Perempuan: Antara Rasa dan Logika

Perempuan
Gambar ilustrasi (unsplash/Brooke Cagle)

Perempuan adalah mahluk yang paling rumit. Semua sepakat dengan ungkapan tersebut, kecuali perempuan itu sendiri. Ungkapan lain; perempuan selalu benar, dan lelaki adalah pelaku kesalahan terbanyak dan dinobatkan sebagai mahluk yang kurang peka sama perempuan.

Bahkan, perempuan ibarat cuaca. Sedangkan laki-laki adalah bagian yang senantiasa harus siap sedia di dalam setiap suasana. Panas, hujan, angin, badai, laki-laki harus siap menyesuaikan dirinya.

Banyak yang mengaku bahwa menghadapi mood perempuan adalah hal yang paling sulit dilakukan. Serba salah tepatnya. Namun ternyata ada juga laki-laki yang malah merasa beruntung bisa berdampingan dengan perempuan cerdas dan mampu diajak kerja sama. Ya…, walaupun ini hanya sebagian kecil saja. Sisanya tetap saja kembali lagi, bahwa perempuan itu rumit.

Jika dikategorikan sebagai mahluk yang didominasi rasa, maka beberapa alasan ilmiah memang menunjukkan bahwa memang perempuan adalah mahluk yang perasa. Salah satunya seperti dilansir dalam IDN TIMES tentang alan mengapa perempuan lebih mengutamakan perasaan dibandingkan logika,menurut studi yang dimuat dalam The Open Anatomy Journal tahun 2010, laki-laki cenderung menggunakan satu area kecil di sisi kiri otak, sementara mayoritas perempuan menggunakan area di kedua sisi otak. Perbedaan penggunaan otak ini menyebabkan perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan. Perempuan cenderung lebih baik dalam merasakan pesan emosional dalam percakapan, gerak tubuh, dan ekspresi wajah, dan karenanya lebih sensitif. Sementara, laki-laki cenderung bertindak berdasar fakta dan logika.

Karena didominasi perasaan perempuan seolah kehilangan akal sehatnya. Ketika sudah terlanjur cinta kepada seseorang misal, ia akan menyanggupi apapun demi melakukan yang menurutnya terbaik untuk orang yang dicintainya itu. Bahkan perempuan bisa memiliki kekuatan dan keberanian yang jauh lebih besar daripada laki-laki.

Read More

Perempuan yang sudah menjatuhkan hatinya terlalu dalam, bahkan akan sangat susah diberikan pengertian tentang sesuatu. Misalnya orang yang dicintainya adalah orang yang buruk sekalipun ia akan bersikeras mempertahankan cintanya itu.

Di luar sana banyak terjadi, seorang perempuan rela tidak menikah karena terlanjur sakit hati oleh laki-laki. Rasa sakitnya tidak ada yang bisa mengobati. Sampai-sampai ia menutup pintu hati untuk siapapun. Karena rasa sakitnya itu lah, ia tidak mau menikah.

Ada pula yang benar-benar setia kepada satu lelaki meskipun lelaki itu telah mengkhianati, mengabaikan, dan menelantarkannya.

Ya, ketika perempuan sudah didominasi dengan rasa maka seolah akal sehatnya tidak berfungsi lagi.

Namun sebaliknya, ketika logikanya sudah berjalan, akal sehatnya sudah normal kembali maka jangan heran jika pilihan-pilihan, kebijakan-kebijakan, dan tindakannya malah jauh lebih mantap dan lebih matang daripada apa yang dilakukan oleh laki-laki.

Perempuan akan jauh lebih tega, lebih tegas, lebih kuat, lebih berani bahkan lebih jahat dari apa yang disangkakan. Jika perempuan sudah terluka, terperdaya oleh keadaan, atau sudah menemukan alasan kuat dengan logikanya, maka tidak akan lagi ada keraguan perempuan untuk mengambil sebuah keputusan dan tindakan.

Perempuan-perempuan logis ini malah jauh lebih bisa diandalkan. Berdampingan dengannya baik dalam sebuah teamwork, sebagai teman maupun sebagai pasangan adalah orang yang mampu berpikir lebih kritis, teliti dan sangat berhati-hati karena mampu memberikan perlindungan yang dihasilkan dari berbagai sudut pandang. Ketika laki-laki hanya fokus pada satu hal, maka perempuan akan menggunakan penelaahan mendalam dari berbagai sudut.

Tentunya perempuan ketika mengandalkan logika ia tidak akan merasa takut lagi dalam menghadapi masalah, tidak akan gentar menghadapi dan menyelesaikan kesulitan. Karena mereka percaya bahwa mereka jauh lebih kuat dan hebat dari apa yang diri mereka dan orang lain sangkakan.

Masih mau memukul rata bahwa semua perempuan selalu pakai perasaan?


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *