Tidak semua tanaman yang tumbuh liar layak disebut gulma. Ada kalanya, tanaman yang dianggap tidak berguna justru menyimpan manfaat besar jika diberi kesempatan untuk tumbuh. Itulah yang saya rasakan saat menemukan sebuah bibit pohon kersen kecil di samping rumah.
Tingginya saat itu hanya sekitar 20 sentimeter. Batangnya kurus, tumbuh di sela rerumputan yang memenuhi gang sempit. Awalnya saya hampir mencabutnya bersama rumput liar lainnya ketika sedang membersihkan halaman.
Mengetahui bahwa itu anak pohon kersen, saya memilih memindahkannya ke sudut halaman yang lebih luas. Saya berpikir daripada dibuang, lebih baik ia diberi kesempatan untuk hidup. Terlebih saya ingat kalau pohon kersen bagus untuk tanaman peneduh.
Pohon Kersen Tumbuh Sangat Cepat
Tidak sampai satu tahun, tanaman kecil itu sudah menjulang tinggi dengan batang sebesar tangan yang mulai kokoh. Cabangnya bercabang ke berbagai arah, daunnya lebat, dan kini menjadi salah satu tanaman rindang di halaman samping rumah.
Ternyata tanah di samping rumah cocok untuk pertumbuhan pohon kersen. Padahal, tanah itu banyak batu, pasir dan bongkahan tembok yang dibuang di sana. Tanpa perawatan khusus dan penyiraman, kersen mampu tumbuh dengan baik di suhu panas.
Mengenal Buah Kersen Setelah Tinggal di Bandung
Menariknya saya tahu kersen saat tinggal di bandung. Banyak cerita orang yang memiliki kenangan masa kecil memanjat pohon kersen atau memakan buahnya sepulang sekolah, saya justru tidak memiliki cerita seperti itu.
Di kampung halaman saya yang berada di dataran tinggi, pohon kersen hampir tidak pernah ditemukan. Kemungkinan karena tanaman ini memang lebih menyukai daerah yang hangat dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut atau lebih rendah.
Saya baru mengenal pohon kersen setelah tinggal di Bandung. Saat itu saya sering melihat anak-anak maupun orang dewasa memetik buah kecil berwarna merah yang bentuknya sekilas menyerupai ceri. Bahkan saat ada kegiatan lapangan, ketika menemukan buah itu, teman-teman kuliah iseng memetik dan memakannya. Karena penasaran, saya ikut mencicipinya.
Rasanya cukup unik. Manis alami, tetapi ada sedikit sensasi berlendir pada daging buahnya. Bukan rasa yang langsung membuat saya jatuh hati, tetapi cukup menarik untuk dikenang.
Manfaat Pohon Kersen
Ketertarikan saya terhadap pohon kersen justru muncul bukan karena buahnya, melainkan setelah mencari tahu manfaat tanaman ini.
Saya baru mengetahui bahwa hampir seluruh bagian pohon kersen memiliki nilai manfaat, terutama daunnya yang telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman herbal di berbagai daerah.
Daun kersen (Muntingia calabura) diketahui mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, dan saponin. Kandungan tersebut memiliki aktivitas antioksidan yang cukup tinggi sehingga sering dimanfaatkan sebagai pengobatan tradisional pendamping.
Beberapa manfaat daun kersen yang banyak dibahas dalam berbagai penelitian antara lain:
- membantu mengontrol kadar gula darah,
- membantu menjaga tekanan darah tetap stabil,
- meredakan peradangan,
- membantu mengurangi nyeri sendi,
- melawan radikal bebas berkat kandungan antioksidannya.
Meski demikian, manfaat tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan rebusan daun kersen sebaiknya tidak dijadikan pengganti pengobatan dari dokter, melainkan sebagai pendamping pola hidup sehat.
Mengapa Daun Kersen Terasa Lengket?
Saat mulai merawat pohon ini, saya sempat memperhatikan bahwa permukaan daunnya berbulu halus dan terasa agak lengket ketika disentuh. Awalnya saya mengira hal itu disebabkan oleh udara dingin di tempat tinggal saya sekarang. Atau memang terkena polusi asap pembakaran yang berminyak. Ternyata dugaan tersebut kurang tepat.
Bulu-bulu halus atau glandular hairs yang secara alami menghasilkan cairan lengket. Jadi, tekstur tersebut merupakan karakteristik alami tanaman, bukan akibat suhu udara.
Di daerah yang memiliki kelembapan tinggi, embun pagi akan menempel pada cairan tersebut sehingga permukaan daun terasa lebih basah dan lengket. Cairan alami ini juga mudah menangkap debu sehingga teksturnya terasa semakin kesat ketika disentuh.
Membuat Rebusan Daun Kersen
Karena penasaran dengan manfaatnya, saya akhirnya mencoba membuat rebusan daun kersen untuk pertama kalinya. Mengikuti tutorial dari artikel yang saya baca di salah satu situs artikel yang membahas manfaat tumbuhan herbal.
Saya memetik sekitar 10–15 helai daun yang masih segar, kemudian mencucinya di bawah air mengalir hingga bersih. Setelah itu daun direbus menggunakan tiga gelas air sampai volumenya menyusut menjadi sekitar satu gelas.
Hasil rebusannya berwarna hijau muda. Ketika diminum, rasanya netral, tidak pahit seperti air rebusan tumbuhan tertentu. Hanya tersisa aroma khas daun yang cukup lembut. Menurut saya, minuman ini lebih nikmat disantap selagi hangat, terutama pada pagi atau sore hari ketika udara mulai sejuk.
Bagi saya, pengalaman ini bukan sekadar mencoba minuman herbal, tetapi juga menjadi cara baru untuk lebih menghargai tanaman yang tumbuh di halaman sendiri.
Manfaat Buah Kersen
Selain daunnya, buah kersen juga memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Buah mungil berwarna merah ini mengandung vitamin C, serat, flavonoid, serta polifenol yang bermanfaat bagi tubuh.
Beberapa manfaat buah kersen antara lain:
- membantu meningkatkan daya tahan tubuh,
- membantu melancarkan sistem pencernaan,
- membantu menangkal radikal bebas,
- membantu meredakan peradangan,
- membantu menjaga tekanan darah tetap stabil.
Meski ukurannya kecil dan sering dianggap sebagai buah liar, kandungan nutrisinya cukup menarik untuk dikenalkan kepada masyarakat.
Kini setiap kali melihat pohon kersen yang tumbuh rindang di samping rumah, saya merasa bersyukur karena dulu tidak jadi mencabutnya. Terlebih ketika ada satu dua orang datang mengetuk pintu untuk minta izin mengambil daun kersen untuk pengobatan. Selain bermanfaat buat peneduh halaman, buat kesehatan pribadi, ternyata memberikan manfaat untuk tetangga dan orang lain pula.
Kebermanfaatan itu pula yang selalu menjadi alasan kuat mengapa saya semakin menikmati hobi berkebun. Setiap tanaman bukan hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga menyimpan pelajaran bahwa sesuatu yang tampak biasa saja bisa menjadi sangat berharga ketika dirawat dengan sepenuh hati.
