagian orang tua milenial saat ini. Karena pernah merasakan sulitnya masa kecil, mereka justru ingin memberikan kehidupan yang lebih mudah kepada anak-anaknya.
Niatnya tentu baik. Tetapi, jika terlalu jauh, kemudahan justru bisa berubah menjadi ketergantungan.
Mengapa Orang Tua Milenial Lebih Lunak kepada Anak?
Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat pola asuh orang tua milenial cenderung lebih lunak dibandingkan pola asuh yang mereka terima dahulu.
-
Tidak Ingin Anak Mengalami Kesulitan Seperti Dirinya
Kalimat seperti ini mungkin tidak asing:
“Dulu saya susah mendapatkan apa-apa. Anak saya jangan sampai merasakan kesusahan yang sama.”
Ada pengalaman masa lalu yang ingin ditebus.
Orang tua milenial pernah merasakan harus menunggu, menabung, menahan keinginan, bahkan menerima penolakan. Ketika memiliki anak, mereka kemudian berpikir bahwa selama mampu, mengapa harus membuat anak merasakan kesulitan yang sama?
Di sinilah persoalannya.
Memberikan kehidupan yang lebih baik tentu bukan sesuatu yang salah. Justru menjadi hal yang sangat wajar bagi setiap orang tua. Yang perlu diperhatikan adalah batas antara memberikan kemudahan dan menghilangkan kesempatan anak untuk belajar berjuang.
Anak tidak harus dibuat menderita. Namun, anak juga tidak perlu selalu dibuat nyaman. Sebab ada keterampilan hidup yang hanya bisa diperoleh ketika seseorang pernah menunggu, kecewa, berusaha, dan gagal mendapatkan sesuatu.
-
Tidak Tega Melihat Anak Membandingkan Dirinya dengan Teman
Zaman sudah berubah. Ketika generasi milenial masih kecil, informasi tidak bergerak secepat sekarang. Jika seorang anak tidak memiliki mainan tertentu, kemungkinan ia bahkan tidak tahu bahwa temannya memiliki mainan tersebut.
Sekarang berbeda. Anak bisa melihat apa yang dimiliki teman-temannya melalui percakapan sehari-hari, media sosial, video, hingga berbagai platform digital.
Akhirnya muncul pertanyaan yang cukup sering didengar orang tua:
“Papahnya si A membelikan itu, kenapa Papa tidak?”
Bagi sebagian orang tua, kalimat sederhana seperti itu bisa menimbulkan rasa bersalah. Tak ingin anak kecewa, akhirnya dibelikan. Anak meminta lagi, diberikan lagi. Lama-kelamaan, tanpa disadari, anak belajar bahwa keinginan bisa dipenuhi selama ia cukup gigih meminta. Padahal, salah satu bagian penting dalam pendidikan karakter adalah mengajarkan anak bahwa tidak semua keinginan harus dipenuhi.
-
Anak Mendapat Informasi Lebih Cepat daripada Orang Tuanya
Orang tua milenial sebenarnya bukan generasi yang tidak mau belajar. Justru banyak di antara mereka yang sangat aktif mencari informasi tentang parenting, pendidikan anak, kesehatan mental, perkembangan anak, dan berbagai metode pengasuhan.
Masalahnya, anak-anak mereka tumbuh di lingkungan informasi yang jauh lebih cepat. Orang tua membaca satu artikel tentang parenting hari ini. Anak mungkin sudah melihat puluhan video, membaca berbagai informasi, dan berdiskusi dengan teman-temannya tentang topik yang sama.
Ditambah lagi dengan akses internet dan gawai, anak-anak dapat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Akibatnya, tidak sedikit orang tua yang merasa kewalahan ketika berdiskusi dengan anak. Anak memiliki argumen dan banyak referensi. Bahkan terkadang menunjukkan informasi yang belum diketahui orang tuanya.
Jika orang tua tidak memiliki cukup bekal untuk menyaring informasi tersebut, diskusi bisa berakhir dengan satu keputusan paling mudah: mengalah.
“Ya sudah, terserah kamu.”
Atau:
“Kalau memang kamu mau, silakan.”
Bukan karena orang tua tidak peduli, tetapi karena mereka kehabisan energi untuk berdebat.

Terlalu Keras Salah, Terlalu Lunak Juga Bisa Bermasalah
Di sinilah tantangan terbesar orang tua milenial dalam mendidik anak. Mereka tidak ingin mengulang pola pengasuhan orang tuanya dulu yang dianggap terlalu keras. Namun, di sisi lain, mereka juga tidak ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri.
Jika terlalu keras, anak bisa merasa tidak dipahami bahkan bisa berontak. Jika terlalu lunak, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar disiplin dan bertanggung jawab. Seolah-olah orang tua berada di tengah pilihan yang sama-sama tidak mudah. Padahal, menjadi orang tua bukan tentang memilih antara keras atau lembut.
Yang lebih penting adalah tegas tanpa menyakiti dan lembut tanpa memanjakan. Anak tetap boleh kecewa dan mendengar kata “tidak”. Anak boleh menunggu, mereka juga perlu belajar bahwa ada sesuatu yang harus diperjuangkan sebelum akhirnya bisa dimiliki.
Itu bukan berarti orang tua tega kepada anak. Justru di situlah orang tua sedang mempersiapkan anak menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.
Jangan Sampai Anak Hanya Mewarisi Kenyamanan
Hal yang menarik dari generasi milenial adalah, mereka mungkin tidak sepenuhnya meninggalkan nilai-nilai yang diwariskan orang tua terdahulu. Banyak yang masih memegang teguh kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, kesopanan, dan keteladanan. Namun, dalam hal memberikan kenyamanan kepada anak, generasi ini cenderung lebih longgar.
Mungkin karena mereka pernah merasakan sulitnya hidup dan telah bertekad untuk menjadi orang tua yang lebih baik. Bisa juga karena mereka memiliki kemampuan ekonomi yang lebih baik sehingga bisa memberikan apa yang dahulu tidak mereka miliki. Semua itu manusiawi.
Akan tetapi jangan sampai anak hanya menerima hasil perjuangan orang tua tanpa pernah belajar bagaimana perjuangan itu dilakukan. Sebab yang diwariskan kepada anak seharusnya bukan hanya rumah, kendaraan, tabungan, pendidikan, atau berbagai fasilitas.
Kemampuan untuk berdiri sendiri juga harus diwariskan. Anak perlu tahu bagaimana rasanya berusaha. Bagaimana rasanya menabung. Bagaimana rasanya menunggu. Bagaimana rasanya ditolak. Dan bagaimana caranya bangkit ketika keinginan tidak sesuai dengan kenyataan.
Generasi Milenial Bisa Memutus Mata Rantai, Bukan Menghapus Semua Aturan
Tidak bisa dipungkiri inilah pekerjaan rumah terbesar orang tua milenial. Tidak perlu mengulang seluruh kekerasan pola asuh masa lalu hanya karena dahulu kita mengalaminya. Namun, jangan pula menghapus semua ketegasan hanya karena kita ingin anak memiliki masa kecil yang lebih bahagia.
Ada nilai-nilai baik dari pola asuh masa lalu yang tetap layak dipertahankan seperti kemandirian, kejujuran, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, kemampuan menerima penolakan, dan ketangguhan dalam menghadapi kehidupan. Sementara hal-hal yang memang tidak baik dari pola asuh masa lalu bisa diperbaiki.
Dengan begitu, generasi milenial tidak sekadar menjadi orang tua yang lebih lunak kepada anak, tetapi menjadi generasi yang lebih sadar dalam memilih cara mendidik anak. Sebab tujuan parenting bukan membuat anak mendapatkan semua yang ia inginkan. Tujuan pengasuhan adalah mempersiapkan anak agar suatu hari mampu menjalani hidup tanpa selalu bergantung kepada orang tuanya.
Barangkali inilah bentuk kasih sayang yang paling sulit. Tidak selalu memberikan apa yang anak minta, tetapi memberikan apa yang anak perlukan untuk menjadi manusia yang kuat dan mandiri.
