Ilustrasi: Alfred/Unsplash
Ada kalanya hidup mengajarkan bahwa luka tidak selalu datang dari orang asing. Justru seringkali ia tumbuh dari orang-orang yang paling dekat. Orang yang setiap hari kita sapa. Orang yang masih kita panggil saudara.
Lucunya, luka semacam itu jarang diakui. Ketika kita mengeluh, orang-orang akan berkata, “Sudahlah, jangan diperbesar. Bukankah kalian masih keluarga?”
Seolah hubungan darah adalah alasan yang cukup untuk membungkam rasa lelah. Padahal, tidak ada ikatan apa pun yang dapat menjadi tiket untuk memanfaatkan kebaikan orang lain.
**
Setiap pagi, ketika aku membuka jendela rumah, udara masih dingin. Embun belum benar-benar hilang dari daun-daun bunga yang kutanam di halaman.
Dari balik jendela aku nyaris selalu menemukan pemandangan yang sama setiap harinya—suasana hangat dari sebuah keluarga di rumah sebelah.
Suaminya membantu memasang pot gantung sambil sesekali menggoda istrinya. Mereka tertawa. Anak mereka yang masih kecil berlarian memanggil — mengeluh lapar.
“Aku mau ayam goreng!”
“Aku mau telur dadar!”
Tak sampai lima belas menit kemudian aroma bawang putih yang ditumis memenuhi udara. Wangi nasi hangat, telur, dan sambal menyeruak sampai ke halaman rumahku.
Kadang aku tersenyum. Kadang juga diam-diam iri. Bukan karena makanannya. Melainkan karena mereka masih memiliki waktu untuk menikmati pagi bersama.
Aku?
Pagi-pagiku selalu lebih sunyi. Kurang dari pukul enam pagi, suami sudah berangkat bahkan sebelum matahari benar-benar terang.
Secangkir kopi yang kubuat setiap hari hampir tak pernah habis diminumnya. Uapnya masih mengepul ketika ia sudah mengenakan helm.
Aku sering berkata, “Mas, kopinya diminum dulu.”
Ia hanya tersenyum kecil. “Nanti keburu telat.”
Awalnya aku percaya memang begitu.
Sampai akhirnya aku sadar, yang membuatnya selalu terburu-buru bukan semata-mata pekerjaan. Melainkan seseorang yang setiap pagi sudah mondar-mandir di depan rumah.
“Om… ayo… nanti aku kesiangan.”
Begitulah rutinitas itu dimulai.
Hari demi hari berlalu. Minggu ke minggu, bulan berganti sampai tahun demi tahun. Tanpa disadari hal itu sudah berlangsung lebih dari lima tahun. Sejak — sejak anak itu duduk di bangku SD
Lima tahun suamiku tidak pernah benar-benar berangkat kerja sendirian. Motor yang kami cicil dengan susah payah itu selalu membawa dua beban. Suamiku dan anak tetangga.
Sekolahnya memang searah dengan kantor suamiku. Mungkin itu alasan mereka dengan ringan hati menitipkan keselamatan anaknya dalam kurang lebih 30 menit perjalanan kepada suamiku yang harus menempuh satu jam lebih perjalanan ke tempat kerjanya.
Awalnya hanya sesekali. Lalu menjadi kebiasaan. Kemudian berubah menjadi sesuatu yang dianggap kewajiban. Diam-diam panggilan anak di teras rumah menjadi alarm agar suami bersiap lebih awal, bergegas secepatnya. Meninggalkan kopi panasnya berkali-kali.
Sementara itu, rasanya tidak pernah terdengar kalimat yang lebih nyaman di telinga. Semisal, “Mas, merepotkan ya” apalagi “Ini uang bensinnya.”
Bahkan sekadar, “Terima kasih sudah membantu.”
Tidak!
Yang ada hanyalah keyakinan bahwa karena searah, berarti tidak sedang merepotkan siapa pun. Padahal setiap kilometer tetap menghabiskan bensin. Setiap pagi tetap menghabiskan waktu. Setiap menit tetap menguras tenaga seseorang yang harus bekerja hingga sore.
Ada hal yang kerap membuat dadaku sesak bukanlah ketika melihat anak itu naik ke motor. Melainkan ketika tanpa sengaja aku mengintip ke rumah mereka. Ayahnya masih mengenakan sarung. Sebatang rokok mengepul santai di sela jarinya.
Ibunya sibuk menyiapkan sarapan hangat untuk anggota keluarga yang lain. Mereka masih sempat duduk bersama di meja makan. Masih sempat bercanda. Masih sempat menikmati kopi.
Sementara suamiku sudah melaju menembus udara pagi. Meninggalkan secangkir kopi yang mulai dingin di meja rumah kami.
Aku menahan air mata. Kepalaku dipenuhi dengan banyak pertanyaan menyebalkan dan menesakkan di dada. Kenapa yang bekerja lebih keras justru kehilangan waktu paling berharga di pagi hari?
Suatu sore motor suamiku mogok. Kerusakannya cukup parah hingga harus menginap di bengkel. Aku pikir, mungkin besok mereka akan mengerti. Mungkin mereka akan mencari cara lain.
Mungkin ayahnya yang mengantar atau mencari ojek. Atau setidaknya bertanya apakah motor pengganti aman digunakan? Atau, menawarkan motor milik mereka untuk dipakai sementara.
Ternyata aku terlalu berharap. Esok paginya anak itu tetap datang. Motor kantor yang dipinjam suamiku pun kembali menjadi kendaraan antar jemput anak.
Tak ada rasa sungkan. Tak ada rasa bersalah. Seolah kendaraan apa pun yang dikendarai suamiku memang sudah sewajarnya ikut mengantar anak mereka.
Hari itu aku benar-benar menangis. Bukan karena motornya rusak. Tetapi karena aku sadar, kebaikan yang terlalu lama diberikan sering kali dianggap sebagai bantuan. Ia berubah menjadi hak.
Belum selesai sampai di sana. Anak mereka yang lain mulai rutin datang ke rumah. Katanya ingin belajar. Ibunya mengantar dan mengatakan, “Ini si adik ingin les, Tante. Di sekolah teman-temannya ikut les berbayar. Kebetulan ada Tante, makanya les sama Tante aja.”
Satu dua pekan berlalu, aku masih serius mengajar. Sampai bulan berlalu berkali-kali. Tak ada sesuatu pun yang berubah. Profesionalku dihargai dengan angin kosong belaka.
Tanpa biaya aku mengajarkannya banyak hal. Sayangnya, mereka tak pernah bertanya apakah aku sedang sehat. Padahal ada saat-saat tubuhku sedang demam dan butuh istirahat.
Saat itu aku baru saja berhasil memejamkan mata ketika suara ketukan pintu membangunkanku.
Tok. Tok. Tok.
“Tante… belajar ya.”
Rasanya aku ingin menangis dan menagtakan “tidak.” Tetapi lidahku kelu. Akhirnya hanya bisa mengetik pesan singkat kepada suami untuk sekadar curhat. Namun, suamiku hanya berkata, “Sudahlah… itu masih kakak iparmu.”
Kalimat itu sederhana. Namun entah mengapa setiap kali mendengarnya, rasanya seperti seseorang meminta kami terus mengalah demi menjaga hubungan baik.
Aku mulai bertanya dalam hati. Kenapa yang selalu diminta mengerti adalah orang yang terus memberi? Kenapa yang terus mengambil tidak pernah diminta belajar tahu diri?
Aku tidak pernah keberatan membantu. Sungguh. Dalam hidup, bahkan aku selalu bercita-cita ingin bermanfaat bagi orang lain. Namun rasanya tidak se-dimanfaatkan begini.
Kalau sesekali mengantar, aku ikhlas. Kalau suatu hari sedang kesulitan lalu meminta bantuan, aku juga akan mengulurkan tangan. Bukankah memang begitulah seharusnya hidup bertetangga? Saling menopang, saling meringankan. Bukan saling memanfaatkan.
Ada perbedaan yang sangat tipis antara meminta tolong dan menjadikan pertolongan sebagai kebiasaan, yang satu lahir dari keadaan sementara yang satunya lagi lahir dari rasa tidak tahu diri.
Ternyata tidak semua orang jahat dengan cara berteriak. Ada yang melukai dengan sangat sopan. Ia tidak terdengar memaksa tidak pula mengancam. Akan tetapi ia datang terus-menerus, pelan-pelan meminta, sampai kita sendiri lupa kapan terakhir kali mengatakan, “Tidak.”
Mungkin, luka paling melelahkan bukan karena banyaknya tenaga yang telah kita berikan. Melainkan karena setiap kali kita mencoba mengungkapkan rasa lelah, dunia justru berkata,
“Sudahlah… bukankah kalian masih saudara?”
Padahal menjadi saudara seharusnya berarti saling menjaga. Bukan membiarkan satu pihak terus memberi, sementara pihak lainnya terus mengambil tanpa pernah bertanya apakah hati yang menolong itu masih sanggup bertahan.
