Pertahanan Diri

Pertahanan Diri

“Apakah aku tidak berhak memilih sikap untuk sekadar melakukan pertahanan diri agar aku tetap waras, Din?” tanyaku pada Dini.

Sahabatku mengangguk-angguk sembari mengelus punggungku. Dia duduk di sebelahku sudah lebih dari satu jam sejak aku mulai bercerita, curhat tentang kehidupanku sampai aku menangis sesenggukan.

Dini selalu menjadi penenang saat aku merasakan sakit yang hebat akibat perlakuan seseorang.

“Dari dulu, aku sudah berpesan, jangan terlalu baik sama orang! Cinta boleh, tetapi mencintai diri sendiri terlebih dahulu jauh lebih baik, Nu…,” ucap Dini. Nasihat yang sama setiap tahun kepadaku. Bahkan setiap aku datang membawa kelukaan.

Read More

Dini adalah sahabat terbaik. Dia memang tidak hadir setiap saat. Terlebih ketika kami sudah memiliki kehidupan masing-masing. Hanya saja, dia selalu bahagia, aku sendiri memiliki kehidupan yang berantakan. Rumah tanggaku gagal, sementara Dini, memiliki kehidupan yang layak, suami yang perhatian, dan anak-anak yang sehat.

Meskipun bersahabat, sejak dulu, Dini tidak pernah mencampuri urusanku.

“Itu urusan pribadi, aku akan datang ketika melihat kamu bisa menerima nasihat. Kalau tidak, berarti kamu sanggup menyelesaikan sendiri,” ucapnya suatu hari.

Namun Dini selalu ada ketika aku terjatuh. Terutama saat aku merasa sedih dan sakit atas perlakuan suamiku.

“Nu, selama ini aku gak pernah mau tahu. Bagaimana sebenarnya yang terjadi dalam kehidupan rumah tanggamu. Namun sebagai sahabat aku melihat bahwa kamu tidak memiliki kebahagiaan yang utuh. Kamu sering murung, bahkan menangis. Adapun jika kamu tertawa, aku yang tahu kamu dari kecil, sangat paham. Tertawamu itu palsu dan dibuat-buat. Ya, kan?” tanya Dini.

Tangisanku yang sudah reda kembali menjadi. Bahuku berguncang hebat. Sesak di dada tidak lagi tertahankan. Rasanya ingin meledak saja dan tubuhku hancur berkeping-keping. Agar aku tidak lagi hidup dan menanggung rasa sakit karena harapan bahwa akulah satu-satunya perempuan yang Mas Dodi cintai. Harapan bahwa hanya rumahku lah tempat pulang Mas Dodi. Bukan malah hanya dikunjungi sesekali, bagai anak muda yang apel malam minggu dengan durasi pendek karena khawatir pulang kemalaman. Selama ini, aku merasa sudah menjadi bangkai sebelum akhirnya aku mati.

Apa yang dikatakan Dini benar. Secinta apapun aku kepada suami, sebesar apapun suami mencintaiku, kebahagiaan kami semu. Semuanya palsu belaka.

“Nu… Kamu boleh menangis, tapi aku mohon, sayangi diri kamu. Kamu harus tetap sehat. Berhenti meratap ya….” Dini memohon. Tubuhnya yang lebih kurus dari aku mendekat, mendekap erat tubuhku mencoba menenangkanku sekali lagi.

“Kalau tangisnya sudah selesai, saatnya kamu belajar untuk merelakan. Berdamai lah dengan hatimu sendiri, Nu. Aku tahu ini berat, tapi kamu harus bisa. Kamu berhak bahagia dengan orang yang tepat,” ucap Dini dengan lembut. Senyumnya terpancar terasa begitu tulus.

Aku mendongakkan kepala. Memandang wajah Dini dalam-dalam. Binar mata Dini selalu indah menyejukkan. Meskipun memandang iblis sekalipun.

Din…, tekadku sudah bulat, bisikku dalam hati.

“Din….” Aku penuh ragu.

“Iya, Nu….,” jawab Dini.

“Aku sudah putuskan. Aku akan meminta talak kepada suamiku dan mengakhiri semua ini.”

Nada bicaraku penuh getaran. Aku tidak dapat menyembunyikan gugup dan berjuta rasa di depan Dini.

“Kamu yakin?” tanya Dini.

“Iya, Din. Hidup di antara hidup orang lain tidaklah mudah. Aku tak ingin mati berdiri dan menyiksa diri sepanjang hidup. Aku tahu ini akan sangat sakit. Tapi aku harus melakukannya,” kataku.

Dini menggenggam erat tanganku. Tangan sebelahnya lagi tidak berhenti mengelus punggungku menenangkan. Bidadari yang satu ini memang selalu berhasil membuat sahabatnya merasa nyaman dalam setiap keadaan. Sementara aku, hatiku selalu dipenuhi dengan berjuta perasaan bersalah setiap kali bertemu Dini.

Dini menghela napas panjang.

“Aku sangat berterima kasih atas keputusanmu, Nu, semoga ini adalah keputusan final yang tidak akan pernah berubah lagi,” ucap Dini.

Kali ini kalimatnya datar. Kulihat mimik muka Dini berubah. Dini menunduk dan meneteskan air mata. Aku memeluknya erat. Dini pun membalasnya.

“Terima kasih ya, Din…,” bisikku dengan tetap dihantui rasa bersalah.

“Aku yang berterima kasih padamu, Nu. Kau telah menyelamatkan kehidupan rumah tangga kami. Kelak, Mas Dodi akan pulang tepat waktu lagi seperti sebelumnya,” ujar Dini.

Dini memandangku tajam, senyumnya menyeringai. Pandangannya ganjil. Aku merasa ditelanjangi. Bagai disambar petir di siang hari dan langit runtuh menimpa tubuhku.

Pertahanan diriku ambruk. Selama ini ternyata Dini tahu bahwa suamiku adalah suaminya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *