Perempuan Setengah Gila
Prolog
Perempuan dibuat lembut dan terlihat rapuh namun sebenarnya kuat
Mengalah meski sebenarnya pahit
Sabar tapi sebenarnya keras ….
Tubuh Agnita bergetar hebat, tanpa sadar tangannya mengambil pisau dan berjalan keluar. Suasana tampak lengang. Ia mengendap keluar, menuju ruang tamu. Lelaki itu, suaminya terlelap di sofa. Rupanya ia tertidur saat menonton televisi.
Perlahan Agnita mendekat dan bersiap menghunuskan pisau tepat ke dadanya lelaki itu. Pandangan wanita itu mengabur, airmata berlinang deras di pipinya. Saatnya mengakhiri penderitaan!
“Selamat tinggal …!” bisiknya lemah.
Ia memejamkan mata saat pisau itu makin mendekat ke dada suamimya. Hingga ….
Suara teriakan anak kecil disusul tangisan dari dalam kamar, menyadarkannya dari khayalan yang menyeramkan. Khayalan untuk membunuh seorang lelaki yang menjadi ayah dari anaknya. Tubuh wanita itu gemetar. Agnita memandang linglung pisau yang dipegangnya, bingung apa yang harus dilakukannya.
Kalau sampai suaminya terbangun, ia akan marah sekali. Benar saja, rupanya ia terganggu dengan teriakan Rangga putra mereka.
“Agni, urus anak itu! Nangis saja kerjaannya.” Suara berat lelaki itu mengagetkannya.
Tergopoh ia meletakkan pisau itu di atas meja dan bergegas menghampiri putranya.
“Kenapa menangis sayang?” bisiknya halus.
“Dasar kamu ya, mengurus anak saja tidak becus. Suruh diam Rangga!” teriaknya marah.
Agni segera mendekap putranya sambil menangis lirih, “ssst jangan menangis Nak, bunda di sini.”Mencoba menenangkan putranya.
Wanita itu menahan semua beban di dadanya sambil menangis. Andai boleh memilih, ia akan memilih mati saat ini juga agar terlepas dari semua penderitaan. Namun, seperti biasa wajah Ranggalah yang membuyarkan niatnya. Seperti saat ini!
***
Semua berawal dari sini. Dari kelukaan hati yang tiada henti. Ia menjadi seorang perempuan yang kuat tetapi luka jiwanya tidak pernah sembuh …
