Berjalan sendiri di belantara kebudayaan adalah sebuah sikap yang menuntut keberanian. Ludeung—berani—menjadi kata kunci yang menuntun langkah seorang pejalan yang memilih jalan sunyi, jauh dari keramaian komunitas atau organisasi yang sibuk mengajukan proposal anggaran.
Dalam kesunyian itu, justru lahir ruang refleksi: berpikir, menulis, dan memperjuangkan hak kebudayaan Sunda tanpa harus tunduk pada birokrasi.
Menapaki Jalan Sunyi
Kesunyian bukanlah keterasingan, melainkan kesempatan untuk melihat kebudayaan dengan jernih. Di luar hiruk-pikuk organisasi, kebudayaan tampak sebagai laku hidup, bukan proyek. Anggaran turun tanpa transparansi, gagasan tidak pernah ditanya, pekerjaan tidak pernah ditawarkan.
Maka berjalan sendiri berarti menjaga kemurnian niat: menulis tanpa pesanan, berpikir tanpa batas, berjuang tanpa kompromi.
Kebudayaan sebagai Hak
Kebudayaan Sunda adalah hak, bukan hibah. Ia hidup dalam bahasa, dalam filosofi silih asah, silih asih, silih asuh. Ketika hak itu direduksi menjadi angka dalam laporan, keberanian diperlukan untuk menolak tunduk. Ajip Rosidi pernah menegaskan: “Kebudayaan bukanlah barang dagangan, melainkan jiwa bangsa yang harus dijaga dengan kesadaran.” Kutipan ini meneguhkan bahwa kebudayaan tidak bisa diperlakukan sebagai komoditas birokrasi.
Menulis sebagai Perlawanan
Menulis adalah jalan perlawanan yang paling jujur. Dengan pena, seorang pejalan kebudayaan bisa menyingkap paradoks: bagaimana anggaran mengalir tanpa arah, bagaimana komunitas sibuk dengan proposal tetapi lupa pada esensi.
Pramoedya Ananta Toer pernah berkata: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan sejarah.” Menulis, dengan demikian, bukan hanya catatan pribadi, melainkan cara untuk memastikan kebudayaan tidak hilang dari sejarah.
Berjalan Tanpa Rombongan
Tidak ikut nongkrong di komunitas bukan berarti menutup diri, melainkan menjaga kemurnian langkah. Kebudayaan Sunda terlalu luas untuk dibatasi oleh meja rapat. Berjalan sendiri berarti membuka diri pada belantara ide, berdialog dengan naskah kuno, dan menyerap pepatah leluhur.
Di sana, keberanian menemukan bentuknya: teguh, jernih, dan tidak tergantung pada legitimasi luar.
Ludeung sebagai Jalan Hidup
Ludeung berjalan sendiri di belantara kebudayaan adalah sikap eksistensial. Ia menolak menjadi penonton dalam panggung kepura-puraan. Ia memilih jalan sunyi, tetapi penuh makna. Keberanian bukan hanya soal menghadapi gelap, melainkan soal menyalakan cahaya dari dalam diri.
Dengan demikian, berjalan sendiri bukanlah keterasingan, melainkan pernyataan: kebudayaan adalah hak yang harus diperjuangkan, bukan hibah yang menunggu belas kasih. Dan keberanian itu, ludeung, adalah jalan hidup yang meneguhkan martabat.
