Malam itu hujan turun begitu pelan, seolah langit pun takut mengganggu perpisahan yang sedang berlangsung.
Nara berdiri di bawah kanopi stasiun dengan kedua tangan menggenggam secangkir kopi yang sejak tadi tak lagi mengeluarkan uap. Di hadapannya, kereta yang akan membawa Arka ke kota lain masih menunggu keberangkatan. Lampunya memantulkan cahaya kekuningan di rel yang basah.
“Aku berangkat sepuluh menit lagi,” kata Arka lirih.
Nara mengangguk. Senyum kecil terlukis di wajahnya. Senyum yang sudah ia latih berbulan-bulan, agar tidak ada seorang pun tahu bahwa dadanya sedang retak.
“Aku ikut senang.”
Kalimat itu terdengar begitu ringan. Padahal setiap katanya terasa seperti batu yang harus didorong keluar dari tenggorokan.
Mereka telah saling mengenal hampir delapan tahun. Bertemu di bangku kuliah, tumbuh bersama melewati masa-masa sulit, saling menguatkan ketika hidup terasa terlalu berat. Semua orang mengira mereka akan berakhir sebagai pasangan.
Semua orang. Kecuali takdir.
Arka telah memilih jalan yang berbeda. Di kota tujuan, seseorang telah menunggunya. Seorang perempuan yang dikenalnya dua tahun terakhir, yang berhasil mengisi ruang kosong yang selama ini tak pernah berani dimasuki Nara.
Bukan karena Nara tak mencintainya. Justru karena terlalu mencintainya. Ia takut kehilangan persahabatan mereka jika suatu hari perasaannya ditolak. Maka ia akhirnya lebih memilih diam.
Diam yang terlalu lama akhirnya berubah menjadi penyesalan.
“Aku minta maaf.” Arka menatapnya.
“Untuk apa?”
“Untuk semua hal yang mungkin pernah bikin kamu bingung.” Arka menggeleng pelan.
“Justru aku yang berterima kasih.”
Hening kembali jatuh.
Suara pengumuman keberangkatan bergema memenuhi stasiun.
Nara menghela napas panjang. Dalam benaknya, ribuan kenangan datang berlarian. Tentang perjalanan naik motor tanpa tujuan. Tentang tugas kuliah yang selalu mereka kerjakan bersama. Tentang tawa yang terdengar begitu mudah ketika usia masih percaya bahwa semua orang baik akan dipertemukan selamanya.
Ternyata hidup tidak bekerja untuk memenuhi apa yang diinginkan. Ada orang yang hadir bukan untuk dimiliki, melainkan untuk mengajarkan bagaimana mencintai tanpa syarat.
“Aku boleh minta satu hal?” tanya Arka tiba-tiba.
Nara mengangguk. “Boleh.”
Arka membuka kedua tangannya.
Tanpa berpikir panjang, Nara melangkah maju.
Pelukan itu singkat. Mungkin hanya beberapa detik.
Namun cukup untuk menyimpan seluruh cerita yang tak pernah sempat diucapkan.
Dalam pelukan itu, Nara akhirnya mengerti, beberapa cinta memang tidak membutuhkan akhir yang bahagia. Cukup sebuah perpisahan yang baik-baik saja.
Mereka melepaskan pelukan hampir bersamaan.
“Jaga diri.”
“Kamu juga.”
Arka menaiki kereta. Ia berdiri di dekat jendela sambil melambaikan tangan. Nara membalas lambaian itu dengan senyum yang sama. Senyum tenang yang selama ini berhasil menipu semua orang.
Tidak ada yang tahu bahwa setelah kereta perlahan bergerak, air matanya jatuh bersamaan dengan derasnya hujan.
Ia tidak mengejar, tidak pula berniat untuk memanggil. Apalagi berharap kereta mendadak berhenti.
Ada cinta yang harus selesai tepat pada waktunya. Karena memaksanya tinggal hanya akan mengubah kenangan indah menjadi luka yang lebih panjang.
Kereta semakin jauh hingga lampunya berubah menjadi titik kecil di ujung rel.
Nara masih berdiri. Membiarkan angin malam mengeringkan pipinya. Di dalam hati, ia mengucapkan doa yang tak pernah akan didengar oleh pemiliknya.
Semoga langkahmu selalu menemukan terang. Semoga setiap mimpi yang kau kejar benar-benar menjadi rumah. Dan jika suatu hari hidup terasa gelap, semoga masih ada sedikit cahaya yang pernah kutinggalkan di dalam kenanganmu.
Ia tersenyum lagi. Kali ini bukan karena sedang berpura-pura kuat. Melainkan karena akhirnya ia sadar bahwa melepaskan bukan berarti berhenti mencintai.
Melepaskan adalah bentuk cinta yang paling sunyi. Biarlah, meskipun ia tak pernah akan dipilih bahkan tidak akan pernah dikenang sekalipun, cinta itu akan tetap ada.
Cukuplah ia tahu bahwa di antara ribuan wajah yang akan ditemui Arka sepanjang hidupnya, pernah ada seseorang yang diam-diam mendoakan setiap langkahnya.
Seseorang yang memilih menjadi cahaya kecil di belakang, agar orang yang dicintainya dapat berjalan menuju masa depan tanpa takut pada gelap.
Dan meski cahaya itu tak pernah lagi terlihat, ia akan tetap menyala, diam, hangat dan benderang.
