Sayangnya Bukan Kamu

Sayangnya bukan kamu

Pagi ini dingin sekali. Kadang ingin aku hangatkan dengan canda tawa. Sayangnya bukan kamu yang setiap pagi kutemui.

“Sudah berapa kali aku bilang. Bahwa cinta tidak harus melulu diungkapkan. Banyak hal yang terlalu berisiko jika orang dewasa seperti kita bermain api di atas tumpukan jerami. Kita bukan anak-anak lagi, bukan?”

Suara Lia terus terngiang di telinga. Mengganggu setiap aktivitasku. Bangun tidur, aku ingat, mau makan aku ingat, mau pergi kerja, sepanjang jalan rasanya ingin ditemani kamu. Sayangnya tidak selalu kamu bisa mengangkat panggilan teleponku.

Ah, mungkin kamu memang sibuk, atau sengaja menyibukan diri. Karena enggan memupuk rasa yang kau bilang jika terlalu sering berinteraksi maka kau dan aku akan semakin jatuh cinta lagi. Namun tahukah kamu, Lia. Justru dengan begini, aku malah tersiksa.

Read More

**

Pagi ini seperti biasa, aku melakukan aktivitas sebagai laki-laki dewasa. Bangun, mandi, siap-siap pergi kerja. Anya istriku masih betah di bawah selimut dengan media sosialnya. Rutinitas yang ia lakukan kalau hari libur tiba. Aku tidak bisa sepenuhnya menyalahkan. Anya juga lelah bekerja di salah satu perusahaan ternama di kota ini. Jam kerjanya terbilang cukup melelahkan untuk ukuran karyawan perempuan. Sejak dulu, dengan kecerdasannya istriku memang bisa selalu diandalkan masalah pekerjaan, apalagi soal pengelolaan keuangan. Ya, dia memang ahlinya. Tidak menjadi sebuah hal yang mengejutkan ketika sekarang ia mendapatkan posisi penting di bagian keuangan.

Sementara aku. Aku bekerja sebagai pengajar di salah satu kampus swasta. Jam kerjaku ditentukan dengan jam masuknya mahasiswa. Ya, maksudnya, hari Sabtu saja masih harus masuk kerja. Akan tetapi, tidak mengapa. jam kerjaku di hari biasa tidak sebanyak jam kerjanya Anya.

“Mas, jangan lupa makan dulu sebelum berangkat,” teriak Anya dari kamar. Aku langsung menghampirinya.

“Kamu kenapa, Sayang?” tanyaku sambil duduk di sisian ranjang. Anya yang terbaring di tempat tidur membetulkan selimutnya.

“Aku cuma lelah,” jawabnya.

Ku matikan AC di kamar agar Anya tidak terlalu kedinginan.

“Jadi aku makan sendirian nih? Mau aku suapin kamu di sini?”

Anya menggeleng. “Makan saja duluan. Pagi ini aku yang masak.”

“Lho, Bi Milah ke mana?” tanyaku.

Bi Milah adalah asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun menemani kami. Karena Anya bekerja, rumah kadang tidak terurus, tidak ada yang masak juga. Terlalu sering makan di luar, kurang sehat. Jadi, kami ajak bi Milah untuk bantu-bantu di rumah. Tugasnya sangat ringan. Karena kami belum dikaruniai anak. Tugas bi Milah hanya memastikan rumah dalam keadaan bersih dan rapi, makanan tersedia di meja setiap pagi dan malam, itu sudah lebih dari cukup bagi kami.

“Pulang kampung,” jawab Anya sambil membalikan tubuhnya membelakangiku.

Dengan langkah berat, aku meninggalkan kamar, setelah mengecup kening perempuan yang telah menemaniku selama enam tahun lamanya. Kening dan pipi yang terawat, membuat aku selalu berdecak kagum atas kecantikan istriku. Kepandaiannya merawat wajah dan tubuh membuat Anya tidak terlihat kalau dia sudah berusia lebih dari tiga puluh. Anya selalu tampil modis. Aku tidak merasa membatasi belanja untuknya. Aku bekerja untuk siapa lagi jika bukan dia. Ia pun memiliki penghasilan sendiri, mungkin ia gunakan juga untuk merawat kecantikannya. Aku tidak peduli, karena itu uang hasil jerih payahnya. Sepenuhnya hak dia.

Setiap pulang, Anya masih wangi. Perawatan salon dan spa langganannya bekerja baik dan cocok di tubuh Anya. Pernah suatu hari, aku berpikir, bagaimana jika di luar sana Anya disukai banyak laki-laki dan Anya pun menyukainya? Namun pikiran itu aku tepis jauh-jauh. Penerimaanku kepadanya selama ini seharunya membuat Anya sadar, bahwa ia tidak perlu pindah ke lain hati.

Selama pernikahan, Anya sangat jarang menemaniku di meja makan. Bajuku, makananku hampir semuanya bi Milah yang menyiapkan. Pagi ini aku cukup senang ketika tahu masakan yang kumakan adalah buatannya sendiri. Sebuah hal langka di lakukan di rumah ini.

Anya yang selalu khawatir akan tangan dan kukunya yang telah dirawat menjadi rusak. Anya bahkan sangat khawatir jika bentuk tubuhnya berubah setelah hamil dan melahirkan. Itulah kenapa Anya masih belum siap memiliki anak, sementara aku sangat menginginkannya.

“Kamu yang harus KB ya, Mas. Aku takut dengan pengaruh hormonnya. Nanti aku gemuk.” Kalimat Anya cukup menyakitkan. Aku menikahinya dengan penuh cinta, berharap segera bisa memiliki anak. Aku yakin jika lahir nanti wajahnya akan secantik dan seindah ibunya. Anya memang cantik sekali. Banyak teman lelakiku yang iri. Namun mereka tidak tahu dan tidak mengerti tentang apa yang aku rasakan di rumah ini.

Di suapan nasi dan sayur sup yang kesekian, aku tidak merasakan betul apakah ini lezat atau tidak. Yang kutahu, ini adalah kejadian langka bahwa aku menikmati masakan istriku sendiri sebelum berangkat kerja.

Andai kamu menemaniku makan, Anya… 

Ponselku berdering. Panggilan dari mahasiswa.

“Hallo, Pak Galang, mohon maaf mengganggu waktunya. Apakah hari ini Bapak akan masuk kelas? Mengingat jam kuliah Bapak sudah lewat sepuluh menit.”

Aku terperangah. Ku tengok arlojiku. Benar saja, seharusnya aku sudah ada di kelas saat ini.

“Silakan presentasi dulu, saya segera ke sana sekarang.”

Jarak rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah membuatku sampai dalam waktu kurang dari setengah jam. Beruntung kelas hari ini adalah kelas mahasiswa semester 6. Mereka sudah sangat bisa diandalkan untuk memulai diskusi di kelas lebih dulu.

“Aku berangkat,” bisikku.

Anya tertidur tanpa menjawab kalimatku. Kututup pintu kamar pelan-pelan agar istriku tidak terbangun.

Rumah sepi itu kutinggalkan. Mobilku melaju kencang menuju kampus.

**

“Hai, Mas Galang!”

Suara yang sudah sangat kukenal.

“Lia?”

Perempuan itu mendekat dengan setengah berlari.

“Apakah kelasmu sudah selesai?” tanyanya.

“Ya, hari ini sudah kuselesaikan. Kau sendiri?”

“Done,” jawab Lia seraya tersenyum manis.

“Apa kau lapar?” Aku bertanya dengan ragu. Disambut jawaban Lia. Ia setuju makan sama-sama dulu.

Hujan turun deras. Aku dan Lia terjebak di sebuah cafe yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus kami. Ya, Lia dan aku sama-sama bekerja di kampus yang sama. Aku dosen tetap, dan Lia, si gadis smart itu sedang melanjutkan kuliah dan mendapatkan tugas sebagai asisten dosen senior di sini.

Lia adalah sosok yang menyenangkan. Gayanya pun tidak terlalu ribet. Seperti hari ini, ia berdandan begitu sederhana. Walaupun begitu, aura smart nya sangat kentara.

Jika berdiskusi, Lia selalu bisa nyambung. Wawasannya memang luas. Menurutku, Lia adalah perempuan cerdas, dan dia semakin cantik dengan kecerdasannya itu. Caranya menyampaikan argumen, menjawab setiap pertanyaan bahkan Lia mendebatku sekalipun, selalu membuatku kagum.

“Hujannya deras, Mas. Aku tidak bisa memaksakan pulang,” ucap Lia.

“Iya, kita tunggu reda saja. Mungkin sebentar lagi. Apa mau tambah pesanan? Kopi mungkin?”

Lia mengagguk. Kupanggil pelayan untuk membuatkan kopi.

“Kalau pulang terlambat di akhir pekan, apakah istrimu tidak khawatir, Mas?”

Pernyataan Lia membuatku kaget. Aku baru ingat, belum cek kabar Anya di rumah.

“Oh, hm, tentu saja,” jawabku. Lantas aku meminta izin untuk menelepon istriku di rumah.

“Gimana, Mas?” tanya Lia. Meskipun Lia terlihat nyaman denganku, Lia tidak pernah lupa untuk mengingatkan aku untuk memberikan kabar kepada Anya. Kupikir, Lia menyukaiku, seperti aku yang tidak bisa berhenti menyukainya. Ternyata mungkin pikiranku salah. Lia begitu baik, sampai memikirkan Anya.

Mungkin Lia hanya menganggapku sahabat.

Aku bertemu Lia tiga tahun lalu. Saat pertama kali ia datang ke kampus. Kami bertemu secara tidak sengaja di kantin. Aku yang sedang lapar, memilih duduk di meja yang hanya diisi oleh seorang perempuan yang masih sibuk dengan laptopnya. Makanan yang dipesannya sama. Nasi goreng tanpa kecap. Dari sana kami berkenalan dan menjadi dekat. Banyak sekali kecocokan sampai hal-hal yang kami sukai dan tidak sukai pun banyak miripnya. Semakin hari, Lia semakin menyenangkan. Bisa dibilang, Lia lah yang menjadi penyemangat aku bekerja dan menyelesaikan banyak hal. Lia yang selalu optimis, pekerja keras, menjadi mood booster tersendiri ketika aku sedang merasa lelah dan tidak bersemangat.

“Mas, hujannya belum juga reda. Tapi ini sudah larut, kamu pulang lah. Istrimu nyariin nanti!” perintah Lia.

“Kamu gimana? Aku antar pulang ya?”

Aku menawarkan jasa antar dengan penuh harap.

“Lia, ini hujan. Mas antar, ya..,” pintaku.

Lagi-lagi Lia menggeleng, “tidak perlu, Mas. Lia bisa sendiri.”

Lia memang begitu. Kadang aku cemas dan khawatir. Ingin memastikan Lia selamat sampai rumahnya. Namun Lia selalu menolak.

Aku meninggalkan Lia sendirian di meja itu. Dengan hati yang masih berat, aku melangkah pergi.

Baru saja beberapa langkah, aku kembali menengok ke belakang. Memastikan Lia baik-baik saja. Perempuan itu masih menikmati kopinya. Sesekali tangannya digosok-gosokkan.

Lia kedinginan.

Langkahku berbalik, mendekatinya.

“Lia, ayo Mas antar pulang!”

Sudahlah, pulang sana! Jangan buat istrimu khawatir, Mas!”

__

Bersambung ke part 2

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *