Tahun 2009, sebuah peristiwa kecil namun berkesan terjadi dalam hidup saya. Seusai mengikuti seminar kepenulisan ilmiah di Perpustakaan Bale Pustaka, Jl. Jawa, saya kehilangan tas yang saya simpan di loker. Saat itu saya sempat bertanya kepada Puji, petugas perpustakaan: “Barusan ada orang bawa tas hitam?” Mungkin ia mengira tas itu milik orang lain. Dua jam kemudian, telepon dari istri saya membuat suasana semakin membingungkan.
“Ikang di mana sekarang?” tanyanya.
“Di Bale Pustaka,” jawab saya.
“Bohong! Tadi pihak Hotel Horison nelpon, katanya tasnya tertukar!”
Saya terdiam. Bagaimana mungkin tas saya yang hilang di perpustakaan bisa berada di Hotel Horison? Saya jelaskan kepada istri bahwa tas saya memang raib di Bale Pustaka.
Tas itu sebenarnya tidak berisi barang berharga. Hanya ada dua buku—Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer dan Istanbul karya Orhan Pamuk—serta sebungkus roti dalam kotak Tupperware. Mungkin pencuri mengira ada laptop atau kamera di dalamnya.
Sore hari, sekitar pukul lima, istri saya datang ke Bale Pustaka. Saya masih heran, bagaimana pihak Hotel Horison bisa tahu nomor telepon istri saya? Rupanya dari sebuah flashdisk yang ada di dalam tas. Saat dibuka, tersimpan nomor telepon istri saya.
Kami pun bergegas menuju Hotel Horison. Di ruang satpam, saya langsung dihujani pertanyaan. “Tas Bapak tertukar dengan tas milik Pak Heri dari Solo. Kebetulan beliau habis mengikuti seminar di sini.” Saya semakin bingung, karena saya sama sekali tidak menghadiri acara di hotel tersebut.
Saya jelaskan kronologinya: tas saya hilang di Bale Pustaka. Dugaan saya, pencuri membawa tas itu ke Hotel Horison, lalu melakukan aksi serupa dengan menukar tas orang lain. Isi tas saya sudah diperiksa di jalan—buktinya roti dalam kotak sudah raib. Sebagai gantinya, tas saya diisi dengan jaket krem, mungkin hasil curian juga. Namun ada satu hal yang membuat saya lega: kedua buku itu tetap ada. Hingga kini, buku-buku tersebut masih tersimpan di rak saya.
Menjelang magrib, Deni dari LawangBuku bersama Puji datang membantu menjelaskan kepada pihak satpam. Ketegangan mereda, dan akhirnya saya bisa pulang bersama istri yang sempat cemas karena ditahan pihak hotel.
Peristiwa itu mungkin tampak sepele, tetapi bagi saya menjadi catatan yang terkubur, sebuah kenangan tentang betapa berharganya buku. Pencuri mungkin menganggap tas itu berisi benda bernilai materi, padahal isinya adalah dunia yang lebih berharga: pengetahuan, cerita, dan sejarah.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa buku bukan sekadar benda. Ia bisa menjadi saksi perjalanan hidup, bahkan dalam situasi yang tidak terduga. Kehilangan tas membuat saya semakin sadar: yang paling penting bukanlah barang-barang mewah, melainkan isi yang memberi makna. Dua buku itu tetap bersama saya, seolah menegaskan bahwa pengetahuan tidak mudah dicuri.
Catatan ini saya tulis bukan hanya sebagai kenangan pribadi, tetapi juga sebagai pengingat bagi siapa pun yang mencintai buku. Jagalah koleksi Anda, rawatlah dengan sepenuh hati, karena di dalamnya tersimpan bukan hanya cerita, melainkan juga jejak hidup.
Sampai di sini dulu. Nanti kita sambung lagi—karena setiap buku, setiap peristiwa, selalu menyimpan cerita yang layak dituturkan kembali.
