Di Bawah Meja Perpustakaan

Perpustakaan

Cerpen bergenre horor berjudul “Di Bawah Meja Perpustakaan” ini sudah terbit dalam sebuah buku antologi cerpen berjudul “Library” yang diterbitkan oleh Penerbit Hanami tahun 2016 dengan judul asli “Di Bawah Meja Pojok.”

Senin siang. Matahari begitu terik. Angga melangkahkan kakinya dengan cepat mamasuki perpustakaan. Di lobi utama, seperti biasa ia berjumpa dengan Yoga, seorang pustakawan yang senantiasa memberikan sapaan yang sama setiap harinya.

“Selamat datang dan selamat membaca,” katanya dengan ramah.

Kalimat yang nyaris membuat Angga bosan mendengarnya. Meskipun begitu Angga tetap menghargai bahwa petugas perpustakaan itu berusaha ramah dan melakukan pekerjaannya sesuai SOP.

Read More

Namun ada lagi yang tidak lupa selalu Yoga katakan pada setiap pengunjung yaitu, “sebaiknya Anda tidak duduk di bangku pojok barat ruangan, ya. Cari tempat nyaman yang lain, terima kasih,” ucapnya dengan gestur tubuh yang … seperti dibuat-buat.

Gedung perpustakaan adalah satu-satunya bangunan yang belum tersentuh perbaikan di kampus ini; kampus tua yang terletak di pusat kota.

Bangunan usang yang berada di bawah pohon beringin besar itu terkesan kuno. Tembok dengan cat yang sudah terkelupas di sana-sini tampak lapuk dimakan usia.

Terdapat beberapa retakan di kaca-kaca jendela yang berukuran besar. Sisa lemparan batu pada tawuran mahasiswa dua tahun lalu, menambah kesan bahwa memang sebaiknya gedung itu harus segera diperbaiki. Namun meskipun demikian, bangunan itu tidak pernah sepi pemgunjung. Setiap hari ada puluhan mahasiswa yang sengaja datang untuk membaca atau mencari referensi guna kepentingan penyelesaian tugas akhir.

Hari itu, semua meja terisi. Hanya tersisa satu meja panjang dengan enam kursi kosong; meja di pojok barat perpustakaan. Sebuah meja yang dingin dan berdebu. Lantai di bawahnya nyaris ditumbuhi lumut karena selalu basah. Beberapa orang berspekulasi kalau di bawah meja itu ada rembesan saluran air yang membuatnya begitu lembab sampai ditumbuhi lumut.

Dua bulan belakangan ini, meja itu memang benar-benar nyaris tidak ditempati pengunjung. Lagi pula, tidak ada pengunjung yang nyaman duduk di sama. Akan tercium aroma tidak sedap semacam bau amis yang menyengat ketika duduk di sana.

Angga meletakkan tasnya di atas meja. Kemudian ia mulai mencari buku yang ia perlukan untuk pendukung tugas. Setelah mendapatkan buku yang dimaksud, ia kembali ke tempat duduk.

Detik demi detik, Angga mulai menelaah isi buku. Dari mulai daftar isi hingga bab per bab buku itu. Sebuah buku yang sudah lumayan lusuh, padahal buku itu memiliki tahun terbit yang masih baru.

Mungkin banyak yang baca juga, pikir Angga.

Ketika Angga membuka bagian tengah buku, sepucuk surat terselip di sana. Sebuah kertas putih terlipat rapi, seperti baru saja diselipkan seseorang di sana. Angga mencoba mencari seseorang yang mungkin baru saja membaca buku tersebut. Hanya saja seluruh pengunjung sedang asik dengan bukunya masing-masing. Membaca, merangkum, dan mengutip, mengetiknya kembali ke laptop milik mereka.

Dengan ragu-ragu, Angga membuka secarik kertas tersebut.

“Aku tersiksa di sini. Seseorang, tolong bebaskan aku! Bongkar lantai bawah mejamu!”

**

Kamis malam. Jam sudah menunjukkan angka 00:45. Angga belum juga dapat memejamkan matanya. Kepalanya dipenuhi dengan teka-teki yang belum bisa ia pecahkan. Ingin rasanya segera pagi, agar ia segera bisa mengobati rasa penasarannya. Empat surat misterius yang ia temukan dalam buku di perpustakaan selama empat hari berturut-turut ia baca berulang-ulang. Keempat surat itu berisi kalimat yang sama.

“Aku tersiksa di sini. Seseorang tolong bebaskan aku! Bongkar lantai di bawah mejamu!”

Hatinya mulai bertanya-tanya mengapa surat itu ada di setiap buku yang ia buka. Siapakah sesungguhnya yang membuat surat itu? Perasaan Angga mulai tidak menentu. Timbul keinginannya untuk mencari informasi tentang sesuatu yang terjadi. Apakah ada yang pernah mengalami kejadian yang sama? Lalu apakah ada hubungannya dengan larangan Yoga sang pustakawan?

**

Jumat pagi di kantin kampus.

“Kamu yakin aku harus melakukannya?” Angga bertanya dengan penuh keraguan.

“Iya, kamu harus coba Angga!” Yanti berusaha meyakinkan. “Aku juga pernah mengalami hal yang sama. Beberapa kali menemukan surat, mencium bau amis, bau bangkai dan merasakan hal-hal aneh ketika duduk di tempat itu. Jujur, saat ini aku belum berani lagi membaca buku di perpustakaan,” ucap Yanti sambil bergidik.

“Bahkan,” ucap Yanti melanjutkan, ” mungkin beberapa mahasiswa yang pernah duduk di tempat itu mengalami hal serupa. Setiap membuka buku di halaman berapapun, pasti mendapatkan surat dengan isi kalimat yang sama. Seolah ia benar-benar memerlukan pertolongan,” katanya. Kali ini Yanti mengatakannya dengan nada yang lebih serius. “Aku berharap kamu bisa melakukannya,” pinta Yanti penuh harap.

“Tapi apa yang bisa aku lakukan?” tanya Angga ragu. Kepalanya tidak berhenti berpikir menebak-nebak sosok penulis surat tersebut.

Selama tiga tahun ia mengunjungi perpustakaan kampus, ini adalah kali pertama ia mengalami hal yang sepelik ini. Aneh memang. Namun bagaimana jika surat itu benar-benar dari seseorang yang memang terjebak di bawah timbunan tembok? Hati angga mulai gusar antara percaya dan tidak.

Apakah dia yang mengirimkan surat kepadanya, kepada Yanti dan mungkin juga kepada orang lain adalah makhluk dari alam yang berbeda? Roh penasaran yang jasadnya disakiti seseorang? Benak angga mulai menerka-nerka.

“Yanti ikut aku!” ucap Angga sambil beranjak dan menarik tangan Yanti.

“Ke mana?” tanya Yanti bingung.

“Kamu harus membantu aku, Yanti! Tolonglah, kasihan dia,” ucap Angga serius.

“Aku paham, Angga. Ayo ikut aku menemui Desi, Irna dan pak Sujana,” kata Yanti.

“Siapa mereka?” tanya Angga dengan dahi yang mengernyit.

“Aku mengira mereka pernah mengalami hal yang sama. Seingatku aku pernah beberapa kali mendapati mereka duduk di tempat itu ketika perpustakaan penuh pengunjung. Kemudian tidak lagi ke sana setelah Yoga menghardik mereka. Siapa tahu mereka bisa memberikan keterangan,” ujar Yanti penuh keyakinan.

Akhirnya mereka melangkahkan kaki dengan mantap. Mencari Desi, Irna dan pak Sujana, seorang penjaga pintu parkir yang belakangan diketahui sering membaca buku-buku keagamaan seusai salat Jumat saat ia mendapatkan giliran istirahat.

Sayang sekali sepertinya hari itu Desi dan Irna tidak ada jadwal kuliah. Satu-satunya orang yang bisa diharapkan adalah pak Sujana.

“Apa alasan kalian ingin mencari informasi tentang surat itu?” tanya lelaki setengah baya itu. Di wajahnya tampak ekspresi ketidaksenangan ketika mengetahui maksud Angga dan Yanti menemuinya.

“Kami ingin menolong orang yang meminta tolong itu, Pak,” jawab Yanti dan Angga nyaris bersamaan.

“Tapi tak semudah itu, Nak,” ucap pak Sujana seraya menghela napas panjang, “pulanglah saja! Tidak perlu kalian urusi hal semacam itu!  Percuma kalian datang ke sini, saya tidak akan memberi penjelasan apapun,” kata pak Sujana lagi dengan nada yang ketus. Nampak sekali jika ia memang tidak bersedia memberikan keterangan.

“Kenapa, Pak? Ayolah, setidaknya Bapak memberi kami petunjuk,” ucap Angga memelas, “jika Bapak berkenan memberi kami petunjuk kami janji tidak akan melibatkan Bapak. Biar kami selesaikan sendiri.”

“Tidak bisa!” ucap pak Sujana dengam menggebrak meja. Napasnya memburu, seolah ada kemarahan yang luar biasa di balik nada bicaranya. Angga dan Yanti mulai tidak enak hati.

Ada apa sebenarnya dengan pak Sujana? Batin keduanya.

Melihat kemarahan pak Sujana, akhirnya Angga memilih untuk pergi. “Ya sudah, Pak. Kami pamit,” kata Angga. Gerak tubuhnya memberikan kode kepada Yanti untuk beranjak dari tempat itu.

“Mau ke mana kalian? Apakah kalian sungguh-sungguh ingin membantu Aira?” suara pak Sujana mulai melembut.

“Aira?” sontak kedua anak muda itu menoleh. Langkah kakinya terhenti.

Siapakah Aira? Apakah penulis surat itu apa hubungannya dengan pak Sujana?

“Aira adalah putri sulung Bapak yang hilang dua bulan yang lalu,” ujar pak Sujana dengan wajah sendu. Matanya berkaca-kaca, lelaki itu menahan tangisnya sekuat tenaga.

Angga dan Yanti kembali duduk. Yanti mendekati pak Sujana. Mengelus lengan lelaki tua itu, berusaha menenangkan. Hati ayah mana yang tidak tersayat ketika mengenang anaknya yang telah pergi?

Angga duduk di hadapan pak Sujana, diam tepekur. Berharap lelaki paruh baya itu melanjutkan critanya.

Setelah menghela napas panjang, pak Sujana melanjutkan cerita, “terakhir ia pamit pergi bersama teman-temannya hendak pergi ke Pelabuhan Ratu. Awalnya Bapak melarang namun Yoga berhasil meyakinkan jika ia dapat menjaga Aira dengan baik,” katanya.

“Apa hubungannya Aira dengan Yoga, Pak?” tanya Yanti dengan sangat hati-hati.

“Iya dulu kekasih Aira. Mereka berpacaran selama empat tahun. Entah apa alasan Yoga sampai saat terakhir Aira pergi, ia belum juga menunjukkan niat untuk menikahi putriku,” sekali lagi pak Sujana menghela napas panjang seolah ingin menghempaskan beban yang teramat berat.

Lalu, “jumat dua minggu yang lalu seperti biasa bapak membaca buku di perpustakaan hari itu. Perpustakaan penuh, terpaksa bapak duduk di meja yang entah kenapa seolah menjadi meja terlarang sejak dua bulan yang lalu. Memang meja itu menjadi tidak nyaman dengan aroma yang tak sedap. Belum lagi Yoga selalu rajin mengingatkan setiap pengunjung agar tidak duduk di sana.

Dinsana, Bapak menemukan surat dalam buku yang bapak buka. Awalnya Bapak ragu. Namun entah kenapa, tulisan itu sama persks dengan tulisan tangan Aira.

Bapak pikir, anak itu hanya iseng menulis dan tak sengaja tertinggal di halaman buku yang telah ia baca di perpustakaan. Namun bapak menemukan beberapa kali setiap bapak duduk di tempat itu. Bapak selalu menemukan surat di setiap buku yang Bapak baca.

Sampai di hari lain Bapak menemukan surat lagi dengan isi yang berbeda. Waktu itu Bapak berpikir Aira sudah pulang setelah sekian lama ia tidak bermalam di rumah dan tidak juga menemui Bapak. Ini suratnya masih Bapak simpan.” Pak Sujana membuka laci meja mengeluarkan secarik kertas dengan mata berkaca-kaca.

“Maafkan Aira telah melanggar larangan bapak. Aira akhirnya tidak bisa pulang ke rumah dengan selamat. Padahal Aira sedang mengandung cucu bapak. Aira tahu bapak akan murka, tapi tolong Aira tersiksa di sini. Tolong bebaskan, bongkar lantai di bawah meja.”

Semua hening. Langit-langit rumah pak Sujana lengang. Hanya tersisa ratusan pertanyaam di dalam hati masing-masing.

Bunyi surat itu juga membahas lantai di bawah meja. Membuat mereka semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tertimbun di balik lantai berlumut di bawah meja pojok barat perpustakaan.

“Tapi kenapa bapak tidak mencoba menggali lantai itu pak? Siapa tahu memang benar Aira ada di sana,” tanya Yanti. Disambut dengan mimik muka pak Sujana muram.

“Bukan tanpa usaha. Ayah mana yang tidak ingin menemukan anaknya yang telah hilang. Bapak ingin menemukan Aira hidup atau dalam keadaan tidak bernyawa sekalipun. Namun setiap Bapak menceritakan kepada beberapa orang yang Bapak minta bantuan, mereka malah menganggap bapak sudah gila. Apa jadinya jika seorang penjaga pintu parkir kampus tiba-tiba menggali lantai perpustakaan?”

Pak Sujana tertunduk. Hatinya begitu pilu. Membayangkan kenyataan, jika seandainya memang jasad Aira ada di sana.

“Tapi, Pak, kita harus menolong Aira,” tukas Angga.

Banyak gal ganjil yang mrmang sangat sudah dipercaya. Awalnua, logika Angga menolak bahwa yang menulis surat itu adalah arwah Aira. Namun kisah pilu yang dialami pak Sujana telah memotivasinya untuk melakukan hal nekat, bahkan tidak dapat diterima oleh nalarnya sendiri.

**

Hari sabtu pukul 01.00 dini hari. Tiga orang berbaju hitam menggunakan topeng berhasil memasuki gedung perpustakaan. Mengendap-ngendap masuk lewat jendela yang sengaja dibuat longgar kuncinya tadi siang oleh salah satu dari mereka. Satu orang membawa linggis dan dua orang yang lain membawa cangkul. Malam itu mereka berniat menggali lantai berlumut di bawah meja pojok barat ruang perpustakaan.

Sementara itu, di luar hujan turun seakan menemani mereka mengerjakan misi tersembunyi. Bau amis menyengat membuat mual. Seolah memberi tanda bahwa memang ada sesuatu yang tertimbun di bawah lantai itu. Meja sudah digeser merapat ke tembok. Dengan diterangi lampu senter mereka mulai bekerja.

Suara hujaman-hujaman linggis dan kerukan cangkul berbaur dengan gemerisik suara hujan di balik kaca jendela. Sebagian tembok lantai telah berhasil digali. Peluh peluh berjatuhan. Suara napas-napas memburu.

Satu orang memberi kode bahwa penggalian harus segera diselesaikan. Kedua rekannya mengangguk serempak dan bersemangat melanjutkan pekerjaan.

Namun baru saja orang yang lebih tua menghujamkan linggisnya lagi, seseorang dengan pakaian yang sama gelapnya tiba-tiba muncul dari balik rak buku di belakang mereka. Sosok itu memukul keras pundak satu orang pemegang cangkul dan roboh seketika.

Pemegang linggis sigap membalas menghantam tubuh orang itu berkali-kali. Mereka saling pukul saling tendang saling menjatuhkan. Orang yang memegang linggis berhasil melumpuhkan lawannya. Laki-laki itu berlumuran darah mengerang kesakitan. Lalu mengangkat tangan, menyerah.

Orang yang memegangi linggis membuka paksa topengnya. Yoga terkulai lemas dengan darah berlumuran di sekitar mulut dan hidungnya. Susah payah ia mencoba mengucapkan sesuatu.

“Maafkan saya, Su ….”

Belum tamat kalimatnya, sosok lain tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya. Rambutnya yang panjang menutupi wajahnya. Bajunya menjuntai ke lantai, kotor dan bau darah. Tangannya yang panjang elastis sekonyong-konyong mencekik leher pemuda yang sudah tidak berdaya itu.

Dengan leher tercekat, pemuda itu berkata, “ampun Aira. Jangan bunuh aku!”

Perempuan itu mempererat cengkramannya sampai laki-laki itu mengembuskan napas terakhirnya. Tubuhnya tersungkur di dekat kaki meja pojok barat perpustakaan.

**

Dua puluh menit kemudian, sesosok mayat berbaju perempuan terbungkus plastik putih ditemukan di balik kokohnya lantai yang dilapisi beton setebal 10 cm. Badannya sudah hancur dengan bau busuk yang menusuk. Satu orang di antara mereka tidak bisa membendung air mata. Dua orang yang lainnya hanya bisa diam dan mengelus pundak orang yang menangis berusaha menenangkan. Bau busuk yang menyengat memaksa mereka untuk segera keluar. Tentu saja dengan membawa kantong plastik yang berisi mayat tersebut.

Mayat itu harus segera dikuburkan dengan layak di tempat yang lebih manusiawi, bukan di bawah lantai meja pojok perpustakaan.

Sementara, mayat laki-laki yang tersungkur di kaki meja yang mereka tinggalkan, menghadirkan kehebohan tersendiri pada Sabtu pagi hari.

Seorang pustakawan mati terbunuh di tempat kerjanya. Tidak ada seorangpun yang mengetahui siapa pembunuh Yoga. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui apa sebenarnya di balik galian yang menyerupai kuburan tersebut. Kecuali Desi dan Irna yang terus berspekulasi tentang isi surat misterius yang pernah mereka dapatkan ketika membaca di meja pojok barat perpustakaan.

TAMAT.

Buku antologi cerpen Library

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *