Iduladha di Masjid Al Aziz Ciheulang Ciparay: Spirit Keteladanan Nabi Ibrahim dalam Mendidik Anak.
Suasana pagi yang sejuk dan penuh kekhidmatan menyelimuti Masjid Al Aziz pada pelaksanaan Shalat Iduladha, tanggal 27 Mei 2026. Masjid yang berada di kawasan asri lereng bukit Komplek Perumahan Pesona Alam Mutiara Ciheulang, Ciparay, Bandung tersebut dipenuhi jamaah sejak pagi hari. Udara segar pegunungan berpadu dengan gema takbir yang berkumandang menghadirkan suasana religius yang menenangkan hati.
Pelaksanaan Shalat Iduladha berlangsung dengan tertib dan khusyuk. Bertindak sebagai imam sekaligus khotib adalah Ustadz Nandan Mardiana. Dalam khutbahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam tentang keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam membangun keluarga, mendidik anak, serta mewariskan visi perjuangan syariat kepada generasi penerus.
Beliau menegaskan bahwa Nabi Ibrahim AS tidak mewariskan harta, kekuasaan, ataupun jabatan kepada anak-anaknya, melainkan mewariskan misi tauhid, nilai ketakwaan, dan perjuangan menegakkan syariat Allah. Pendidikan anak menurut Nabi Ibrahim bahkan telah dimulai sejak sebelum anak itu lahir, yakni melalui doa dan harapan yang dipanjatkan kepada Allah SWT.
Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang termasuk orang-orang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa proses parenting dalam Islam tidak dimulai ketika anak telah dewasa, melainkan sejak hadirnya harapan dan doa orang tua kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim AS memohon keturunan yang saleh, bukan sekadar keturunan yang sukses secara duniawi.

Ustadz Nandan Mardiana Menyampaikan khutbahnya (Sumber : DKM Al-Aziz)
Dalam khutbahnya, Ustadz Nandan Mardiana juga menyoroti cara Nabi Ibrahim AS mendidik putranya, Nabi Ismail AS. Ketika menerima perintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi Ibrahim tidak bersikap otoriter ataupun memaksakan kehendak. Beliau justru mengedepankan dialog, komunikasi, dan penghargaan terhadap perasaan anaknya.
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Maka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersama ayahnya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!’ Ia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Menurut beliau, ayat ini menjadi pelajaran penting bagi para orang tua masa kini bahwa pendidikan yang baik dibangun melalui kedekatan emosional, komunikasi dua arah, dan keteladanan, bukan sekadar perintah dan tekanan. Nabi Ibrahim AS berhasil melahirkan anak yang taat karena beliau terlebih dahulu menjadi ayah yang saleh, penuh kasih sayang, dan membangun hubungan spiritual yang kuat dengan keluarganya.
Khutbah Iduladha tersebut memberikan refleksi mendalam bagi jamaah tentang makna kurban yang sesungguhnya. Kurban bukan hanya ritual penyembelihan hewan, tetapi juga momentum untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS, ketaatan Nabi Ismail AS, serta pentingnya membangun keluarga yang berlandaskan iman dan dialog.
Pelaksanaan Shalat Iduladha di Masjid Al Aziz tahun ini pun menjadi lebih bermakna karena tidak hanya menghadirkan suasana ibadah yang khusyuk, tetapi juga menanamkan nilai-nilai pendidikan keluarga Islami yang relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Di tengah suasana alam yang tenang di lereng Ciheulang, pesan tentang ketulusan, pengorbanan, dan pendidikan anak dalam Islam terasa begitu menyentuh hati para jamaah yang hadir.
