Daun Sintrong: Dari Rumput Liar Menjadi Hidangan Penuh Makna
Mungkin tidak banyak yang tahu, dan tidak semua orang tertarik untuk mengonsumsi daun sintrong. Namun bagi saya, rumput liar yang satu ini menyimpan banyak cerita—termasuk kisah sederhana yang ingin saya bagikan kali ini.
Siang itu, matahari bersinar cukup terik. Kami berada di kebun kecil di samping rumah, membersihkan rumpun pohon pisang yang sudah terlalu rimbun hingga menghalangi sinar matahari masuk ke rumah.
Kebun itu tidak luas, hanya sekitar 10 tumbak. Namun bagi kami, itulah satu-satunya ruang hijau yang tersisa. Kami tidak ingin lahan tersebut berubah menjadi bangunan. Lingkungan kami sudah dipenuhi rumah-rumah yang berdempetan, minim ruang terbuka. Kami masih membutuhkan udara segar, ruang bernapas, dan sedikit sentuhan alam.
Selama tiga tahun terakhir, kami berusaha menjaga dan menghijaukan kebun itu. Kami menanam berbagai tanaman—bunga, pohon, tanaman rambat, hingga tanaman yang bisa diolah menjadi bahan makanan.
Hari itu, pekerjaan menebang pohon pisang dilakukan oleh beberapa bapak yang diminta membantu oleh bapak mertua. Mereka bekerja dengan semangat, sebagaimana kebiasaan di desa yang masih menjunjung tinggi rasa kebersamaan, meskipun tidak memiliki hubungan darah.
Saya sendiri tidak banyak membantu. Lebih sering memperhatikan sambil sesekali membersihkan rumput liar yang mulai tumbuh lebat. Hingga akhirnya, saya menemukan tanaman sintrong yang tampak segar di antara semak. Tanpa ragu, saya memetik pucuk-pucuk mudanya untuk dijadikan bahan masakan.
Saat sedang memetik, beberapa anak tetangga bertanya, “Itu untuk apa?”
“Saya mau masak, ditumis seperti kangkung,” jawab saya santai.
Mereka tampak heran, bahkan sedikit bergidik. “Masa rumput dimakan?” kata mereka.
Tatapan mereka membuat saya tampak seperti orang aneh. Suami saya yang melihat kejadian itu hanya tersenyum dan berkata, “Kamu mah, daun apa saja dimakan.”
Saya pun menjelaskan bahwa daun sintrong sudah sejak lama menjadi makanan sehari-hari di kampung. Tidak hanya dimasak, daun ini juga sering dimakan mentah sebagai lalapan, ditemani sambal terasi, sambal matah, atau sambal kelapa.

Rasanya khas—nikmat, dengan sensasi hangat di tenggorokan. Selain itu, daun sintrong juga dikenal memiliki banyak manfaat untuk kesehatan: membantu penyembuhan luka, melancarkan pencernaan, meredakan gejala flu dan sakit kepala, menjaga kesehatan kulit, mengurangi jerawat, hingga membantu menurunkan kolesterol, tekanan darah, dan asam urat. Setelah mendengar penjelasan itu, suami saya akhirnya setuju untuk mencoba.
Saya pun mulai memasaknya. Daun sintrong ditumis sederhana seperti kangkung—dengan bawang merah, bawang putih, cabai, dan tomat. Ditambah garam, gula, dan sedikit penyedap secukupnya.
Kami menyantapnya saat makan siang. Ternyata, suami saya menyukainya.
Di sela makan, saya sempat berkata padanya, “Suatu hari nanti, saat kita menua, kita mungkin hanya berdua di rumah. Anak-anak sudah punya kehidupan masing-masing. Saat itu, kondisi finansial kita mungkin tidak sebaik sekarang. Kita harus mulai belajar hidup sederhana, termasuk dalam hal makanan.”
Ia tersenyum sambil mengunyah, lalu berkata, “Siap, ini enak kok. Semoga manfaatnya juga bisa dirasakan tubuh.” Saya pun tersenyum mendengarnya.
Pada akhirnya, kita akan kembali pada alam. Selama kita selektif dan memahami mana tumbuhan yang aman serta bermanfaat, tidak ada salahnya menjadikannya sebagai sumber pangan. Bukan semata soal berhemat, tetapi juga memberi kesempatan pada tubuh untuk merasakan manfaat alami yang telah disediakan.
Alam telah menyediakan banyak hal—rasa, khasiat, dan manfaat—yang sering kali kita abaikan.
Lalu, bagaimana dengan Anda?
Apakah pernah mencoba tumis daun sintrong?
_________
Terima ksasih sudah membaca. Temukan artikel menarik lainnya hanya di Ruang Pena
