Awan kelam menyelimuti kota Jakarta siang ini, dan aku, laraku membiarkan diri bercengkrama dengan desiran serayu yang tiap detik mampu menutup wajah luguku dengan helaian rambut hitam.
Aku termenung, bahkan tanpa sadar air mata mampu menghiasi wajah yang kusam. Sebab gelisah dan rasa kecewa menjadi bayangan di setiap detiknya. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan di rooftop setelah setengah jam yang lalu aku meninggalkan ruang sunyi Flamboyan 203. Sepetak ruang hampa yang menyimpan lara di tengah rumah sakit ibu kota.
Aku tenang, namun ada khawatir yang mengendap perlahan. Karena akhirnya kakiku berhasil meninggalkan ruang sunyi yang penuh sesak. Tiap pergantian jamnya hanya menghadirkan ruang kosong, bersama ia yang terbujur kaku di sana. Namun kini, kicauan burung seakan menyuruhku untuk menjauh dari rooftop rumah sakit. Padahal tenang, sudah aku temukan di sini. Mungkin itu pertanda hujan akan segera menyapa atau mungkin….. deg! aku panik, suara dalam kepalaku memanggilnya dengan panik. Dengan gemetar aku berlari menuruni tangga sebab teringat sudah setengah jam aku meninggalkannya.
Brak! aku mendobrak pintu ruangan dengan kepanikkan yang membalut diri. Tak ada yang berubah, ia masih terbaring di sana. Diam, selimut putih membungkus tubuhnya yang rapuh. Aku merasa bersalah karena rasa panikku telah membangunkan dia dari lelapnya yang tak nyata. Kini mata sendunya menatap aku yang masih berdiri dengan gemetar.
Kepanikanku tak kunjung mereda. “Ra, kamu tidak apa-apa?” ujar seseorang itu. Aku hanya mampu mendekat dan terdiam. Aku tidak apa-apa. Aku hanya takut sesuatu yang buruk terjadi padanya. Kakakku, yang tak sedarah, tapi rasa cinta dan kasih sayang tercurah padanya. Ia penuh luka, tubuhnya dibalut alat-alat medis. Bahkan untuk bangkit sebentar saja, ia tak mampu. Ia hanya punya aku. Makan dan minum bisa ia lakukan jika ada aku di sampingnya.
“Maaf, setengah jam aku ninggalin Kakak sendiri. Kak Sastra butuh sesuatu?” tanyaku, kaku.
“Lusa sekolah, ya. Biar suster yang bantu aku di sini,” katanya dengan suara lemah dan terbata. Aku bingung, aku tak ingin membuat jarak antara aku dan kak Sastra. Tapi aku tak ingin menolak permintaannya. Lulus sekolah, kuliah, menjadi sarjana adalah yang kak Sastra harapkan dariku.
Hari ini, biru cerah menyapa langit ibu kota. Akhirnya aku mengabulkan permintaan kak Sastra untuk kembali sekolah, meski hatiku berkecamuk. Hatiku ingin tetap di sisinya, tapi ragaku mengikuti jalan yang ia minta. Aku tidak tenang. Meninggalkannya sendiri justru mengacaukan pikiranku. Dan lagi, hari ini aku harus melihat wajah pecundang itu. Deri. Orang yang membuat kak Sastra terbaring di ranjang rumah sakit.
Plak! tangan kasarnya tak seharusnya menyentuhku. “Wah, Ankara sudah masuk sekolah. Sastra sudah mati ya?” katanya, sinis. Aku ingin menamparnya. Tapi ia anak kepala yayasan. Aku tahu, salah atau benar, aku tetap akan dipersalahkan.
“Der, sehebat apa pun kamu merancang semua ini, Tuhan maha tahu. Semuanya akan terbalaskan,” bisikku, lalu aku pergi meninggalkannya.
Di rumah, aku membuat cream soup makanan favorit kami. Aku yakin jika aku membuatkan cream soup untuk kak Sastra, pasti ia akan menyimpulkan senyumnya. Dan, benar saja hipotesisku, kini wajahnya yang ceria mampu aku lihat lagi. Aku senang dan terkejut, selain simpulan senyum yang mampu ia hadirkan, kini ia sudah mampu bangkit dan duduk di kursi roda. Kakinya sudah mampu melepas rekatan erat antara tubuh dan ranjang. Sekarang aku bisa mengajaknya bertamasya untuk keliling rumah sakit.
Aku tahu pasti ia merasa lelah jika setiap harinya hanya aroma ruangan hampa Flamboyan 203 yang bisa ia hirup sepanjang jarum jam berputar. Aku ingin sekali bisa melihat senja bersama kak Sastra lagi, seperti dahulu saat kehidupan kita belum berubah menjadi sendu. Tapi sayang, Ibu kota sedang muram. Aku tak bisa berlama-lama mengajak kak Sastra bercengkrama dengan udara di rooftop. Sebab hipotesisku kini tidak menyenangkan, aku berpikir bahwa hujan akan segera menyapa langit ibu kota.
Bisa ku lihat wajah kak Sastra sama seperti langit sore ini. Ia muram, kecewanya pada langit milik Tuhan bisa aku rasakan, sebab biru atau jingga belum bisa ia pandang. Tapi aku berjanji, hari esok langit ibu kota pasti akan membuat hatinya menari dan bersenang-senang.
Hari-hari berikutnya, ia membuat kertas bangau untukku, tiap hari satu, kadang dengan pesan lucu atau omelan karena aku sering menunda makan. Sudah 30 kertas bangau terkumpul. Semuanya kusimpan. DEG! aku luruh bagai tersambar petir di malam mencekam. Air mata perlahan jatuh sebab mataku melihat jelas kak Sastra yang sudah terkapar di lantai. Aku takut, aku takut ia yang sudah menumbuhkan semangatnya kini menjadi lemah tak berdaya seperti sebelumnya.
Teriakku kini menggema di seluruh penjuru rumah sakit sebab dokter sangat lelet untuk sekedar menampakkan dirinya di ruangan Flamboyan 203.
“Dok, Kak Sastra dok,” kepanikkan membalut diriku. Tapi syukurlah, dokter mengerti maksud dari perkataanku. Dokter membawa kak Sastra ke ruangan yang sungguh ruangan itu tidak aku sukai. Aku kini kembali menyapa laraku. Bayangan sembilu menusukku lagi secara perlahan.
Aku mampu mengingat di malam mencekam saat aku melihat kak Sastra terkapar di aspal, aku seorang diri membawanya dengan berjalan sejauh 3 km untuk sampai pada rumah sakit ini, lalu dokter membawanya menuju ruangan yang saat ini kak Sastra sedang berada di dalam ruangan itu. Aku hanya mampu menangis pada ruang dan waktu.
Di dunia ini aku hanya punya kak Sastra yang sayangnya tak pernah ia bagi pada siapapun. Lara memeluk erat diriku. Aku teringat bahwa akan mengajak kak Sastra untuk menyapa langit jingga esok hari. Tapi melihat kondisinya saat ini, agaknya hal itu akan sekedar menjadi bayangan diriku.
Tujuh senja aku lewati sendiri. Ia masih terlelap. Kata dokter, ia koma. Aku menaruh curiga pada Deri. Aku berpikir Deri adalah pelaku di balik lelapnya kak Sastra saat ini. Namun sayang, CCTV rumah sakit mati. Aku tidak mempunyai bukti untuk berkata bahwa Deri pelakunya.
“Ankara sudah makan?” dokter menyapa diriku yang termenung di bawah lampu. Aku hanya mengangguk sudah padahal kenyataannya belum. Aku tidak memiliki selera untuk sekedar melihat makanan di depan mata. “Ada yang ingin saya bicarakan sebentar, Ankara bersedia?” tanya dokter padaku membuat aku menaruh pandangan serius padanya.
“Kalau Ankara bersedia, ikut dokter ke rooftop ya!” dokter melanjutkan bicaranya lalu ia pergi lebih dulu. Aku mengikuti langkahnya untuk menuju rooftop.
Aku hanya bisa memuncakkan emosi saat ini setelah dokter mengirim beberapa rekaman pada ponselnya. “Dengan bukti ini Ankara bisa bawa pria ini ke jalur hukum. Kalau Ankara bersedia dokter akan membantu prosesnya,” ujar dokter. Aku tak menyangka dokter menaruh curiga yang sama seperti diriku. Ia baik, yang ia lakukan di luar dugaanku. Aku kira dokter yang aku temui saat ini hanya akan cuek pada pasiennya. Tapi ternyata ia berbeda, rasa pedulinya sangat tinggi pada diriku dan kak Sastra. Dokter menaruh kamera kecil pada ruang Flamboyan 203, sejak ia tahu hari pertama aku membawa kak Sastra ke rumah sakit, ia melihat ada gerombolan pria mengikuti diriku dan kak Sastra.
Dokter ternyata tahu bahwa diriku selalu mencari-cari bukti tentang siapa yang membuat kak Sastra menjadi seperti ini. Kamera terpajang di ruangan kak Sastra, saat malam mencekam kak Sastra terkapar di lantai, benar saja Deri masuk ke dalam ruangan lalu menyapa ka Sastra dengan kasar. Aku kini punya bukti yang cukup kuat untuk mengantarkan Deri ke dalam jeruji.
Deri sudah mendekam di balik jeruji besi, dokter menemaniku selama proses pelaporan kepada Deri. Semua yang terjadi, alasan mengapa Deri menghajar kak Sastra ternyata hanya karena perasaan iri. Kak Sastra selalu menjadi yang unggul di Sekolah, semua wanita menyukai kak Sastra. Wanita yang Deri suka juga mengagumi kak Sastra. Ternyata hanya karena hal itu kak Sastra menjadi tak berdaya. Seperti anak kecil, perlakuan Deri hampir membuat kak Sastra kehilangan nyawanya.
Sekarang aku senang, semua sudah seperti yang aku harapkan. Rasanya, aku ingin segera memberitahu kak Sastra bahwa Deri adalah pelaku di balik semuanya. Namun sayang hal itu belum bisa aku lakukan sebab kak Sastra masih nyaman berada dalam lelapnya yang panjang. Saat kak sastra siuman nanti, di bawah langit jingga aku pasti akan menceritakan semuanya.
Brak! pintu ruangan tepat di mana kak Sastra berada aku dobrak secara kasar. Aku luruh, lara benar-benar menyelimuti diriku dalam jangka waktu yang akan sangat panjang. Air mata menghiasi pipiku secara kasar, aku menatap sekujur tubuh kak Sastra dengan perasaan yang sangat hampa. Aku menjadi sendu yang abadi, kini Tuhan benar-benar menciptakan jarak yang sangat jauh antara aku dan kak Sastra.
Langit jingga kini tidak akan pernah bisa untuk kita tatap berdua lagi, dan, hancur ku semakin menggebu setelah ku ingat bahwa aku tak bisa menepati janjiku pada kak Sastra. Janji untuk melihat senja berdua. Kain putih menutup ia perlahan, mungkin dalam lelapnya ia mengucapkan selamat tinggal. Sebab, lelapnya akan menjadi abadi. Kak Sastra benar-benar meninggalkan aku, aku berdua dengan kertas bangau yang ia buatkan untukku.
Aku berusaha percaya bahwa diriku baik-baik saja. Aku harus mengerti, mungkin dia sudah lelah dengan rasa sakitnya. Aku akan ikhlas karena yang aku yakini aku dan kak Sastra tidak akan berpisah, ia hanya akan berpindah pada tempat yang lebih indah. Pusara akan menjadi dermaganya yang ia tuju tanpa dekap aku. Kini aku, aku menciptakan ruang rindu dalam diriku untuknya. Merinduku untuk selamanya.

Sedih, pilu, membacanya. Luar biasa tulisannya. Salam hangat kak Syahrani.