QURBAN SEBAGAI BENTENG KEKUATAN HAWA NAFSU DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

Qurban

Idul Adha, dimana orang-orang menunaikan Ibadah Qurban dengan harapan kelak, akan menjadi saksi tentang jiwa-jiwa suci yang telah berjuang menggapai ketinggian; tentang jiwa-jiwa yang telah memberikan kematian untuk nendapatkan kehidupan. Untuk itulah Allah memerintahkan kita untuk senantiasa mengingat hari-hari-Nya.I

Iedul Adha pada tahun ini sangat istemewa bagi bangsa Indonesia dan warga dunia telah terhindar dari penyakit pandemi Covid 19. Semoga suasana ini semakin membaik serta membawa kemajuan berarti bagi posisi bangsa ini. Kendati ujian lain masih saja datang menghantam bangsa ini. Sikap dan ego kurang terpuji, ambisi berkuasa sembari miskin prestasi, hanya didasarkan atas hawa nafsu semata. Ego kelompok, kepentingan pribadi, yang jauh dari kepentingan negara, saling sikut berebut pengaruh serta berlomba menjajakkan diri pamer wajah di baligo2 besar hanya untuk meangundang simpati rakyat. Apa dan siapa yang dikorbankan? Jabatankah, kedudukan, harta, kepentingan atau malah rakyat yang dikorbankan?

Semoga saja lebaran kali ini menyadarkan kita sebagai manusia makhluk ciptaan Allah swt yang harus tunduk dan taat dengan seluruh keputusan-keputusan-Nya. Semakin menyegarkan iman tauhid kita bahwa Allah Maha Berkehendak dan Maha Kuasa, tanpa ada seorangpun yang mampu menghadang dan menghalanginya dengan apa yang telah diputuskan dan yang diinginkan-Nya.

Mari kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan kita, dan membuat kita semua berkumpul di lapangan ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka. Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad Saw.

Bayangkanlah bahwa lebih dari 4000 tahun lalu tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan Ismail – berjalan kaki sejauh lebih dari 2000 km – dari negeri Syam – yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju jazirah  tandus – yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun.

Bayangkan pula bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa. Bayangkanlah bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru.

Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya dikelilingi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan akan ditawafi belasan juta manusia setiap tahunnya.

Kini – disaat kita mengenang manusia-manusia agung itu; Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw – kita juga mendengar rintihan jerit batin manusia dari berbagai pelosok dunia. Selain rintihan dalam negeri yang tengah ditimpa musibah ketertinggalan dan kemiskinan, juga di belahan dunia Islam ada rintihan anak-anak Palestina, Irak, Afganistan, Sudan, Khashmir dan Chechnya yang membutuhkan solidaritas dan bantuan kita untuk membebaskan mereka dari kezaliman dan penjajahan.

Sementara mungkin di antara kita, ada yang hidup dalam kecukupan. Untuk itu Marilah kita bangkit melawan keserakahan dan kebakhilan, melawan kesedihan dan ketakutan, kelemahan dan ketidakberdayaan, melawan egoisme. Marilah kita bangkit dengan semangat kerja keras dan pengorbanan tanpa henti, melupakan masalah-masalah kecil dan memikirkan serta merebut peluang-peluang besar bagi kejayaan umat dan bangsa kita. Marilah kita bangkit dengan kepercayaan penuh bahwa Islam adalah masa depan manusia dan bahwa masa depan adalah milik Islam. Marilah kita bangkit dengan semangat dan keyakinan penuh bahwa kita bisa menjadi umat terbaik jika kita mau bekerja keras dan berkorban demi cita-cita besar kita.

Berangkatlah menuju Allah dengan meninggalkan segala perbuatan dosa dan maksiat. Panggilan kembali kepada Allah bukan hanya untuk orang yang haji saja tetapi kepada kita semua. Larilah kepada Allah bersama para jamaah haji yang saat ini sedang kembali kepada Allah mengikuti perjalanan jejak Ibrahim As. Kita pun dituntut supaya mengikuti jalan para jamaah haji.

 واتبع سبيل من أناب إلي ثم إلي مرجعكم فأنبئكم بما كنتم تعملون

“………. Ikutilah jalan orang yang akan kembali kepada-Ku. Kemudian kepadakulah tempatmu akan kembali. Aku akan kabarkan kepadamu apa yang kamu kerjakan” (QS Lukman, 31:15).

Suatu saat kita akan kembali kepada sang punya baik dalam keadaan rido atau terpaksa, keadaan mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Suatu saat Allah akan menarik ubun-ubun mengambil nyawa kita dan memaksa kita mudik kepada-Nya.

Faaina tadzhabun? Terkadang jawaban kita tidak jelas. Terkadang kita tidak tahu kemana akan pergi. Arah tujuan hiduppun tidak tahu, akan kemana, apa yang kita kejar..? Ngejar karir, kekayaan, kedudukan, ketenaran, atau hanya menghabiskan umur..? atau secara buta mengikuti zaman dan keadaan..? Kembalilah kepada Allah sekarang juga! Arahkan perahu hidup ini menuju Allah. Toh walaupun kondisi kita, bedegong, durhaka dan bandelnya minta ampun menentang Allah, dan tidak mempercayai adanya hari PEMBALASAN, ketahuilah AKHIRAT itu ada. Jika ada sekumupulan orang yang mendeklarasikan bahkan nanda tangan diatas matrai bahwa mereka tidak percaya akhirat, ya akhirat itu akan tetap ada.. dimana seluruh amal itu tersimpan rapih dalam catatan Rokib-Atid.

Sama seperti mereka yang hari ini sedang ibadah haji, kita wukuf sejenak dihadapan Allah swt. Merintih dihadapannya. Akui sekarang juga dosa yang pernah kita lakukan. Akuilah bahwa selama ini kita sering melupakan Allah. Akuilah bahwa selama ini jadi pengembara di padang pasir yang tersesat. Sering mengejar apa yang disangka sebagai tujuan hidup padahal hanya fatamorgana yang menipu. Kita sudah lelah. Saatnya kembali kepada Allah.

Bukankah kita menduga bahwa kekayaan adalah tujuan hidup? Sehingga untuk itu kita lakukan apa saja!?? Kita habiskan waktu untuk mengumpulkan butir-butir kekayaan. Kita rampas milik orang lain, kita hinakan orang yang menghalanginga, kita campakkan harga diri orang lain, injak-injak orang lemah disekitar kita. Semua itu demi kekayaan. Demi ego diri dan keserakahan diri. Lalu ketika kita temukan kekayaan itu ternyata tidak memuaskan. Malahan kita terus kehausan. Untuk itu marilah kita menangis merintih:

“Ya Rab telah lama aku mengabaikan-Mu aku salah ngambil jalan. Tubuhku penuh terbalut lumpur kebusukan. Ampunilah ya Allah, bawalah aku keharibaan-Mu”.

Bukankah kita menyangka bahwa kedudukan, jabatan adalah udagan kita. Untuk hal itu kita menghantam kawan seiring, kita fitnah orang yang berjasa pada kita. Kita korbankan persahabatan dan kekeluargaan. Kita curigai mereka, kita khianati mereka demi sebuah kedudukan.

Lalu ketika kita temukan kedudukan ternyata malah nambah beban hidup. Jadi bupati malah dibui. Jadi pejabat malah dipenjara. Kita cape akhirnya. Untuk itu pantaslah kalau kita menjerit sejenak.

“Ya Allah..! telah lama aku tulikan telingaku tuk mendengar seruan-Mu. Aku pusatkan pikiranku hanya untuk ambisi pribadi. Ampunilah Aku ya Allah..”

Terus, Boleh jadi kita telah bekerja keras mengejar apa saja, tapi malah tidak berhasil mendapatkannya. Sudah banyak pengorbanan yang dikeluarkan, kita cari kekayaan sejak dulu kala, kita kejar ketenaran tapi tetap saja tidak dikenal. Kita sudah kerja keras banting tulang untuk memenuhi keinginan itu tapi tetap saja gagal. Kita malah cape. Ya Allah aku sudah meninggalkan-Mu hanya untuk menumpuk kegagalan, bimbinglah aku menuju jalan-Mu ya Rab..!

Orang Sufi atau orang-orang shaleh mengatakan, ada tiga kekuatan hawa nafsu dalam diri kita:

1.     Quwwatun Bahimiyyah, kekuatan kebinatangan terselip dalam diri kita. Kekuatan ini mendorong kita mencari kepuasan lahiriah dan kenikmatan2 yang sifatnya lahiriah dan tidak menghiraukan rasa malu layaknya binatang,

2.     Quwwatun Sabaiyyah, kekuatan binatang buas dalam diri kita. Kekuatan ini yang mendorong kita melakukan kebrutalan, meruksak, menyiksa, menyerang menghancurkan bahkan membunuh orang lain. Tak peduli anak, istri, tak peduli suami, bapak/ibu kandung sendiri, semuanya dilabrak!,

3.     Quwwatun Syaithoniyyah. Kekuatan syetan ini yang mendorong kita suka membenarkan kejahatan yang dilakukan. Merasa benar sendiri. Orang lain dianggap kecil.. berkata kasar, polos karena merasa yang dikatakan itu adalah bebeneran. Tidak merasa bersalah karena ada unsur atau alasan ini dilakukan untuk kepentingan umum, katanya. Merampok uang rakyat, dipake membangun masjid, pergi ke haji dll,

Namun jangan kuatir karena Allah menyimpan percikan cahaya dalam diri kita yaitu: Quwwatun Robbaniyyah yang bisa menghancurkan kekuatan2 tersebut untuk menuju jalan lurus. Kekuatan Ini ada pada akal sehat kita yang jika kita pupuk dan pelihara akan mengalahkan semua kekuatan2 jelek itu.

Bila dalam renungan kita ternyata selama ini kita malah jauh dari jalan Allah, Sekarang ada kesempatan Ibadah qurban yang secara harfiah berarti mendekatkan diri kepada Allah sang kuasa. Qurban ini mencerminkan pesan Islam bahwa kita hanya bisa dekat dengan Allah bila kita mendekati saudara2 kita yang serba kekurangan. Islam tidak memerintahkan membunuh hewan itu di altar pemujaan, di dalam hutan belantara, ditepi lautan atau pinggir2 sungai lalu kita serahkan seluruhnya kepada Allah. Quran menyatakan:

ليشهدوا منافع لهم ويذكروا اسم الله في أيام معلومات على ما رزقهم من بهيمة الأنعام فكلوا منها وأطعموا البائس الفقير

 

“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir... (QS, 22:28)”

Kita yang wujudnya manusia, setelah menjalani proses kehidupan, mungkin, telah berubah menjadi binatang. Kita menjadi srigala, tikus, anjing dan domba. Srigala melambangkan kekejaman dan penindasan, tikus melambangkan kelicikan, anjing melambangkan tipu daya dan domba melambangkan penghambaan.

Maka Dengan qurban itu kita mengikis sifat kebinatangan yang ada dalam diri kita, semacam rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang dan tidak mengenal hukum dan norma apapun. Yang semua itu telah menghalangi kedekatan kita seorang hamba dengan kholiknya. Sifat-sifat demikian itulah yang harus cepat dibunuh, ditiadakan, disembelih, dan dijadikan korban demi mencapai qurban (kedekatan) diri kepada Allah swt. Itu sebabnya Allah mengingatkan: “Daging dan darahnya sekali-kali tidak dapat mencapai Allah; tetapi ketakwaanmulah yang dapat mencapainya (Qs.22:37):

لن ينال الله لحومها ولا دماؤها ولكن يناله التقوى منكم كذلك سخرها لكم لتكبروا الله على ما هداكم وبشر المحسنين

 

Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Bila ibadah shaum mengajak orang2 kaya merasakan orang yang selalu lapar karena tidak punya makanan dan miskin, maka ibadah Qurban mengajak orang2 yang selalu dalam posisi lapar untuk merasakan rasa kenyang.

Banyak orang mendekatkan diri pada Allah dengan mengisi masjid2, rumah2 lembah yang sunyi. Islam memerintahkan kita mendekatkan diri kepada Allah dengan mengisi perut-perut yang kosong dengan cara ber-Qurban.

Ketika Nabi Musa As bertanya: Ya Allah dimanakah aku harus menemui-Mu? Allah menjawab: carilah aku ditengah2 orang yang hatinya hancur!

Bahkan di hari kiamat Allah mendakwa hambanya dengan ucapan: hai Hamba2ku, dahulu aku lapar tapi kalian tidak memberi aku makan. Dahulu aku telanjang tapi kalian tidak memberi aku pakaian. Dahulu aku sakit tapi kalian tidak memberi aku obat.

Yang didakwa bertanya: ya Allah bagaimana mungkin aku ngasih makan, pakaian dan obat padahal Engkau adalah Tuhan robbal ‘Alamin… Allah menjawab: Dahulu ada hambaku yang lapar, telanjang, sakit tapi kamu tidak ngasih makan, pakaian, dan obat-obatan padahal jika kamu ngasih kebutuhan mereka maka aku ada disitu.

Bagi orang yang mempunyai kecukupan, maka dianjurkan melaksanakan qurban. Allah berfirman dalam surat al-haj 34.

ولكل أمة جعلنا منسكا ليذكروا اسم الله على ما رزقهم من بهيمة الأنعام فإلهكم إله واحد فله أسلموا وبشر المخبتين

Dan bagi tiap-tiap ummat telah kami syariatkan penyembelihan (qurban) supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan yang Esa karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan beri kabar gembiralah orang2 yang tunduk patuh (Al-Haj 34).

Man kana lahu saatun falam yudhohi, falaa yaqrobanna musollana.

 “Siapa yang sudah mempunyai kecukupan (untuk qurban), tapi tidak melaksanakannya maka jangan dekat kepada tempat sholat kami”.

Demikianlah, semoga tulisan ini memotivasi kita untuk terus berjuang dengan penuh kesungguhan guna memperbaiki diri, keluarga, umat dan bangsa menuju PENDEWASAAN AKHLAK yang paripurna. Aamin.

Akhirnya, mari kita berdoa, semoga Allah menghindarkan negara kita secara khusus dan seluruh negeri umat Islam secara umum dari segala bala’, musibah, wabah, melambungnya harga, kemungkaran, keburukan, kekejian, berbagai kesulitan dan kesusahan.

Ya Allah, kami bermohon kepada-mu, Demi kemurahan dan kebaikan-mu, sampaikan shalawat kepada Muhammad dan keluarganya. Gabungkan kami pada hari ini, dengan orang saleh yang berdoa kepada-mu.

Terimalah taubat kami, dalam syukur dan pengorbanan kami. Selamatkan kami dari adzab yang pedih, yang engkau turunkan dari atas kami, atau dari bawah kami, atau dengan perpecahan di antara kami. Amin ya Rabbal ‘alamin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *