Kemarin saya mengantar seorang teman berbelanja ke beberapa pusat perbelanjaan di Kota Bandung. Sebagai orang yang lebih sering berbelanja di pasar atau toko biasa, pengalaman itu menjadi semacam perjalanan kecil yang membuka mata.
Di setiap mal, saya melihat beragam barang dipajang dengan tata letak yang indah. Lampu-lampu terang, etalase yang mengilap, dan para pengunjung yang lalu-lalang dengan kantong belanja di tangan. Semua tampak begitu menarik.
Namun ada satu hal yang membuat saya berkali-kali menggelengkan kepala. “Harga”.
Saya melihat selembar kaos oblong sederhana dengan harga yang hampir menyentuh setengah juta rupiah. Saya sempat memandangnya cukup lama. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan kaos yang biasa saya pakai sehari-hari. Warnanya biasa saja. Potongannya sederhana.
Dalam hati saya tertawa sendiri. Bukan mentertawakan pemilik toko atau pembelinya, melainkan mentertawakan diri sendiri yang kebingungan memahami dunia itu.
Bagaimana mungkin selembar kaos dihargai hampir satu juta rupiah? Sementara dalam pengalaman hidup saya, seratus ribu rupiah sudah cukup untuk membeli beberapa kaos yang nyaman dipakai.
Lalu muncul pertanyaan yang terus mengganggu pikiran. Apa sebenarnya yang dibeli oleh orang-orang itu?Apakah mereka membeli kainnya?Apakah mereka membeli kualitas jahitannya?Apakah mereka membeli kenyamanannya? Ataukah yang sebenarnya dibeli adalah nama yang tertulis pada labelnya?
Mungkin memang ada bahan yang lebih baik. Mungkin ada kualitas yang lebih tinggi. Namun sulit rasanya mengabaikan kenyataan bahwa dalam banyak kasus, harga sebuah barang sering kali tidak hanya ditentukan oleh fungsi, melainkan juga oleh citra, prestise, dan gengsi yang melekat padanya.
Di zaman modern, pakaian tidak lagi sekadar kebutuhan. Ia telah berubah menjadi simbol. Simbol status sosial. Simbol kelompok. Simbol gaya hidup. Simbol keberhasilan. Bahkan terkadang simbol harga diri.
Padahal jika direnungkan lebih dalam, untuk apa sebenarnya manusia berpakaian? Pertanyaan sederhana itu ternyata memiliki jawaban yang sangat mendasar dalam Islam. Allah berfirman:
يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ
“Wahai anak Adam! Sungguh, Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A’raf: 26)
Allah menjelaskan bahwa pakaian memiliki dua fungsi utama. Pertama, menutupi aurat. Kedua, menjadi perhiasan atau memperindah penampilan. Artinya, Islam tidak melarang seseorang berpakaian rapi, indah, dan menarik. Keindahan adalah bagian dari fitrah manusia.
Namun ayat tersebut tidak berhenti di sana. Allah kemudian mengingatkan bahwa ada pakaian yang jauh lebih penting daripada kain yang melekat di tubuh, yaitu libāsut-taqwā atau pakaian ketakwaan.
Karena pakaian yang mahal dapat menutupi tubuh, tetapi tidak selalu mampu menutupi kesombongan. Pakaian bermerek dapat memperindah penampilan, tetapi tidak otomatis memperindah akhlak. Pakaian mewah dapat mengangkat citra seseorang di hadapan manusia, tetapi belum tentu meninggikan derajatnya di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Penampilan bukan tidak penting. Namun hadis ini mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak terletak pada merek yang dikenakan atau harga pakaian yang dipakai. Sebab di hadapan Allah, kaos seharga satu juta rupiah dan kaos seharga tiga puluh ribu rupiah tidak memiliki nilai yang berbeda apabila keduanya dikenakan oleh hati yang sama-sama bertakwa.
Islam juga mengajarkan keseimbangan. Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُوا وَاشْرَبُوا وَالْبَسُوا وَتَصَدَّقُوا فِي غَيْرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ
“Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. Ahmad)
Inilah prinsip yang indah. Berpakaianlah dengan baik. Nikmatilah rezeki yang Allah berikan. Gunakan pakaian yang nyaman dan berkualitas jika mampu. Tetapi jangan sampai terjebak dalam pemborosan dan kesombongan. Karena sesungguhnya masalah bukan terletak pada mahal atau murahnya pakaian. Masalahnya terletak pada niat yang tersembunyi di baliknya.
Jika seseorang membeli pakaian mahal karena kualitas dan kebutuhan, itu adalah pilihan yang wajar. Namun jika pakaian dibeli semata-mata untuk mendapatkan pengakuan, pujian, atau menunjukkan status sosial, maka pakaian yang awalnya menutup tubuh bisa berubah menjadi sarana memuaskan ego.
Ketika keluar dari mal hari itu, saya tidak membawa kantong belanja. Namun saya membawa pulang sebuah renungan. Mungkin setiap orang memiliki ukuran kebahagiaan yang berbeda. Ada yang merasa bahagia memakai pakaian bermerek. Ada yang merasa cukup dengan pakaian sederhana. Dan tidak ada yang salah selama dilakukan dengan cara yang baik.
Namun pada akhirnya, selembar kaos tetaplah selembar kaos. Ia akan usang. Warnanya akan pudar. Jahitannya akan lepas.Dan suatu hari akan dibuang. Yang akan tetap tinggal bukanlah mereknya, bukan pula harganya.Melainkan hati yang berada di balik pakaian itu. Sebab manusia mungkin dikenali dari apa yang dikenakannya.Tetapi Allah menilai manusia dari apa yang tersimpan di dalam dadanya.
