Ojeg Online

Ojeg Online

Aku adalah seorang pengemudi ojeg online. Profesi ini aku tekuni sejak beberapa bulan lalu karena tuntutan keadaan. Jauh dari orangtua, merantau di ibu kota, kebutuhan makan dan jajan serta trend tongkrongan membuatku harus mencari uang tambahan.

Biaya bulanan yang dikirim oleh orangtua waktu itu gak cukup untuk ikut nongkrong dengan teman kampus. Mereka semua seolah tidak pernah kehabisan uang untuk melakukan semuanya. Mungkin memang mereka dilahirkan mapan semua.

Sedangkan aku, apa yang mau dibanggakan? Isi lemari bajuku saja hanya beberapa lembar pakaian, kuliah pun hanya pakai baju itu-itu saja.

Beruntung, orangtuaku memberikanku motor, itupun dengan maksud untuk menghemat ongkos berangkat dari kostan ke kampus, sekalian biar praktis bepergian dan mudik lebaran. Walaupun sebetulnya orangtuaku berharap aku bisa segera bekerja. Namun apa daya, aku belum menemukan pekerjaan yang bisa menerima karyawan dengan jam kerja yang tidak tentu. Jadwal kuliah masih padat, jadi benar-benar belum bisa mengambil pekerjaan dengan jadwal kerja yang tetap.

Read More

Tepat di jam 12:30 sesaat setelah dosen terakhir menutup perkukiahan, ponsel di sakuku bergetar. Kurogoh saku celana, sebuah orderan di akun ojeg online telah mendarat. Alhamdulillah, rejeki memang tidak pernah kemana.

“Di Pascasarjana ya….” pelanggan di sebrang sana mengirimkan pesan.

“Ok, tunggu ya, Mbak,” jawabku. Secepat mungkin aku menekan tombol shut down di laptopku. Mengakhiri catatan perkuliahan. Sebuah mimpi yang sudah kubangun sejak lama. Cita-cita yang terpaksa aku tunda dengan berbagai alasan yang selalu berusaha aku terima.

“Di mana, Mas? Kok lama?” sang pelanggan rupanya tidak sabar menunggu kedatangnku. Mungkin memang aku terlalu lama, dan bisa saja memang dia buru-buru.

Aku memasukkan laptopku ke ransel. Tidak lupa berpamitan kepada sahabatku sambil lalu. Runi, sahabatku, menepuk pundakku. Menyatakan kebanggaannya, senang memiliki sahabat yang suka berjuang dan pekerja keras.

Ah, ini bukan sebuah kerja keras, hanya sebatas keinginan untuk terus bergerak dan produktif. Gumamku.

Langkah kakiku terburu-buru. Menuruni tangga dari lantai tiga, sampai aku lupa bahwa dari sana aku bisa menggunakan lift. Di depan pintu keluar ponselku berdering. Ini bukan nada pesan, melainkan suara panggilan telepon.

“Hallo, Mas, kok lama. Di mana sih? di Map sudah satu menit lagi sejak tadi lho….”

Terdengar suaranya masih bernada ramah. Dalam hatiku berdoa semoga pelangganku tidak kesal atas keterlambatanku.

“Iya, sebentar, Mbak ya. Tunggu saya ke sana,” jawabku.

Aku menstarter sepeda motorku menuju tempat mbak pelanggan yang telah rela menunggu.

Sampai di pintu gerbang depan, aku melihatnya tersenyum ramah. Seorang perempuan yang aku yakin seusia denganku, mengenakan baju merah tua. Jilbabnya panjang menjulur, membuat dia terlihat jauh lebih anggun dari kebanyakan perempuan yang aku lihat di luaran sana yang kebanyakan berpakaian serba terbuka.

Aku menyapanya, dan dengan ramah ia menjawab, bahwa betul dirinyalah yang telah memintaku datang.

Hatiku rasanya lega, bersyukur pelanggan ini sepertinya tidak kecewa. Aku memberikan helm padanya, ia mengenakannya dengan segera. Merapihkan maskernya, dan naik duduk di belakang punggungku.

“Kuliah juga ya?” tanyanya penuh antusias.

“He he, iya, Mbak,” jawabku jujur.

“Jurusan apa?” tanyanya lagi. Tercium aroma wangi parfumnya mengalahkan wangi bajuku. Padahal tadi sudah aku semprotkan ke baju sebelum menyalakan motor.

“Ah, jangan tahu deh, Mbak. Saya malu,” jawabku.

Sama sekali aku tidak bermaksud membohonginya, tapi itulah kenyataannya. Hari itu aku merasa berat, memberitahukan identitasku yang sebenarnya.

“Lho, kenapa?” lanjutnya “biar kita nanti bisa sharing kan? lagi Tesis juga ya?” perempuan yang ternyata bernama Vina itu mendesakku. Akhirnya aku berterus terang bahwa ”Ya” kini aku sedang menyelesaikan tugas akhirku, seperti dia yang katanya sudah bab IV.

“Aku malu, Mbak. Nanti kan Mbaknya bilang, ‘masa S2 ngojeg’?

’ jawabku diselingi tawa.

“Laaaah, justru aku salut lho,” ujarnya. Aku yakin dia jujur, dan tulus mengatakan itu.

“Aku dulu bekerja, Mbak. Tapi karena terlau terikat waktu, dan tugas-tugasku kemudian terbengkalai, maka aku tanggalkan saja. Sementara ini, ya inilah pekerjaanku.” Dengan mantap dan percaya diri tanpa ragu lagi aku menyampaikan bahwa aku bangga menjadi seorang pengemudi ojeg online.

Banyak yang menyayangkan ketika aku sedang kuliah S2 dan aku malah menjalani profesi ini. Aku pikir, apanya yang salah? Jenjang pendidikanku? Ingin rasanya aku sampaikan kepada mereka yang selalu berkomentar, bahwa dalam memberi rejeki Allah tidak pernah melihat jenjang pendiidkan. Akan tetapi, Allah melihat tingkat ketakwaandan banyaknya ikhtiar dari orang tersebut. Jalani saja dengan ikhlas, maka rejeki itu akan datang dengan sendirinya.

“Sama dong, aku juga dulu bekerja” jawab mbak Vina, “alasan keluar dari pekerjaan pun sama. Ingin lebih konsentrasi dulu kepada kuliah, ini adalah kunci, dan sebuah beban yang berat. Jika sekiranya kuliah menganggu pekerjaan, maka tinggalkan pekerjaan,” ujarnya dengan gelak tawa.

Jujur, aku lega, mendapatkan pelanggan seperti mbak Vina ini. Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan kami bicara panjang lebar. Dari mbak Vina aku banyak belajar bahwa apapun pekerjaannya yang penting halal dan dinikmati. Aku bangga menjadi diriku yang sekarang.

Terima kasih mbak Vin. Semoga Allah mempermudah jalan dan rejeki kita untuk menyelesaikan tugas akhir ini. Semoga lain kali kita bertemu lagi ya! Ngorder lagi, bertemu di kampus, atau mungkin kita bisa wisuda sama-sama. Aamiin.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *