Mengantar anak sekolah di hari pertama biasanya menjadi momen haru yang luar biasa. Anak sedih berpisah, ada peluk erat yang terasa berat dilepas. Bahkan ada anak yang sampai tantrum ketika melihat ibunya meninggalkan area sekolah.
Namun lain halnya dengan saya. Hari pertama melepas anak ke sekolah di Taman Kanak-Kanak malah berujung drama nangis di pojokkan karena merasa iri kepada ibu lain yang ditangisi anaknya saat berpisah.
Hm, kalau diingat-ingat lagi sungguh ini kejadian yang sedikit lucu. Bisa-bisanya saya merasa tidak dirindukan lagi oleh anak sendiri.
Jadi ceritanya begini. Sebagai seorang ibu bekerja selain membiasakan diri untuk meninggalkan anak dan fokus bekerja di siang hari, saya pun melatihnya agar tak mudah bersedih saat saya tidak ada di dekatnya.
Secara bertahap saya membuatnya memahami bahwa siang hari Bunda bekerja dan akan kembali sore hari. Mulai sore hari ia boleh bermanja dan dekat dengan saya sepuasnya. Kami akan main bersama, makan bersama, mandi dengan saya, tidur dan aktivitas apapun ia boleh lengket dengan saya. Selain mengobati kerinduannya, saya pun merasa harus memenuhi tanggung jawab sebagai ibu. Meski tak jarang badan terasa lelah, tetapi saya menikmati momen-momen itu.
Oh iya, selama saya bekerja saya dan pasangan sepakat untuk menitipkan anak di daycare yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Daycarenya nyaman, para pengasuhnya ramah dan saya kenal dekat dengan pemiliknya.
Lepas Dari Daycare dan Bersiap Masuk Sekolah
Anak saya sudah memasuki usia taman kanak-kanak. Masuk di usia lima tahun ke TK A. Sebagai ibu lulusan Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK) sedikitnya saya paham tentang perkembangan anak sesuai usianya. Berbekal ilmu itu, saya sengaja melepas anak di usia yang sudah cukup siap untuk belajar. Masuk 5 tahun agar masuk SD nanti genap usia 7 tahun.
Karena sudah tidak di daycare lagi, kami pun mulai menggunakan jasa pengasuh yang sekalian bisa bantu beres-beres di rumah. Beruntung kami mendapatkan orang yang sayang baik. Perempuan paruh baya yang tutur katanya sangat lembut.
Orangnya sangat telaten, sabar dan perhatian sama anak. “Berasa sama cucu,” katanya. Perkenalan dan bonding dengan pengasuh pun tidak butuh waktu lama. Anak saya sudah nyaman berada di dekatnya.
Mengantar Anak Sekolah di Hari Pertama
Hari pertama masuk sekolah pun tiba. Saya izin masuk siang kepada atasan demi mengantar anak sekolah di hari pertama.
Sepanjang jalan anak saya tidak melepaskan genggamannya. Saya begitu menikmati hal itu, tangannya yang mungil terus memegang jari telunjuk saya selama berjalan kaki menuju sekolah. Kebetulan hanya lima menit dari rumah. Saya sudah bersiap memeluk, membujuk dan melakukan apa saja andai nanti anak tidak mau lepas di hari pertama.
Bibi mengikuti dari belakang. Karena ia yang akan menunggu anak hingga pulang.
Saat memasuki gerban, sekolah sudah sangat ramai dengan para ibu yang mengantar anaknya untuk sekolah pertama kali.
Anak-anak menempel pada ibu mereka seolah tidak mau lepas. Berbagai ekspresi tergambar dari wajah mereka. Ada yang hanya diam tanpa ekspresi wajah, ada yang tampak malu-malu dan terus bersembunyi di balik tubuh ibunya, ada juga yang mulai menangis tak mau masuk ke area lapangan meskipun sudah dibujuk berkali-kali oleh ibu guru.
Lapangan sudah dihiasi dengan pernak-pernik yang lucu. Penyambutan murid baru sebentar lagi akan dimulai.
Saya pun mmeperhatikan anak saya, ia tampak tenang.
“Deg degan gak?” tanya saya.
“Iya. Coba Unda pegang di sini,” katanya sambil meraih tangan saya dan meletakkannya di dadanya. Benar saja saya merasakan debaran kencang di dadanya.
“Tenang ya, Sayang. Nanti akan ada banyak teman main yang seru. Akan ada Bu Guru juga yang menjagamu. Pokoknya kalau ada apa-apa bilangnya ke bu guru. Karena gak ada Unda.” Saya memberikan perjelasan. Anak saya pun mengangguk.
“Pulang nanti, Unda gak jemput. Pulangnya sama Bibi. Kita akan main bersama sore hari setelah Unda pulang kerja.”
Anak itu pun mengangguk lagi.
Kesedihan yang Tak Dapat Terlupakan
Bel penanda berbunyi. Melalui pengeras suara Ibu Guru memberikan pengumuman bahwa sudah waktunya anak-anak berkumpul dan mengharuskan lepas dari ibunya.
Para ibu mengantar anak ke tempat berkumpul. Beberapa Ibu Guru sibuk menyambut dengan ramah dan hangat. Namun suasana jadi ricuh. Beberapa anak menangis bahkan ada yang sampai tantrum karena tida mau jauh dari ibunya.
Anak saya masih sangat tenang saat saya mengantarkannya ke barisan paling depan. Ibu Guru bernama Rina menyambut dan memeluk sambil berjongkok. Lalu ia meminta anak untuk berpamitan pada saya.
Anak saya mendekat, memeluk, lalu salim dan sun tangan. Setelah itu, “Dadah Unda…!” seraya menjauh dan mengikuti langkah bu Rina.
Di tengah suara tangisan anak lain, hati saya malah menangis sejadi-jadinya. Di kepala penuh dengan pertanyaan, “Udah, gitu doang?”
“Kok kamu gak nangis, Nak?”
“Kok kamu gak sedih kayak yang lain, Nak?”
“Sayang sama Unda gak sih kamu, Nak?”
Saya keluar dari gerbang sekolah dengan perasaan hampa. Bibi mengikuti dari belakang. Lalu saya berpesan pada bibi, “Bibi nunggunya di luar area sekolah saja. Kalau sudah mendekati jam pulang, baru mendekat.”
Bibi menunjukkan ekspresi khawatir. “Kalau ada apa-apa nanti gimana?”
“Biarkan saja. Percayakan saja semua pada para Ibu Guru,” jawab saya. Perasaan aneh itu masih ada dalam dada. Tenggorokan saya rasanya tercekik sesuatu. Sakit.
Saya pamit pada bibi untuk pergi bekerja setelah memberikan pesan ini itu.
Sampai tempat kerja, “Kok jam segini sudah sampai? Katanya mau anterin anak sekolah dulu?” tanya seorang teman.
Saya hanya diam dan bergegas ke ruangan kerja. Saya pun menangis dengan air mata yang deras. Banyak tisu yang basah. Kerudung saya pun basah. Rasanya ingin segera pulang dan bertemu dengan anak lagi. Ingin memperbaiki bonding. Ada perasaan takut kala itu. Takut kalau anak saya tidak merindukan ibunya lagi.
Namun setelah air mata tumpah semua dan saya berhenti menangis. Saya sedikit bernapas lega ketika ingat bahwa kemandirian anak adalah hal yang saya harapkan selama ini. Saya sendiri yang melatihnya sepanjang waktu. Bukankah itu keberhasilan yang luar biasa?
Saya kembali fokus bekerja. Tentu saja agar pekerjaan hari itu lekas selesai dan saya akan pulang secepatnya.
Terima kaih ya, Nak.
