Ilustrasi: Gabe Pierce/Unsplash
Dulu, saya termasuk orang tua yang tidak pernah terpikir untuk meninggalkan anak sendirian di rumah apalagi memilih daycare sebagai tempat menitipkan anak. Perasaan khawatir dan tidak tega selalu muncul. Anak saya masih sangat kecil, bahkan untuk mengurus dirinya sendiri pun belum mampu.
Namun, kenyataan hidup tidak selalu sesuai harapan. Kami berdua harus bekerja, dan jelas tidak memungkinkan membawa anak ke tempat kerja saat itu. Kami juga tinggal jauh dari keluarga karena merantau, sehingga tidak ada kerabat yang bisa dimintai bantuan selain tetangga sekitar. Ditambah lagi, jarak rumah ke kantor cukup jauh. Pilihan yang tersedia hanya dua: berhenti bekerja atau mencari tempat penitipan anak.
Memutuskan Memilih Daycare
Saat kami benar-benar membutuhkan solusi, kebetulan di lingkungan tempat tinggal kami baru saja dibuka sebuah daycare. Pemiliknya dikenal sebagai sosok yang baik hati dan santun, yang biasa kami panggil “Umi.” Ia memiliki keluarga yang juga dikenal ramah dan religius, serta masih memiliki hubungan dengan pengelola taman kanak-kanak terbaik di daerah kami.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, kami akhirnya mendaftarkan anak kami. Ia menjadi anak ketiga yang dititipkan di daycare tersebut. Sebelum mulai, kami menjalani sesi wawancara untuk membahas kebiasaan anak, kemungkinan alergi, pola asuh di rumah, serta hal-hal penting lainnya yang dicatat dengan sangat teliti oleh Umi.
Daycare tersebut didukung oleh dua orang pengasuh lulusan pendidikan anak usia dini. Fasilitasnya pun tertata rapi, mulai dari tempat tidur, peralatan makan, hingga berbagai mainan edukatif yang mendukung perkembangan motorik anak.
Awalnya kami sempat cemas ketika akhirnya memutuskan memilih daycare saat itu. Akan tetapi perlahan rasa tenang muncul karena anak kami berada di tangan yang tepat. Setiap pagi, kami mengantarnya bahkan saat masih mengantuk. Kami menyiapkan pakaian ganti, popok, camilan favorit, dan susu formula.
Umi selalu menyambut dengan penuh perhatian, bahkan melanjutkan tidur anak kami dengan hati-hati. Ketika kami menjemput di sore hari, anak sudah dalam kondisi bersih, kenyang, dan ceria.
Sering kali Umi bercerita, “Hari ini makannya lahap, bahkan berhasil makan sayur bayam.” Hal-hal kecil seperti itu membuat kami lega. Anak kami juga selalu menceritakan pengalaman menyenangkan selama di daycare.
Perubahan Setelah Satu Tahun
Meski daycare memberikan rasa aman, sebagai orang tua saya tetap ingin lebih dekat dengan anak. Kesempatan itu datang ketika saya pindah pekerjaan, di mana kantor baru menyediakan ruang khusus bagi karyawan yang membawa anak.
Akhirnya saya memutuskan untuk membawa anak ke tempat kerja. Keputusan ini tentu tidak mudah dan cukup melelahkan, tetapi di sisi lain menjadi kesempatan untuk mengajarkan kemandirian sejak dini.
Tanpa disadari, anak saya berkembang lebih mandiri dibandingkan anak seusianya. Ia mulai terbiasa membereskan mainan, mengenakan pakaian sendiri, memakai sepatu, hingga menggunakan toilet tanpa bantuan. Kemandirian ini terus berkembang hingga ia benar-benar mampu mengurus dirinya sendiri di usia delapan tahun.
Mulai Berani Meninggalkan Anak di Rumah
Saat duduk di kelas 2 SD, kemampuan anak saya sudah cukup luar biasa. Ia bisa memasak nasi dengan rice cooker, membuat telur dadar, bahkan memasak mi instan. Ketika kami harus menjalani isolasi mandiri saat pandemi, justru dia yang membantu merawat dan menyiapkan makanan. Pengalaman itu sangat mengharukan bagi saya.
Sejak saat itu, dalam kondisi mendesak, saya mulai berani meninggalkannya sendirian di rumah. Tentu dengan persiapan matang: makanan sudah disiapkan, bahan makanan tersedia, serta memastikan ia memahami aspek keamanan seperti penggunaan kompor, listrik, dan air.
Saya juga selalu memberi tahu tetangga terpercaya agar ikut mengawasi. Seiring waktu, anak saya semakin memahami situasi dan menjadi sangat kooperatif. Saya tetap memantau melalui telepon saat bekerja.
Tetangga pun sering memberi kabar, memastikan ia sudah makan atau menawarkan bantuan. Namun, anak saya biasanya sudah mampu mengurus semuanya sendiri.
Kesimpulan
Meninggalkan anak di rumah tidak selalu berdampak buruk, selama dilakukan dengan persiapan dan pengawasan yang baik. Kunci utamanya adalah membekali anak dengan kemandirian, kewaspadaan, serta komunikasi yang terus terjaga.
Melatih kemandirian sejak dini terbukti sangat membantu, terutama ketika orang tua berada dalam situasi yang mengharuskan mereka meninggalkan anak untuk sementara waktu.
________
Terima kasih sudah membaca. Temukan artikel menarik lainnya di https://ruangpena.id/
