Selemah-lemahnya Iman adalah Mengingkari dengan Hati

Selemah-lemahnya iman

Selemah-lemahnya iman adalah mengingkari dengan hati. Ampuni aku ya Robb jika belum seluruhnya bisa menghindari hal-hal yang tidak seharusnya. Aku tahu, setiap amalan yang tidak ada tuntunannya akan tertolak alias sia-sia. Namun apa daya ketika dihadapkan pada lingkungan yang kerap memaksa dan membuatku terdesak tanpa menyajikan pilihan lain.

“Pak Ustadz sudah datang, ayo lekas ke depan!” suruh Emak padaku yang masih mengenakan mukena karena baru saja selesai mengaji selepas magrib.

“Iya nanti aku menyusul. Mas Ardi baru saja datang. Kasian masih capai. Kami ke sana nanti ya,” jawabku dengan tetap berusaha santun.

Orang yang kupanggil emak pun berlalu meninggalkan kami, bergegas ke rumahnya lagi yang tidak jauh dari rumahku, hanya terhalang oleh tiga rumah.

Read More

Emak adalah saudara jauh dari ibuku yang sudah meninggal. Entah sejak kapan, seingatku sejak dulu panggilan ’emak’ sudah melekat padanya bahkan banyak orang melakukan hal yang sama.

Namun karena kebaikan beliau kepada keluarga kami, makanya tidak lagi terasa kalau emak adalah saudara jauh.

“Ada acara apa emak minta kita ke rumahnya?” tanya mas Ardi.

“Syukuran punya kendaraan baru,” jawabku.

“Kamu kok kayak yang malas begitu. Mau ke sana gak?” tanya mas Ardi lagi sambil membuka baju koko panjangnya yang digunakan untuk solat. Menggunakan kaos oblong adalah kesukaannya kalau sedang ada di rumah.

“Kayaknya ke sana aja deh,” jawabku seraya mengulas senyum di wajah, “tapi habis isya aja ya, sebentar lagi adzan.”

Mas Ardi pun menyetujui.

Aku sebenarnya malas kalau misal harus datang ke sana. Beberapa kali ikut acara serupa selalu saja merasa tidak nyaman. Hanya sebatas menghargai tuan yang mengundang saja sampai datang ke rumah makanya memaksakan pergi.

Sesampainya di sana aku melihat orang-orang masih sibuk. Acara belum dimulai. Awalnya kupikir, kami ke sana sudah hampir selesai. Agar tidak perlu menyimak acara terlalu lama.

Berapa orang sudah duduk melingkar di sisian karpet. Melingkari tumpeng yang tersaji begitu indah, seperti mau diikutsertakan ke acara lomba tumpeng 17an. Beberapa sajian terhidang, buah rambutan yang kebetulan sedang musim pun ikut meramaikan. Gelas-gelas mengepul terisi oleh kopi dan teh panas. Jumlah yang hadir tidak terlalu banyak hanya sekitar 15 sampai 20 orang, aku tidak berniat menghitungnya.

Emak yang menjadi tuan rumah masih sibuk bolak-balik ke dapur dan membawa piring rotan yang dilapisi oleh kertas nasi. Lalu mempersilakan kami duduk.

“Duduk lah, acaranya mau dimulai. Sengaja tidak mengundang banyak orang, cuma saudara dekat saja,” ujarnya. Lalu ia mengambil tempat duduk di sebelah lelaki yang menggunakan sorban dan suaminya.

Sebelum akhirnya memulai, lelaki yang menggunakan sorban berbisik yang kemudian menimbulkan gaduh orang-orang.

“Ambil saja, di botol atau di baskom. Ini bunganya sudah ada,” ujar seorang lelaki yang duduk tepat di hadapanku.

Tidak lama kemudian, emak membawa air dalam sebuah wadah yang kupikir sangat bagus. Sebuah mangkuk terbuat dari keramik berwarna putih berhiaskan bunga-bunga. Lelaki itu menaburkan bunga ke dalam wadah berisi air.

Lelaki bersorban mulai berbicara, disambung dengan kalimat-kalimat yang sebagian besar tidak aku kenali. Setengah jam lamanya kami harus mendengarkan kalimat yang lebih terdengar seperti mantra. Orang-orang¬† mengucapkan kata “aamiin” dengan suara lantang.

Tidak satupun kalimat yang kukenali sebagai doa kecuali surah Al-fatihah yang ada di bagian akhir, ketika kakiku sudah begitu pegal terlipat.

Setelah semua mengusap wajah dengan kedua tangannya, lelaki bersorban menyuruh emak dan suaminya membawa air berisi bunga itu ke luar. Aku dan anakku yang terpisah tempat saling bertatapan. Aku begitu yakin, di kepala anak lelaki itu sudah ada banyak pertanyaan.

“Basuhkan air doa itu ke mobil, lap pelan-pelan. Agar lancar dibawa usaha dan ikhtiar. Adapun yang mengendarainya nanti supaya selalu diberikan keselamatan,” ucap lelaki bersorban dengan sangat yakin dan percaya diri.

Aku, suami tidak sengaja saling bertatapan. Aku sudah bisa menerka bahwa apa yang ada di kepala kami sama adanya.

Selesai berdoa kami diminta untuk menyantap makanan yang tersaji. Dengan membaca basmalah aku makan nasi tumpeng dan lauk pengiring secukupnya. Selesai ngobrol basa-basi kami pamit pulang dengan alasan, anakku belum mengerjakan tugas sekolah.

“Bun, kok tadi pas berdoa ada Karawang, Cirebon dan nama-nama daerah lainnya sih?” tanya anakku yang berusia sebelas tahun ketika kami berjalan pulang menuju rumah.

“Nanti kita bahas di rumah,” jawabku singkat sambil mempercepat langkah supaya lekas sampai di rumah.

Aku mengajak anakku duduk di kursi ruang tamu. Sementara mas Ardi melanjutkan minum kopi yang belum sempat dinikmati sepulang kerja tadi di ruang televisi.

“Nak, dengarkan Bunda. Apa yang kita hadiri tadi, kalau misal terpaksa harus kita ikuti lagi maka cukup duduk diam. Kalaupun ada bacaan surah pendek, cukup dengarkan. Karena sejatinya kita wajib mendengarkan kalau ada ayat Alquran dibacakan.” Aku mengatakannya dengan sangat serius.

“Jadi gak usah ikutan?” tanya anakku.

“Bunda sudah bilang, cukup diam!” jawabku tegas.

“Kalau emang gak ikutan, kenapa kita harus ke sana? Kenapa kita harus datang?” tanya anakku lagi.

“Sayang, tetangga kita mengundang sampai datang ke sini. Jika memang kita ada waktu maka kita harus memenuhi undangannya. Adapun di sana ternyata terselip sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam agama, maka diam adalah satu-satunya pilihan. Karena selemah-lemahnya iman adalah mengingkari dengan hati. Kita datang ke sana bukan sengaja mau ikutan itu. Namun memenuhi undangan. Kalau bisa menghindar ya kita lakukan. Tapi tadi emak melihat sendiri, kita ada di rumah semua, masa kita mau menolak. Semoga lain kali kalau ada lagi, kita kebetulan lagi pergi ya!” ucapku sambil tertawa.

“Oh iya, Bunda. Emang iya air bunga tadi bisa menyelamatkan mobil dan pengendaranya?” tanya jagoanku lagi.

“Itu hanya kepercayaan dan keyakinan orang-orang, Nak. Kita yakini yang sudah kita pelajari dari ustadz-ustadz kita aja ya… Beliau ambil dari ayat dan hadis kok,” ucapku sambil menatap teduh wajah anak salih di hadapanku. Anak itu mengangguk patuh.

“Yang menyelamatkan kita dari marabahaya adalah Allah bukan air bunga. Kalau kita taat kepada Allah Insyaallah Allah akan senantiasa menjaga kita. Jangan lupa lakukan amal salih, dan memperbanyak sedekah karena sedekah adalah penolak bahaya dan sakit. Solat lima waktu juga jangan lupa,” ucapku.

“Ada yang lebih penting, Bunda, berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu,” ucap anakku dengan riangnya karena menemukan jawaban lain.

“Betul. Cukup mudah bukan? Kalau bisa, biasakan juga membaca dzikir pagi dan petang di sana banyak doa-doa yang makna dan faedahnya hebat sekali,” ucapku lagi.

Anakku tersenyum begitu manis, lalu, “sama kalau kita mau bepergian dan berada di tempat yang baru, kita berdoa, Audzubikalimatillahi Tammati Min Syarri Ma Khalaq yang artinya, aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kejahatan ciptaan-Nya,”

Aku tersenyum lega seraya mengelus rambut anak lelakiku, “anak pintar! Jadi kalau kita terpaksa hadir lagi di acara serupa, kamu tahu apa yang harus kita lakukan?” tanyaku.

“Mengingkarinya dengan hati, cukup diam sampai acaranya selesai,” jawab anakku sambil bergegas menuju tempat di mana ayahnya berada.

Aku pun menyusul bergabung dengan mas Ardi yang sedang asik menonton televisi.

Semoga bermanfaat.

*Alur cerita di atas hanyalah ilustrasi yang dianggap cocok dengan inti pesan yang ingin disampaikan.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *