Tatkala Ramadhan: Renungan tentang Syukur dan Sabar

Renungan Ramadhan

عَنْ صُهَيْبٍ بْنِ سِنَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ” (رواه مسلم)

Dari Shuhaib bin Sinan RA ia berkata, Rasulullah SAW mengajarkan, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat dia bersyukur dan itu baik baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim, no. 5318)

Seorang mukmin itu akan selalu bersyukur ketika diberi rezeki yang melimpah, ia menggunakan rezeki tersebut untuk berbagi dengan sesama, beramal shalih, dan meningkatkan ketaatan kepada Allah. Dia tidak melupakan asal-usulnya dan selalu mengenang nikmat Allah yang diberikan kepadanya.

Pun ketika diuji dengan cobaan yang berat seperti kehilangan orang kekasih hati yang sangat dicintai atau mengalami kesulitan finansial, seorang mukmin tetap bersabar. Dia memahami bahwa cobaan itu adalah ujian dari Allah dan dia percaya bahwa Allah hanya memberikan cobaan sesuai dengan kekuatan yang diberikan-Nya. Dalam kesabaran, dia tetap teguh dalam imannya, tidak mengeluh, tidak meninggalkan syariat apalagi prustasi tapi tetap berusaha untuk menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati.

Memang, hidup tak pernah menepati semua harapan; kadang menyenangkan, kadang menyakitkan. Kadang bahagia, kadang dirudung kecewa. Ingat tak ada bahagia yang abadi dan tak ada kecewa yang abadi. Semuanya semu. Semuanya fana. Namun, bagi seorang mukmin, segalanya itu selalu baik. Ketika bahagia, ia bersyukur. Ketika menghadapi kesulitan, ia bersabar.

Syukur adalah cara kita menghargai nikmat-nikmat Allah dengan taat kepada-Nya. Sedangkan sabar adalah sikap menahan diri dalam situasi yang mungkin tak diinginkan, namun tetap berada dalam ketaatan kepada Allah.

Ramadhan mengajarkan kita untuk bersyukur atas segala nikmat yang tiada terhingga dan tetap sabar dalam menghadapi segala cobaan.

Wallahu ‘alam bis shawab


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *