Miko dan Cimi

Miko dan Cimmi

Di sebuah dapur rumah megah milik orang kaya, hiduplah seekor tikus yang rakus. Sebut saja namanya Miko. Setiap hari Miko memakan makanan yang ada di rumah itu dengan lahap. Setiap hari perutnya pun selalu terasa kenyang.

Di bagian lain, di dapur tetangga rumah megah itu, hiduplah tikus kurus bernama Cimi. Ia kekurangan makanan karena pemilik rumah yang ia tinggali bukanlah orang berada. Anak-anak Cimi pun sama kurusnya karena makanan yang mereka dapatkan hanya sedikit. Itupun berupa sisa-sisa makanan yang hanya bisa dimakan sebagian kecil saja oleh para tikus.

Hampir setiap hari Miko berjalan-jalan ke luar rumah dan bertemu dengan Cimi. Jika bertemu, Miko selalu melontarkan hinaan dan cibiran kepada Cimi dan keluarganya.

“Hai tikus miskin, kasihan sekali badanmu kurus kering begitu. Lihatlah badanku yang gemuk. Kenyang dengan makanan bergizi.” Ucap Miko sambil menepuk dada dengan sombongnya.

Read More

Cimi merasa tersinggung. Lalu dia berkata, “Sekarang kamu gemuk. Tapi lihat saja usiamu tak akan lama lagi”

“Mengapa kau berkata begitu? Apakah kau menyumpahiku supaya lekas mati?” Miko tampak begitu marah mendengar perkataan Cimi kepadanya. Cimi hanya tersenyum sambil berlalu meninggalkan Miko.

Dua hari yang lalu, secara tidak sengaja Cimi mendengar percakapan anatara pemilik rumah dan tetangganya pemilik rumah besar itu. Pemilik rumah besar mengeluhkan jika di rumah nya ada tikus besar yang selalu menghabiskan makanan keluarganya. Meraka merasa jijik kepada tikus tersebut dan berencana memelihara kucing  untuk menangkap sang tikus.

“Kasihan sekali kau tikus sombong, sebentar lagi tubuhmu tak akan sesubur itu. Bahkan mungkin nyawamu akan terancam setiap hari”. Gumam Cimi di dalam hatinya.

Keesokan harinya, Cimi bertemu dengan Miko. Tak seperti biasanya, Miko tampak sangat letih kala itu.

“Kenapa tubuh mu tampak sangat letih?” Tanya Cimi.

“Aku tak bisa mengambil makanan di dapur lagi. Setiap hari aku diawasi oleh dua kucing besar kesayangan tuan rumah.” Ungkap Miko dengan wajah yang penuh dengan kesedihan.

“Hahaha… Sebentar lagi badanmu akan kurus kering bahkan lebih kurus dari tubuhku, wahai tikus sombong”. Cimi mencibir dan tak henti-hentinya mentertawakan tetangganya itu. Miko pun berlalu, memasuki rumah kembali berniat mencari makanan. Siapa tahu dua kucing itu kini tak lagi mengawasinya.

Namun baru saja ia masuk melalui lubang kecil yang ada di dapur, ia tertangkap basah oleh kucing penjaga. Tubuhnya dicengkram erat dan akhirnya Miko pun mati menjadi mangsa kucing penjaga.

**

Keesokan harinya, Cimi tidak lagi melihat Miko mondar-mandir di depan rumahnya. Dan hari itu ia tidak lagi mendapatkan ejekan dari Miko. Dengan rasa penasaran, ia pun mencoba mencari tahu. Lalu Cimi memasuki rumah orang kaya tersebut melalui lubang kecil yang ada di dapur pemilik rumah.

Sesampainya di dalam rumah, betapa terkejutnya Cimi melihat seisi dapur begitu banyak dipenuhi makanan. Ternyata dua hari lagi pemilik rumah akan melangsungkan resepsi pernikahan anaknya. Makanan disiapkan untuk menjamu saudara yang datang.

Air liurnya tak terasa menetes melihat hidangan yang begitu banyak. Aroma makanan yang begitu lezat membuat perutnya yang lapar terasa semakin keroncongan. Ia lupa akan bahaya jika tak jauh dari tempatnya berdiam diri ada dua kucing yang sedang mengawasinya.

Dengan mata yang terbelalak dan perut yang lapar, ia mendekati makanan yang terhidang di meja, lalu bermaksud memakannya dan membawanya pulang untuk anak-anaknya.

Baru saja Cimi mendekat, tiba-tiba kucing jantan penjaga telah mencengkram erat tubuhnya. Cimi mengerang kesakitan karena kuku kucing itu melukai tubuhnya. Cimi akhirnya bernasib sama dengan Miko. Mati di tangan kucing penjaga.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *