Pagi itu aku sudah melangkah keluar rumah. Langkahku ringan karena ada tujuan yang ingin kutuju. Semua sudah kupersiapkan. Waktu, tenaga, bahkan semangat telah kukumpulkan sejak sebelum matahari meninggi. Namun sesampainya di perjalanan, kabar itu datang. Jadwal kegiatan berubah. Perjalanan yang sudah kutempuh menjadi sia-sia. Tidak ada pilihan lain selain memutar arah dan pulang kembali.
Sepanjang perjalanan pulang aku tersenyum kecil. Seolah aku kembali ke titik awal. Tidak ada tempat yang berhasil kutuju. Tidak ada urusan yang selesai. Yang berubah hanyalah jarak tempuh dan waktu yang telah berlalu.
Tetapi benarkah aku kembali ke titik nol? Entah mengapa, pikiranku justru melayang kepada sebuah peristiwa lain yang pernah kualami beberapa tahun lalu. Aku pernah dipercaya mengajar mata pelajaran yang sangat kusukai. Karena aku mencintai pelajaran itu, aku tidak ingin datang ke kelas hanya bermodal buku pegangan yang sudah ada. Aku menulis bahan ajarku sendiri. Aku menyusun materi demi materi, mencari referensi, menuliskan contoh, memperbaiki kalimat, hingga akhirnya lahirlah sebuah buku ajar yang kususun dengan penuh kesungguhan.
Bagiku, buku itu bukan sekadar kumpulan kertas. Di dalamnya ada waktu yang tidak sedikit. Ada malam-malam yang kulewati di depan layar komputer. Ada doa yang kupanjatkan agar ilmu yang kutulis menjadi manfaat bagi anak-anak didikku. Semua kulakukan karena aku ingin memberikan yang terbaik. Aku merasa siap mengajar.
Namun ternyata hidup memiliki rencana yang berbeda.Tanpa pernah kuduga, pengampu mata pelajaran itu diganti. Aku tidak lagi mengajarnya.
Aku memandang buku yang telah kususun dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sempat terlintas pertanyaan di dalam hati, “Untuk apa semua usaha ini? Untuk siapa buku ini kutulis jika akhirnya tidak pernah kupakai mengajar?”
Kecewa? Tentu saja. Sedih? Sangat. Namun setelah waktu berlalu, aku mulai memahami sesuatu. Barangkali buku itu memang tidak pernah hadir untuk mengubah murid-muridku. Barangkali Allah menghadirkannya untuk mengubah diriku.
Selama proses menyusunnya, aku dipaksa belajar lebih banyak. Aku membaca lebih banyak referensi. Aku memahami materi lebih dalam daripada sebelumnya. Aku berlatih berpikir sistematis. Aku belajar menjadi guru yang lebih baik, meskipun akhirnya kesempatan mengajarnya tidak datang.
Lalu, apakah semua itu sia-sia? Tidak. Buku itu kini kusimpan di rak. Ia menjadi kenang-kenangan dari sebuah perjuangan yang mungkin tidak pernah dilihat banyak orang. Namun setiap kali melihatnya, aku tidak lagi melihat sebuah kegagalan. Aku melihat bukti bahwa aku pernah berusaha memberikan yang terbaik.
Sering kali kita mengukur keberhasilan hanya dari hasil akhir. Padahal Allah mengajarkan bahwa manusia hanyalah pemilik ikhtiar, bukan pemilik hasil. Allah Ta’ala berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan kepadanya. Kemudian akan diberi balasan dengan balasan yang paling sempurna.” (QS. An-Najm: 39–41)
Ini mengajarkan bahwa yang menjadi milik kita adalah usaha, bukan kepastian hasil. Hasil berada di tangan Allah, sedangkan setiap langkah yang kita tempuh tidak pernah luput dari penilaian-Nya. Allah juga berfirman:
إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
“Sesungguhnya Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Kahfi: 30)
Betapa menenangkan ayat ini. Mungkin manusia tidak menghargai usaha kita. Mungkin kesempatan itu berpindah kepada orang lain. Mungkin pekerjaan yang kita persiapkan tidak pernah digunakan. Namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Mungkin buku ajar itu tidak pernah menjadi pegangan murid-muridku. Namun niat ketika menyusunnya telah lebih dahulu sampai kepada Allah. Bukankah demikian pula dalam mendidik anak?
Ada kalanya kita merasa sudah berjalan jauh. Sudah berkali-kali mengingatkan, menasihati, mendampingi, bahkan menangis dalam doa. Namun anak kembali mengulangi kesalahan yang sama. Kita merasa seolah kembali ke titik awal.
Padahal sesungguhnya tidak.Setiap nasihat yang pernah kita ucapkan sedang membangun ingatan dalam dirinya. Setiap doa yang kita panjatkan sedang mengetuk pintu langit. Setiap teladan yang kita berikan sedang menjadi benih yang suatu hari mungkin baru tumbuh ketika kita tidak lagi menyaksikannya.
Anak-anak tidak selalu berubah secepat yang kita harapkan. Sebagaimana pohon tidak tumbuh pada hari benih ditanam, pendidikan pun membutuhkan musim, hujan, panas, dan waktu yang hanya Allah mengetahuinya.
Kini aku tidak lagi menyesali perjalanan yang terhenti ataupun buku ajar yang tak pernah kupakai. Keduanya telah mengajariku satu pelajaran yang sangat berharga.
Tidak semua langkah membawa kita ke tempat yang kita inginkan. Tetapi setiap langkah yang diniatkan karena Allah selalu membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik. Mungkin manusia hanya melihat bahwa kita kembali pulang.Namun Allah melihat setiap jejak kaki yang telah kita tempuh.Dan di hadapan-Nya, tidak ada satu langkah pun yang sia-sia.
