Tidak semua luka datang dalam bentuk kata-kata kasar atau perlakuan yang terang-terangan menyakitkan. Ada luka yang tumbuh diam-diam di dalam hati ketika seseorang merasa tidak lagi menjadi bagian dari sebuah kebersamaan. Ia tidak ditolak, tetapi juga tidak dirangkul. Ia tidak disingkirkan secara nyata, tetapi keberadaannya seolah tidak diperhitungkan. Perasaan tersisih adalah salah satu pengalaman paling sunyi dalam kehidupan manusia.
Seseorang bisa berada di tengah keramaian, namun merasa sendirian. Ia melihat orang lain mendapatkan tempat, mendapatkan perhatian, mendapatkan penghargaan, sementara dirinya hanya menjadi penonton dari kejauhan. Ia menyaksikan orang-orang lain berdiri dalam lingkaran kebersamaan, berfoto bersama, saling mengucapkan terima kasih, dan merayakan pencapaian yang sama. Namun entah mengapa, dirinya merasa berada di luar lingkaran itu.
Pada saat-saat seperti itulah hati mulai dipenuhi berbagai pertanyaan. Apakah keberadaannya tidak penting?Apakah segala usaha yang selama ini dilakukan tidak pernah berarti? Apakah orang lain memang tidak menghargainya? Ataukah ia hanya sedang dilupakan?
Pertanyaan-pertanyaan itu sering kali datang tanpa jawaban. Semakin dipikirkan, semakin banyak dugaan yang bermunculan. Hati mulai menafsirkan berbagai keadaan dengan caranya sendiri. Pikiran berkelana ke mana-mana. Luka yang semula kecil perlahan membesar karena terus disirami oleh prasangka. Padahal tidak semua yang terjadi sesuai dengan dugaan hati.
Sering kali manusia tidak mengetahui alasan sebenarnya di balik sebuah keadaan. Bisa jadi orang lain memang tidak menyadari bahwa ada hati yang terluka. Bisa jadi mereka tidak bermaksud mengabaikan. Bisa jadi ada banyak hal yang tidak diketahui oleh orang yang sedang merasa tersisih. Namun demikian, rasa sakit itu tetap nyata.
Sebab manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk dihargai. Ia ingin keberadaannya diakui. Ia ingin jerih payahnya memiliki arti. Ia ingin merasa bahwa dirinya adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Karena itulah perasaan tersisih sering kali terasa begitu menyakitkan. Bukan semata-mata karena kehilangan penghargaan, melainkan karena kehilangan rasa memiliki.
Dalam keadaan seperti itu, seseorang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Ia bisa membiarkan luka itu berubah menjadi kemarahan, kekecewaan, dan kebencian. Atau ia bisa memilih jalan yang lebih berat, yaitu belajar berdamai dengan perasaannya sendiri.
Berdamai bukan berarti menganggap luka itu tidak ada. Berdamai juga bukan berarti membenarkan semua perlakuan yang menyakitkan. Berdamai adalah menerima bahwa rasa sakit itu nyata, lalu memutuskan untuk tidak membiarkannya menguasai seluruh hidup. Di sinilah keimanan memberikan cahaya bagi hati yang sedang gelap. Allah berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang hilang di sisi Allah. Mungkin manusia lupa. Mungkin manusia tidak melihat. Mungkin manusia tidak menghargai. Namun Allah mengetahui setiap usaha yang dilakukan dengan tulus.
Begitu pula firman-Nya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)
Betapa sering manusia merasa sedih karena penghargaan yang tidak datang dari sesama manusia. Padahal penghargaan yang paling hakiki bukanlah yang tertulis dalam piagam, bukan yang diucapkan dalam sambutan, dan bukan yang diabadikan dalam foto. Penghargaan yang sesungguhnya adalah ketika Allah menerima amal yang telah dilakukan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Mungkin perasaan tersisih yang dialami seseorang bukanlah tanda bahwa dirinya tidak berharga. Bisa jadi itu adalah cara Allah mengajarkannya tentang keikhlasan. Mengajarkannya untuk tetap berbuat baik meskipun tidak selalu dipuji. Tetap berkarya meskipun tidak selalu diakui. Tetap memberi meskipun tidak selalu dihargai.
Tidak semua orang yang berjasa akan berdiri di atas panggung. Tidak semua orang yang bekerja keras akan disebut namanya. Tidak semua pengorbanan akan mendapatkan tepuk tangan. Namun tidak ada satu pun kebaikan yang luput dari penglihatan Allah.
Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang seberapa sering seseorang diingat oleh manusia. Sebab ingatan manusia sangat pendek dan penghargaan manusia sering berubah-ubah. Hari ini seseorang dipuji, esok ia dilupakan.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang tetap menjaga ketulusan ketika tidak diperhatikan, tetap menjaga kebaikan ketika tidak dihargai, dan tetap menjaga hati ketika merasa tersisih. Mungkin luka itu tidak akan langsung hilang. Mungkin kesedihan itu masih sesekali datang.
Namun ketika seseorang mulai menyandarkan penilaiannya kepada Allah, bukan kepada manusia, perlahan-lahan hatinya akan menemukan ketenangan. Dan dari sanalah proses penyembuhan itu dimulai. Sebuah proses yang tidak mudah, tetapi sangat berharga. Sebuah proses yang bernama: belajar berdamai dengan perasaan tersisih.
