Di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur, atau di sudut-sudut kampung yang berdenyut dengan kehidupan, suara bising bukan lagi sekadar gangguan. Bagi sebagian masyarakat kelas menengah ke bawah, kebisingan telah menjelma menjadi bahasa, simbol, bahkan senjata. Knalpot brong yang meraung, sound system yang menggelegar, atau toa masjid yang memekakkan telinga, semua itu bukan hanya soal selera, tapi tentang eksistensi.
Mengapa suara bising begitu melekat dalam budaya mereka?
Pertama, ini adalah cara untuk menunjukkan keberadaan. Di tengah sistem yang sering kali mengabaikan suara mereka, kebisingan adalah cara untuk berkata, “Kami ada!” Ini adalah bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan, sebuah teriakan bahwa mereka tidak akan lagi diam.
Kedua, kebisingan adalah simbol status. Dalam masyarakat yang terpinggirkan, memiliki sound system dengan bass yang menggetarkan atau knalpot yang memekakkan telinga bisa menjadi simbol prestise. Ini adalah cara untuk mendapatkan pengakuan, untuk merasa penting di tengah dunia yang terasa sunyi secara makna.
Ketiga, kebisingan adalah pelarian. Ketika kenyataan hidup begitu keras, suara bising bisa menjadi pengalih perhatian. Ia menutupi kesunyian, rasa sakit, dan ketidakberdayaan. Dalam kebisingan, mereka menemukan komunitas, kebersamaan, dan rasa memiliki.
Namun, tentu saja, kebisingan bukanlah solusi. Ia bisa menjadi bumerang, menciptakan konflik, dan memperburuk kualitas hidup. Pertanyaannya, mengapa mereka memilih kebisingan sebagai senjata? Jawabannya mungkin terletak pada ketidakberdayaan mereka untuk menggunakan cara lain. Ketika dialog dan negosiasi tidak membuahkan hasil, kebisingan menjadi satu-satunya cara untuk didengar.
Kita hidup di zaman yang paradoks. Di satu sisi, kita mendambakan ketenangan dan kedamaian. Di sisi lain, kita dikelilingi oleh kebisingan yang memekakkan telinga. Mungkin, inilah saatnya kita merenungkan kembali arti dari suara. Apakah kita perlu membuat kebisingan yang menyakitkan untuk didengar? Atau bisakah kita menemukan cara yang lebih manusiawi untuk berkomunikasi dan saling memahami?
Kebisingan bukan hanya masalah polusi suara, tapi juga masalah sosial. Ia mencerminkan ketidakadilan, ketidakberdayaan, dan kebutuhan akan pengakuan. Mari kita dengarkan suara-suara yang terpinggirkan, bukan dengan telinga yang tertutup, tapi dengan hati yang terbuka. Karena mungkin, di balik kebisingan itu, ada jeritan yang memohon untuk didengar.
Tentu saja, opini ini bersifat subjektif dan tidak lepas dari kesalahan. Namun, inilah kebebasan berpendapat. Mari kita berdiskusi, berdebat, dan mencari solusi bersama. Karena hanya dengan saling memahami, kita bisa menciptakan dunia yang lebih adil dan harmonis.
