Ilustrasi foto: Uran Wang/Unsplash
Terlalu fokus bekerja dan memforsir fisik adalah penyesalan tak berujung yang masih aku rasakan hingga sekarang. Sudah tiga tahun berhenti bekerja, tetapi efek fisiknya masih tersisa. Dulu aku benar-benar abai pada kesehatan dengan alasan menjunjung tinggi aturan dan kepatuhan kepada atasan. Karena atasan sudah memberikan kepercayaan penuh, aku merasa harus bertanggung jawab atas semua beban yang ada di pundakku, sampai-sampai lupa menjaga diriku sendiri.
Aku memeras tenaga, otak, dan pikiran untuk menyusun program, memikirkan taktik pelaksanaan dan pencapaian, lalu menunjukkan hasilnya kepada dunia agar lembaga yang aku pimpin dikenal banyak orang, terangkat namanya, dan dianggap sebagai lembaga terbaik. Awalnya aku merasa tidak masalah melakukan semua itu. Aku menganggapnya sebagai pencapaian karena merasa memiliki kemampuan, pengalaman, dan wawasan yang cukup.
Menjadi People Pleaser
Ada hal yang jauh lebih kusesali hingga sekarang: ketika aku memutuskan untuk menyanggupi semuanya, merasa mampu padahal banyak hal berada di luar kendaliku. Aku bekerja keras melebihi tenaga seorang laki-laki. Bayangkan, seorang perempuan sekaligus ibu harus bekerja lebih dari delapan jam setiap hari, bahkan sampai malam masih harus melayani berbagai pertanyaan di luar jam kerja. Nyaris tidak ada batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Rasanya seperti bekerja 24 jam.
Belum lagi berbagai permintaan di luar pekerjaan yang tetap harus aku lakukan. Aku sering diperlakukan seperti ajudan: menjadi MC acara hajatan, membantu menyukseskan acara, bahkan ikut mengurus urusan dapur. Yang paling melelahkan adalah aku selalu mengatakan “iya” karena tidak enakan. Aku merasa sanggup dan tidak pernah berani menolak permintaan atasan yang kuanggap harus dihormati. Tanpa sadar, aku telah terlalu jauh menyiksa diri sendiri.
Asam lambung sering kambuh, stres, susah tidur, hingga insomnia. Hampir setiap enam bulan sekali aku harus masuk UGD. Bahkan setelah keluar dari rumah sakit, tubuhku tidak pernah benar-benar pulih. Sampai akhirnya suamiku mulai bersikap tegas melihat kondisiku yang terus sakit-sakitan. Ia memintaku berhenti bekerja. Selama ini sebenarnya ia selalu mengingatkan, selama aku bahagia ia mendukung, tetapi mungkin di tengah empat tahun masa kerjaku, ia mulai melihat kerusakan pada fisik dan mentalku.
Saat itulah aku sadar, ada suara yang lebih penting untuk didengar: suara orang yang benar-benar menyayangiku sepenuh hati, bukan orang yang hanya memanfaatkan kemampuanku karena aku dianggap bisa dan sanggup.
Aku Mundur dan Berhenti
Aku menyesal telah menjadi orang yang selalu mengiyakan. Menyesal menjadi pribadi yang terlalu permisif dan membiarkan orang lain memanfaatkanku. Namun berhenti bekerja bukan berarti aku langsung sembuh. Sampai sekarang fisiknya masih terasa. Pola tidurku berantakan. Ingatan tentang kekesalan dan dendam karena merasa dimanfaatkan masih terus muncul. Akibatnya, aku belum benar-benar sehat, meski sudah terlepas dari beban pekerjaan, beban pikiran, dan tekanan fisik yang berlipat-lipat.
Asam lambungku juga masih sering kambuh akibat pola makan yang dulu tidak teratur. Tetapi hidup harus terus berjalan. Aku sadar bahwa aku harus benar-benar sembuh, meskipun mungkin harus kulalui sendirian. Menarik diri dari lingkaran pekerjaan yang toxic adalah keputusan yang tepat.
Penyesalan Tak Berujung yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang
Penyesalan ini mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang, tetapi aku belajar bahwa setiap keputusan harus dipertanggungjawabkan. Keputusan untuk memulai dulu adalah keputusanku sendiri, dan keputusan untuk berhenti juga pilihanku sendiri.
Aku berharap anak cucu, keluarga, atau orang-orang terdekatku tidak pernah mengambil keputusan seperti yang pernah kuambil: menyanggupi sesuatu yang sebenarnya berada di luar kemampuan diri sendiri. Aku ingin orang-orang yang kusayang hidup sehat, hidup layak, bahagia, waras, dan tidak menyimpan dendam yang terus menggerogoti hati.
Menjadi orang yang tidak enakan memang sering dianggap baik—selalu ada, selalu bisa diandalkan. Namun sejatinya, selama itu pula ia sedang membohongi dirinya sendiri, memendam emosi bertahun-tahun, hingga akhirnya semua itu meledak dan kembali merusak tubuhnya sendiri.
