Selamat Berjuang, Nak

selamat berjuang

“Selamat berjuang, Nak,” gumamku.

Tidak terasa anak semata wayang yang kini sudah duduk di kelas empat Sekolah dasr akan menempuh PTS semester ganjil. Selama menjadi orangtua sejauh ini tidak pernah terbersit untuk menuntut anak lelaki yang begitu memberikan banyak pelajaran hidup kepadaku untuk menjadi juara kelas, untu memiliki prestasi gemilang di sekolahnya.

Anakku memang bukan penghafal yang baik, tetapi ia adalah orang yang paling peduli ketika bundanya sakit. Ia bukan seorang yang selalu memiliki nilai bagus, bahkan nilai delapan pun nyaris sangat jarang, tetapi ia adalah anak lelaki yang berhasil menanak nasi dengan ketanakan yang pas di usia tujuh tahun. Ia memang tidak terlalu rajin belajar ketika di rumah, ia hanya belajar di sekolah. Namun ia adalah anak kecil yang merawat bundanya ketika sakit. Membuatkan telur dadar tanpa minyak, mengambilkan air hangat kuku untuk bundanya makan obat. anak yang mau membantu menyapu rumah, mengangkat jemuran, membantu mencuci piring, melipat selimut dan merapikan tempat tidur. Ya, ia selalu menjadi kebanggaan kami sebagai orangtuanya.

Selama ia tumbuh sebagai anak-anak, belum pernah rasanya merasakan jagoan kecilku nangis tantrum seperti yang kadang terjadi kepada anak-anak lain. Selama ini selalu merasa baik-baik saja, nyaris tidak ada kelelahan hati yang disebabkan karen aulahnya yang membuat orangtuanya marah. Putraku adalah anak kecil pertama yang menjadi guru kehidupanku selama ini.

Karena itu, sebagai bundanya, aku tidak pernah berhenti mendoakan dan telah berjanji bahwa apapun yang terjadi padanya, maka akan selalu kuterima seperti penerimaan dirinya keapdaku sebagai orantuanya.

Hari ini putraku sedang berjuang. Perjuangan kecil yang pasti akan membuatnya merasa besar, ketika bisa menaklukkan semua tantangannya. Kubisikan pesan untuknya. Disusul anggukan patuh penih hormat darinya.

“Nak…, selamat menempuh PTS. Lakukan semampumu. Unda tidak menuntut nilai sempurna. Unda juga dulu gak terlalu rajin kok, gak selalu dapat seratus. Kadang ogah belajar. Malas memaksa diri untuk menguasai pelajaran yang memang tidak begitu diminati. Jadi apa hak Unda untuk menuntutmu sempurna, jika masa kecil Unda sendiri masih dihabiskan untuk menikmati masa-masa bermain.

Namun tahu gak? Kakekmu dulu selalu bilang, bahwa Unda punya potensi. Itu yang selalu membuat Unda percaya diri. Gak menghafal keras gak apa-apa, yang penting Unda ngerti yang disampaikan guru. Intinya, kalau guru sedang menjelaskan, simak baik-baik dengan penuh sopan santun. Kamu juga begitu, kan?

Nak, materi pelajaran itu bukan untuk dihafal, tetapi untuk dipahami. Karena kalau kamu hafal, besok lusa kamu lupa. Namun ketika kamu paham, berpuluh tahun kamu akan mengingatnya.

Nilai ulangan kamu gak akan berpengaruh kepada kehidupan. Namun pemahamanmu terhadap semua prosesnya yang justru akan mendewasakan dan membuatmu memaknai sesuatu.

Ketika nilai kamu tidak sesuai yang kamu harapkan, tidak perlu bersedih. Unda lebih berharap kamu belajar dari kegagalan. Kamu memahami keadaan diri, potensi diri, dan menerima dirimu sendiri, itu jauh lebih baik untukmu.”

Selamat berjuang, Anak hebat Unda. 🤍

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *