Sekolah Content Creator

Content Creator

Dewasa ini, marak sekali sekolah yang menjadi “sarang” para content creator. Guru-guru kreatif merekam kegiatan pembelajaran di kelas. Tidak ketinggalan, siswanya pun diajak berpastisipasi untuk membuat konten di setiap moment penting, dengan tujuan agar sekolahnya semakin dikenal luas, dan efek lainnya yang tidak dapat dipungkiri adalah, akun pengungah menjadi semakin populer.

Walaupun profesi content creator mungkin cukup menjanjikan di era sekarang bahkan di masa depan saat anak-anak kita besar nanti, tetapi tolong ajarkan juga pada anak-anak tentang rasa malu.

Mendidik anak untuk berani tampil bukan berarti menjadikannya lupa sama rasa malu. Melatih keberanian itu tujuannya agar mereka berani tandang di depan banyak orang. Berani dalam berbicara, menyampaikan ide dan gagasannya, presentasi, dan meningkatkan rasa percaya dirinya. Karena kelak dia akan dituntut untuk tampil di depan dosen saat mempertanggungjawabkan hasil risetnya. Tampil di depan atasan dan kliennya saat bekerja. Tampil di depan masyarakat ketika dia terjun ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan ia harus percaya diri saat menghadap calon mertua. Eh!

Didiklah mereka dengan hal agama. Inilah yang harus jauh lebih banyak dilakukan para guru.

Read More

Karena agama itu bukan hanya tentang cara solat dan melafalkan bacaannya. Bukan hanya tentang doa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan. Bukan pula hanya soal tahfidz dan tahsin serta cara mereka melantunkan ayat Alquran dengan indah.

Lebih dalam dari itu. Pendidikan agama harus menjangkau tentang hukum halal dan haram. Tentang mana yang boleh dan yang tidak. Tentang adab seorang muslim dalam memerankan dan menjalankan agamanya.

Di sini, bukan hanya tugas guru agama. Melainkan tugas semua orang (guru) yang mengaku dirinya beragama islam.

Sayangnya, amsih ada lembaga-lembaga pendidikan yang mengusung bendera Islam yang lupa soal ini. Memampang program unggulan keagamaan yang bagus, tetapi lupa tentang bagaimana mengajarkan dan menjadi teladan anak-anak agar bersikap menjadi seorang muslim itu sendiri.

Banyak sekolah yang mengunggulkan program hafalan, tetapi masih menghadirkan kegiatan yang malah bertentangan dengan pencapaian program tersebut. Mengunggulkan hafalan, tetapi masih menghadirkan musik secara berlebihan. Padahal sudah jelas bahwa, “Sesungguhnya Alquran dan nyayian itu tidak akan bersatu di hati selamanya, karena keduanya itu bertentangan” (Ighatsatul Lahfan, 1: 248).

Memang, mungkin program hafalan masih bisa dijalankan. Namun esensi dari menghafal ayat Alquran itu sendiria bukanlah haya soal hafal dan lulus saat tes ujian hafalan itu sendiri.

Harapan pencapaian dari program hafalan Alquran itu seharusnya menjadikan para penghafalnya benar-benar mampu menjaga hafalan, istiqomah menjadi penghafal Alquran yang melekat walaupun sudah alumni hingga dewasa dan mereka tua nanti.

Alangkah indahya jika para lulusan sebuah sekolah islam, mampu melahirkan lulusan yang semakin taat, takwa dan istiqomah dalam menjalankan hal yang diprogramkan di sekolah secara berkelanjutan.

Bukankah itu malah menjadi promosi yang jitu dan abadi?

Sebaiknya, guru jangan terlalu sering mengajak anak-anak bikin konten. Saking ingin terlihat kekinian dan terkesan paling maju, semua yang sedang marak/populer latah diikuti. Jadinya, apa-apa dikontenin bahkan dijogedin dengan musik yang berlebihan.

Masih sangat banyak cara promosi kreatif lain yang bisa dijadikan jalan untuk menarik minat orang lain, bukan? Di antaranya menghasilkan lulusan seperti yang digambarkan di atas tadi.

Para guru tidak boleh lupa. Bahwa di sekolah tugasnya bukan hanya membuat sekolah dan kegiatan pembelajaran yang Anda ciptakan itu populer dan viral. Biar terlihat menyenangkan maka apa-apa direkam. Sedang mengajar direkam, aktivitas anak didokuemtasikan. Sampai hilang esensi dan tujuan pengajaran itu sendiri.

Biarlah anak-anak belajar secara natural yang mengalir berdasarkan nuraninya sendiri.  Tanpa terbebani bahwa mereka sedang direkam.

Akan lebih bijak jika semua guru berfokus pada persiapan mental mereka agar mampu mendidik dirinya sendiri dengan teladan dari para gurunya. Biarkan mereka belajar untuk lebih baik sehingga dapat mendidik generasi berikutnya; anak-anak dan cucu-cucu kita nanti.

Sisakan anak-anak yang masih “waras”. Sisakan anak-anak yang siap menjadi guru, pendidik, guru ngaji, ustadz dan ustadzah yang benar-benar dapat dijadikan teladan.

Memang tidak semua content creator itu buruk. Pun jika nanti anak-anak menganggap bahwa profesi ini adalah cara mencari cuan yang paling mudah karena melihat gurunya melakukan yang sama, maka selama positif ini tidak akan menjadi masalah yang significant.

Akan tetapi, para guru harus sadar. Bekerja keras lah untuk membetuk anak-anak pemberani yang bertangung jawab di dunia nyata. Bukan hanya berani tampil di dunia maya karena terlalu terbiasa mengunggah vidoe aksi mereka.

Sisakan anak-anak pemberani yang masih memelihara rasa malu sebagai martabatnya. Anak-anak saleh dan salihah yang pandai menghafal Alquran dengan benar-benar terjaga tanpa terkontaminasi musik dan lain sebagainya.

Untuk sekolah-sekolah yang notabene mengangkat bendera islam sebagai label sekolahnya, jangan lupa teruslah semangat berpegang teguh pada apa yang digariskan dalam Alquran dan As-sunnah sebagai dasar pencapaian visi misi lembaga yang sedang dijalankan kini.

Wallahu ‘alam bishowwab.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *