Rintik hujan lima hari yang lalu masih terasa pilu. Beberapa waktu lalu, tersiar berita tentang pemuda belia yang melakukan penyerangan secara membabi buta, terhadap beberapa orang, salah satu diantaranya adalah saudara perempuan pelaku, meninggal dunia. Seperti mustahil terjadi hal ini terjadi di desa kami, seketika kehidupan kami yang tenang dan bersahaja tiba-tiba diliput televisi nasional.
Teringat cerita tentang seorang jenderal yang membunuh anak buahnya. Ia menembak seorang brigadir dan telah merencanakan semuanya dengan karangan cerita yang apik. Dibuat skenario seolah-olah ada adu tembakan antar anak buahnya, namun sekelumit cerita itu, menyeret banyak orang.
Dalam peristiwa itu, sepanjang sidang yang berlarut-larut, pernahkah terpikir? Kenapa banyak saksi yang ditanyai secara rinci masih bisa menjawab dan menjelaskan dengan baik peristiwa tersebut.
Mereka menjelaskan runut kejadian dengan akurat dan minim singgungan diantara mereka. Bagaimana mereka bisa mengulang kembali semua kejadian secara akurat dan persis?
Bahkan detail letak benda dan waktu, mereka jelaskan tanpa pikir panjang.
Ini terjadi, karena peristiwa penembakan yang mereka saksikan adalah hal pahit dan menyakitkan dalam perjalanan hidup mereka. Secara psikologis hal ini akan mempengaruhi caranya berpikir dan bertindak di masa depan. Ternyata ini sangat alami terjadi, karena manusia akan menanam dalam-dalam rasa sakit mereka secara otomatis.
“Manusia tidak menertawakan situasi komedi yang telah ia lihat sebelumnya, tapi mereka akan selalu menangisi cerita pahit yang diulang sejak lima belas tahun yang lalu.”
Lihatlah ketika dirimu kehilangan seseorang yang dicintai dan disayangi. Entah jarak yang memisahkan, permasalahan, atau bahkan maut. Sakit bukan?
Proses berpisahnya, kenangannya, dan semua kisah tentang dia semua rapi teringat dan sulit dilupa. Fase itu tidak akan bisa dilupakan begitu saja karena sebagian peristiwa, yang kecil atau besar, akan mempengaruhi pola hidup manusia yang akan menjadi acuan kehidupannya ke depan. Sebagai manusia biasa yang memiliki akal, kita tetap saja tidak bisa mengendalikan takdir, namun bisa berusaha menjadi manusia yang lebih baik setiap hari.
Belum genap satu minggu, desa kami masih sangat dingin dan hening. Apalagi hujan yang mengguyur setiap pertengahan hari, menambah riuh isi hati. Menambah doa banyak orang, yang saling mengikat dalam kebaikan dan kehati-hatian, dan tentunya banyak dari kita yang lebih mengingat tuhan.
Peristiwa tengah hari itu, suatu saat akan menjadi pembelajaran bagi kita sebagai manusia. Detail kejadiannya tak baik dijabarkan, karena isinya adalah bentuk kasih sayang dan jalinan saudara yang berbalut perpisahan. Kasih dan sayang yang berubah menjadi tindak penganiayaan.
Siapa yang sangka, bawa keluarga yang sempurna ini, tiba-tiba dirusak nafsu yang entah darimana datangnya. Sebagai keluarga yang sedang saling melindungi, berubah seketika menjadi pelukan yang menakutkan. Dan sayangnya, hal tragis ini dilihat langsung oleh anak kecil yang tak berdosa.
Semoga ketegarannya kuat sampai ia dewasa, tetap sabar, bisa tidur tanpa ibu, bercita-cita yang besar, tinggi dan luas. Mereka masih kecil, tapi tubuh dan pikirannya harus dipaksa dewasa dari sekarang. Memahami bahwa hidup tidak abadi, termasuk kehidupan ibunya.
Seperti dalam buku yang pernah kubaca bahwa, “Manusia itu pendek umurnya, tapi kemanusiaan akan kekal.” Sedangkan mereka sebagai anaknya menyadari, bahwa kepergian ibunya adalah buah dari kehilangan rasa kemanusiaan itu sendiri.
Dari peristiwa ini, kita patutnya belajar bahwa kehidupan berdampingan dengan seseorang yang kita cintai ternyata tidak cukup dipahami dengan melihat tampilan fisik, keseharian, dan gelagatnya. Lebih dari itu, kita kontrol diri kita untuk memahami isi hati saudara kita. Wadahi mereka tempat bercerita dan meluapkan perasaan.
Karena sekarang pelaku kekerasan, penganiayaan, dan bahkan pembunuhan bisa saja berasal dari orang yang dikenal, bahkan terdekat. Bukan karena saudara kita yang mati rasa, tetapi diri mereka yang minim penguasaan. Pemahaman kita bertahun-tahun bersama orang yang dicintai, rasanya masih minim untuk mempelajari pola pikir seseorang.
Mengingat Tuhan adalah kunci dari semua cara penguasaan diri. Hari itu adalah waktu yang akan otomatis tercatat dalam kepalamu. Tidak ada yang bisa diubah, kalender hanya bisa kamu tandai, hari tidak bisa kembali lagi, sedangkan kita hidup hanya untuk belajar mengerti dan mempelajari.
Peristiwa ini mungkin menyayat hati, namun kenyataannya Tuhan memberimu pelajaran terbesarnya. Teguran dari tuhan bagi kita, untuk tetap menghidupkan jiwa yang baik. Saling melindungi bersama saudaramu.
Hari ini menjadi saksi betapa kuat dan hebatnya kalian melewati semua yang dunia perlakukan. Luka, kepedihan, perpisahan, bahkan kematian padamu. Tengah hari kemarin adalah cahaya dariNya yang memancar pada kita semua.
Tuhan mempertontonkan bahwa Kedamaian berasal dari kita sendiri kita sendiri. Kehidupan yang tenteram berasal dari pola hidup kita sendiri. Sang maha kuasa memperlihatkan seberapa kuat dan bagaimana iman seseorang diuji, tentang menjaga diri, saudara, dan Tuhannya.
Selaku umat beragama yang hanya bisa mendengarkan, melihat dan mendoakan. Mari kita lihat diri kita sendiri, bagaimana cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar kita, dengan menyayangi dan melindungi dengan cinta dan ketulusan.
