Mukena Emak

Mukena Emak

Aku sering menemukan mukena emak yang basah ketika emak selesai solat. Termasuk pagi ini, ketika aku tidak sengaja terbangun karena ingin buang air kecil. Aku tidak sengaja mendengar suara emak menangis sesenggukan ketika lewat kamarnya dan mengintip dari balik gordeng.

Bahu emak berguncang keras dengan kedua tangan menutup muka. Aku tidak pernah tahu persis kenapa emak harus menangis setiap malam. Rupanya memang karena itulah kenapa mukena emak selalu basah.

Jam menunjukkan pukul 03:30 ketika aku kembali dari kamar kecil. Emak tampaknya menyadari keberadaanku.

“Kamu sudah bangun?” teriak emak dari kamarnya.

Read More

“Iya, Mak.”

Aku tergugup lalu bergegas memasuki kamar.

“Kamu mau tidur lagi? Memangnya tidak sayang dengan waktu mustajab ini?” teriak emak lagi.

Aku merenung. Lalu keluar kamar untuk menemui emak kembali. Emak mengagguk sambil tersenyum. Aku sadar itu adalah kode. Langsung saja aku menuju kamar kecil untuk mengambil air wudu karena tadi hanya menyelesaikan keperluan membuang hajat.

**

Hari mulai terang. Sejak selepas solat subuh, emak duduk di kursi butut yang ada di ruang tengah rumah kami. Sebuah sova lusuh dengan busa yang sudah lepek. Kursi ini tidak pernah bisa kami ganti karena tidak punya uang. Jangankan untuk membeli sova, untuk biaya sekolah dan makan saja kata emak kami harus benar-benar berhemat.

Aku melihat mata emak masih sembab, walaupun emak selalu tersenyum tulus padaku.

“Gimana, sudah selesai?” tanya Emak sambil memberikan segelas teh hangat yang pasti dibuat emak ketika aku solat tadi.

“Iya, Mak, lega rasanya,” jawabku jujur.

“Syukurlah.”

Emak tersenyum sambil mengelus pundakku. Sentuhan seorang ibu yang selalu berhasil membuat aku nyaman.

“Emak tadi nangis ya? Kenapa?”

“Kamu ini, pengen tahu urusan Emak sama Allah saja,” jawab emak sambil terkekeh.

“Kok emak sekarang tertawa. Bukannya tadi nangis sampai sesenggukan?”

Aku sengaja menggoda emak biar tambah lagi ketawanya. Selama ini aku sudah terlalu sering melihat emak menangis. Sebagai anak lelaki, aku juga sebenarnya sedih. Ingin sekali segera bisa meringankan beban emak yang selama ini mengais rejeki sendiri, membiayai kehidupan kami, membiayai sekolahku dan memikirkan banyak hal yang aku sendiri tahu emak tidak sekuat yang aku lihat.

Semoga aku lekas bisa membahagiakan emak, batinku.

Emak bergeming tanpa menjawab satu kata pun. Mimik muka emak langsung berubah drastis. Aku gusar merasa bersalah telah mengajukan pertanyaan itu.

“Maaf, Mak…,” bisikku.

Emak menggeleng. Lalu membuka mukena dan dilipatnnya dengan rapi.

“Mukena ini akan tetap menjadi saksi, yang nemenin Emak solat, Emak menangis, Emak mengadu semua hal apapun kepada Allah. Termasuk ketika Emak habis-habisan mendoakan semua kebaikan untuk kamu, Nak,” ujar emak membuatku haru.

Emak lalu berdiri meninggalkanku sendirian. Sambil membawa mukenanya yang sudah sangat lusuh. Bahkan beberapa bintik hitam muncul di sana.

“Apa Emak tidak punya mukena lain?” tanyaku.

Pertayaanku sebenarnya tidak memerlukan jawaban, karena aku sendiri tahu, mukena emak tidak banyak dan mukena itu yang harus selalu emak pakai kalau solat.

“Emak gak punya lagi. Cuma ini yang emak punya. Bapakmu tidak membelikannya dulu. Doakan saja nanti Emak punya rejeki untuk membelinya yang jauh lebih bagus lagi,” teriak emak dari dalam kamar.

“Aku doakan, semoga ada yang beliin Emak mukena banyak-banyak deh!”

“Kenapa doanya begitu?” tanya emak yang tiba-tiba sudah ada di dekatku lagi.

Agar doa Emak untukku makin kenceng, makin banyak. Dan satu lagi…..”

Aku sengaja tidak melanjutkan ucapanku.

“Agar apa?” tanya emak penasaran. dahinya mengernyit bingung.

“Agar ada yang nemenin Emak menghalau beban berat yang selama ini Emak pikul sendiri, Mak. Aku sedih lihat Emak cape terus tiap hari mikirin kehidupan kita. Aku, aku ingin sekali lihat Emak bahagia.”

Emak memelukku erat. Pelukan yang selalu memberiku kekuatan selama ini. Udara pagi yang sejuk berubah hangat dengan pelukan emak.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *