Ilustrasi Pemuka Agama (Sumber: Unsplash/ Raka Dwi Wicaksana)
Kabar duka menyelimuti hari yang ditemani suasana pagi berawan. Salah satu tokoh masyarakat di Desa Indragiri, S.Syamsudin meninggal dunia. Ia menyisakan kenangan, dedikasi, dan nasihat yang menggetarkan hati bagi orang-orang di sekelilingnya.

Beberapa hari ke belakang, saya mendapatkan kabar bahwa tokoh yang saya kagumi di daerah saya mengalami penurunan kondisi kesehatan. Tak dapat dipungkiri, secara usia dan kondisi fisik ia sudah tidak muda lagi. Dalam beberapa kesempatan, ayah saya sering menceritakan kalau ditengah maraknya budaya merantau dan mencari uang ke kota, desa kita masih punya tokoh yang menjadi pembeda di masyarakat.
Tokoh Masyarakat
Salah satu yang berpengaruh adalah Bapak S. Syamsudin. Di usianya yang tak muda lagi, ia adalah salah satu penggerak utama daerah yang semangat dan suaranya selalu menjadi panutan anak muda. Ia kerap disapa dengan sebutan ‘Wa Amil’ karena kabarnya, dulu ia pernah menjadi pekerja di bidang staf pemerintahan di urusan agama.

Ia adalah salah satu tokoh yang paling bersemangat menginginkan perubahan, dan kemajuan. Selain menjadi staf pemerintah di bidang urusan keagamaan, ia adalah seorang tokoh pemuka agama yang dituakan. Kehadirannya sering dimintai nasihat, pandangan dan pendapat baik dalam forum resmi atau sekadar rencana rencana sederhana di bidang sosial masyarakat.
Pemikiran yang Bijak
Karena pemikiran dan pembawaannya yang tenang dan bijak, pertimbangan dan opsi yang ia miliki sering dijadikan acuan oleh banyak orang di sekelilingnya. Bahkan, hingga akhir hayatnya ia masih mendedikasikan dirinya. Beliau masih melibatkan diri dalam acara kepemudaan dan berbaur dengan masyarakat bergotong-royong memperbaiki fasilitas umum.
Satu hal yang selalu saya ingat bahwa ia adalah orang baik dan diteladani banyak orang. Kehidupannya meninggalkan kesan bagi banyak orang, ia adalah salah satu pemuka agama yang telah sepuh dan jauh dari hingar bingar sosial media. Pembawaannya yang teguh, topik ceramah yang mengandung pembahasan yang kehidupan sehari-hari manusia sering membuat pendengarnya mengevaluasi diri.
Sesepuh Desa
Ada satu peristiwa yang akan saya ingat sampai kapan pun saat bertatap muka dengan beliau. Kala itu saya pernah berniat mendirikan komunitas dengan teman-teman saya yang giatnya berupa pemberdayaan desa dengan menghimpun potensi setiap Desa di Kecamatan Panawangan. Langkah awalnya adalah melihat sejarah dan mencatat bagaimana proses desa itu didirikan.
Lantas saya bertanya pada banyak tokoh yang saya anggap akan tahu, semuanya mengarah pada S. Syamsudin (Disapa ‘Wa Amil’). Saat itu saya ingin membuka ingatan Wa Amil tentang bagaimana Indragiri didirikan. Namun saat saya menemuinya saya benar-benar mendapatkan jawaban menohok darinya.
“Wa, menurut kabar yang beredar dan pernah saya dengar, katanya Indragiri ini berpecah ya dulhlunya. Tidak seperti sekarang, Kampung Jotang dan Cilimus benarkah dulu terpisah dengan Legok dan Susuru?” Tanya saya padanya sedikit mendesak karena berbekal rasa penasaran yang besar.
“Wah, kalau mengenai itu Uwa juga gak tahu. Uwa sejak kecil juga cuma dapat ceritanya aja. Mungkin orang lain juga ada yang mengalami fase perpindahan itu, tapi secara detail sejarah tidak ada yang mencatat dan Uwa secara pribadi juga tak tahu.” Jawab Uwa dengan nada yang lemah.
Seketika saya memasang raut kecewa tanpa sadar, karena saya berpikir, kemana lagi saya bertanya sedangkan orang tua di desa yang dianggap paling sepuh juga berkata demikian. Bagaimana saya bisa menulis sejarah desa kalau kuncinya saja saya tidak tahu. Lantas Uwa menjelaskan banyak hal yang terjadi saat dia berusia belia.
Masa lampau Selalu menjadi cerita menarik bagi saya. Kejadian waktu lalu selalu antusias saya dengarkan. Dari mulai sistem politik, ekonomi, sampai sosial.
Kepergian Wa Amil
Sekaramg Wa Amil telah tiada, kebaikannya selalu membekas. Beliau adalah pemimpin yang sekaligus menjadi pemuka agama. Jika pemimpin lain melakukan pendekatan terhadap ulama untuk mengakumulasi pandangan demi keselarasan sosial, beda lagi dengan tokoh yang satu ini.
Wa amil justru mendengarkan warga untuk memutuskan banyak hal. Ia menghimpun suara dan mempertimbangkannya dengan musyawarah yang bijak. Ia semasa hidupnya menampilkan contoh terbaik dengan ibadah dan cara interaksi sosialnya yang istimewa.
Menurut banyak cerita, Wa Amil meninggal karena terkena penyakit jantung setelah mengalami penurunan kesehatan saat selesai shalat subuh pagi hari. Sungguh, jalan Tuhan menjemputnya membuat mata saya berkaca.
“Seseorang akan meninggal di atas kebiasaannya.”
Kalimat itu menjadi sihir bagi saya. Betapa beliau yang berkebiasaan beribadah, berakhir dengan jalan yang istimewa. Lagi sebelumnya, ia diceritakan memimpin doa di pengajian hari sebelumnya sampai menangis tersedu menitipkan pesan pada pendengar bahwa beribadah itu penting karena akhirat bukanlah tujuan hidup yang main-main.
Betapa indah takdir allah untuk menutup kehidupan orang-orang soleh sepertinya. Semoga Wa Amil menjadi ahli surga dan berada diantara orang-orang yang allah muliakan. Selamat jalan Wa, doa terbaik mengiringi kepergianmu sebagai hamba yang soleh.
