Dahlan, pemuda tua yang usianya sudah lebih dari kepala empat. Gelarnya berjejer hasil sekolah tinggi yang diraih susah payah dengan biaya yang berebut sama uang dapur bulanan. Gelar berjejer itu berhasil berhasil mengantarkannya kepada sebuah status yang membanggakan. Dengan titelnya sebagai dosen, dirinya merasa lebih gagah dan keren, “Saya berilmu dan tentu saja penuh wibawa.”
Ia semakin rajin bekerja mencari simpati atasan, sampai akhirnya mendapatkan jabatan incaran. Hal itu tentu saja membuatnya semakin besar kepala. Dengan dandanan perlente ia petantang-petenteng di depan mahasiswanya yang masih belia. Tebar pesona, jadi sosok yang paling bijak dan berpikiran matang, berharap diidolakan.
Ketika ada yang mendekat langsung senang bukan kepalang, hidung terbang, hati pun riang seringan kapas. “Ternyata saya masih disukai gadis belia,” gumamnya sambil menepuk dadanya yang kadang mulai terasa sesak kalau kecapean.
Setiap hari, penampilan mulai berbeda. Semula asal saja berangkat kerja dengan kemeja biasa, berniat mencari nafkah untuk keluarga, kini berubah menjadi lebih sering berkaca. Mulai tak nyaman ketika kemeja kurang rapi disetrika. Minyak wangi disemprot lebih dari lima kali, rambut dipakaikan minyak agar selalu rapi dari pagi hingga petang nanti.
Bukannya bangga punya suami lebih ganteng dan gagah dari sebelumnya, sang istri malah herang bukan kepalang. Dahinya mengkerut menyerupai sulaman benang di kain kusut.
Sebelumnya, niat mencari nafkah benar-benar lurus. Mengabdi di sebuah lembaga perguruan tinggi adalah bakti yang mulia. Namun kemudian motivasinya berbeda, karena para perempuan muda yang selalu menunggunya di dalam kelas, jauh lebih memberikan semangat dan warna baru dalam kehidupannya. Masuk ke kelas dan memberikan perkuliahan adalah hal yang sangat membahagiakan setiap harinya. Jika libur tiba, maka hari dan waktu terasa berjalan sangat lama.
Pemuda tua yang bahkan sedikit lagi berbau tanah itu lupa, bahwa dirinya sudah jauh berbeda. Usianya yang terasa belum terlalu tua menurutnya, tapi uban mulai tumbuh memenuhi kepala. Pemikirannya memang tapi sayang ia mulai terlena. Senyum manis tersipu dari mahasiswi itu, telah membuatnya lupa diri bahwa anak di rumah sudah memakai kemeja ukuran yang sama.
Lika-liku kehidupan rumah tangga yang dialaminya, mungkin membuatnya sedikit bosan dan ingin cari hiburan. Makanya, memanjakan mahasiswa di kampus juga tidak mengapa. Anggap saja kasih sayang seorang bapak. Atau kedekatan dosen dengan mahasiswa yang butuh bimbingan kuliah dan sedikit bimbingan hidup yang lebih bermakna.
Pemuda tua itu sedang lucu-lucunya. Puber kedua merajai tak terkendali, tak jarang membuatnya lupa diri.
Nyatanya, di dunia akademik banyak yang seperti Dahlan. Bahkan tak jarang yang diberitakan kebablasan. Seorang yang berstatus dosen melakukan tindakan pelecehan. Mereka tak mampu menahan hasrat, godaan setan melumpuhkan akal sehat yang diasahnya di bangku kuliah. Meluluhlantakkan gelar mulia yang ada di pundaknya. Beberapa masuk berita. Sisanya, mungkin belum terbuka atau memang tak terendus media.
Mereka melukai sucinya dunia pendidikan. Bukan hanya terjadi di kampus, bahkan pondok pesantren yang notabene tempat orang belajar ilmu agama. Orang-orang yang seharusnya mencerminkan orang berilmu, alim ulama, ternyata sama saja — dia seorang manusia yang masih bisa diperdaya oleh setan sampai mereka bertindak lebih durjana dari setan/iblis itu sendiri.
Untuk para perempuan, terutama kalian yang sedang menempuh ilmu di bangku sekolah atau kuliah. Bersikaplah waspada, jangan mudah terpedaya. Jangan tertipu tampilan atau pembawaan. Orang cerdas tidak selalu bisa mengendalikan dirinya. Yang pintar dan berwibawa pun punya hasrat dan keinginan yang membara. Kalau mereka kurang iman, setan akan mudah menggoda dan mengendalikannya.
Usia boleh tua, tapi bukan jaminan mereka lebih bijaksana. Gelar boleh guru/dosen/kiai atau entah apa lagi. Namun setan tidak akan pernah menyerah menyesatkan umat manusia. Hormatilah mereka sekadarnya sesama manusia. Tidak perlu berlebihan apalagi sampai membuat mereka terpesona.
Kejar mimpi dengan kerja keras dan prestasi yang ditempuh dengan pola pikir yang jernih. Bukan dengan tampilan dan kedekatan seperti penjilat yang menginginkan posisi tertentu. Dapatkan nilai baik karena kamu telah belajar keras, bukan karena hasil PDKT kepada pemuda ketuaan yang menjadi pengajar di perkuliahan.
Ini adalah bentuk kasih sayang saya kepada semuanya (terutama perempuan) yang sudah muak melihat para pemuda tua yang banyak gaya dan kerap tebar pesona. Semoga bermanfaat.
