Di tengah hiruk-pikuk dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, banyak dari kita mengalami kelelahan yang tak hanya bersifat fisik, tetapi juga eksistensial. Dalam video Ngaji Filsafat yang penuh renungan, Dr. Fahruddin Faiz mengajak kita untuk menyelami lapisan terdalam dari kelelahan hidup: krisis identitas, eksistensi, dan spiritualitas. Ia tidak menawarkan solusi instan, melainkan peta pemahaman yang jernih dan reflektif.
Kelelahan hidup bukan sekadar rasa capek karena rutinitas. Ia adalah gejala dari kebingungan yang lebih dalam: tentang siapa kita, untuk apa kita hidup, dan ke mana arah hidup ini. Dr. Faiz mengutip pemikiran Ibnu Miskawayh yang membagi manusia dalam tiga lapisan: jasadiah (identitas), hayat (eksistensi), dan ruh (spiritualitas). Ketika ketiga lapisan ini terguncang, muncullah krisis yang membuat kita merasa hampa dan kehilangan arah.
Lapisan pertama, identitas, berkaitan dengan bagaimana kita melihat diri sendiri dan peran kita di dunia. Di era globalisasi, identitas lokal sering kali tergeser oleh budaya luar yang masuk tanpa filter. Kita menjadi asing terhadap tradisi sendiri, ragu apakah kita benar-benar “Jawa”, “Muslim”, atau “Timur”. Bahkan pertanyaan seperti “Apakah saya orang Indonesia yang kebetulan Muslim, atau Muslim yang kebetulan Indonesia?” mencerminkan kebingungan mendalam yang dialami banyak orang.
Lapisan kedua adalah eksistensi—makna dan tujuan hidup. Ketika seseorang tidak lagi tahu untuk apa ia hidup, atau merasa keberadaannya tidak penting, maka ia sedang mengalami krisis eksistensial. Dunia yang menuntut pencapaian dan kepemilikan sering kali membuat kita lupa bahwa menjadi lebih baik sebagai manusia jauh lebih penting daripada sekadar memiliki lebih banyak. Kita terjebak dalam mentalitas “having” dan melupakan proses “being”.
Lapisan ketiga, spiritualitas, adalah dimensi terdalam yang memberi makna dan arah hidup. Sayangnya, orientasi spiritual kini sering dianggap tidak relevan atau tidak modern. Ketika kita menjauh dari nilai-nilai transenden, kita kehilangan sumber cahaya yang seharusnya menjadi kompas dalam menyusun identitas dan makna hidup. Kekosongan spiritual ini membuat kita merasa hampa, meski secara materi kita mungkin berkecukupan.
Dr. Faiz juga menyoroti akar-akar krisis ini: budaya pencitraan di media sosial yang mendorong kita membangun “fake self” dan “false self”, dominasi teknologi yang membuat manusia merasa tidak lagi istimewa, serta fragmentasi sosial akibat komunikasi digital yang melemahkan keterampilan sosial. Kita semakin terhubung secara virtual, namun semakin terisolasi secara emosional.
Namun di balik semua itu, ada harapan. Istikamah dalam belajar dan berbuat baik adalah pencapaian besar. Ngaji filsafat bukan sekadar memahami teori, tetapi proses pembentukan kualitas diri. Ketika kita mampu konsisten dalam kebaikan, itu berarti kita telah menaklukkan diri sendiri—sebuah pencapaian yang tidak bisa diukur dengan materi.
Esai ini bukan ajakan untuk menjauhi dunia modern, melainkan undangan untuk kembali ke dalam diri. Untuk mengenali siapa kita sebenarnya, apa yang kita perjuangkan, dan bagaimana kita bisa hidup dengan lebih bermakna. Dalam keheningan refleksi, kita mungkin menemukan bahwa kelelahan hidup bukan akhir, melainkan pintu masuk menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan kehidupan.
—
Perenung, tinggal di Kota Cimahi.

Setuju